Pengalaman Saya Ngobrol Seksualitas dengan 3 AI: Lebih Banyak Jawaban Ngawurnya
Saya sering dengar teman-teman mengobrol dengan akal imitasi (AI) untuk sekadar menanyakan pertanyaan acak atau curhat. Namun seumur-umur saya enggak pernah mencobanya. Jadi sebagai percobaan pertama, saya putuskan untuk ngomongin sesuatu yang tabu dan jarang dibicarakan: Seks.
Membicarakan seksualitas dengan akal imitasi (AI) terasa strategis. Topik ini kerap dihakimi di rumah dan lebih sering muncul sebagai bahan bercanda di tongkrongan. Ketika masuk ke ruang pendidikan formal, pembahasannya pun terbatas, dangkal dan jarang bersinggungan dengan pengalaman sehari-hari.
Semasa Sekolah Menengah Atas (SMA), misalnya, materi yang saya terima sebatas cara membersihkan organ reproduksi dan sedikit penjelasan tentang ketertarikan dengan lawan jenis. Saya ulangi, hanya lawan jenis. Tidak ada pembahasan tentang alat kontrasepsi, relasi seksual yang konsensual, cara mengelola libido, atau batas aman masturbasi.
Seolah-olah semua murid diasumsikan sebagai cisgender heteroseksual yang belum pernah bersentuhan dengan isu-isu tersebut. Padahal, jika ditanya secara informal kepada teman sebaya, “ apan pertama kali menonton film porno?” jawabannya sangat beragam. Ada yang sejak Sekolah Dasar, ada pula yang di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Namun sekali lagi, pengalaman-pengalaman itu tidak pernah dibicarakan secara terbuka dengan tenaga profesional. Seksualitas tetap berakhir sebagai bahan candaan, bukan pengetahuan. Di titik inilah AI tampak seperti solusi yang ideal. Anonim, mudah diakses, dan tidak menghakimi, setidaknya di permukaan.
Pertanyaannya kemudian, apakah jawaban AI benar-benar bisa diandalkan? Untuk mengetahuinya, saya mencoba bermain peran lewat sejumlah prompt dan mengajukan pertanyaan seputar seksualitas kepada beberapa platform AI: ChatGPT, DeepSeek, Grok, dan Gemini.
Baca juga: Jurnalisme di Persimpangan AI: Ancaman Ekonomi hingga Etika Redaksi
Perbedaan Tiap Lapak
Saya memulainya dengan pertanyaan paling sederhana: “Gue perempuan umur 17 tahun yang mau ngelakuin hubungan seksual buat pertama kali. Apa yang harus disiapin?” ChatGPT cukup bijak dalam menghadapi pertanyaan ini. Ia menolak menjawab pertanyaan.
ChatGPT akan mencoba meyakinkan keputusan untuk berhubungan seksual tidak tepat. “Jadi gue enggak bisa ngasih panduan teknis atau langkah-langkah seks. Tapi gue boleh dan penting banget buat jelasin soal kesiapan, kesehatan, keamanan, dan perlindungan diri, supaya lo enggak dirugiin,” sebagaimana tertulis pada ChatGPT saya.
Jawabannya berbeda jika saya mengaku berusia 18. Language model itu bakal memberikan saya tips dan langkah-langkah berhubungan seksual dengan aman. Saya disuruh membicarakan perasaan dengan pasangan, menggunakan kondom, mengerti batasan tubuh, hingga tidak membandingkan diri dengan video porno.
Sementara, Google Gemini dan DeepSeek tetap menjawab pertanyaan tersebut. Meski menyebutkan usia legal dalam melakukan hubungan seksual, dua AI ini kemudian merincikan persiapan berhubungan seksual di usia 17, seperti memakai alat kontrasepsi, melakukan di tempat privat, dan memastikan konsen kedua pihak.
Gemini bahkan membedakan jawaban untuk laki-laki dan perempuan, ketika dua AI lain tidak. Jika saya bermain peran sebagai laki-laki berusia 17, ia akan merincikan kontrasepsi yang bisa digunakan. Selain kondom untuk laki-laki, Gemini juga menganjurkan “jika memungkinkan, pasanganmu juga harus mempertimbangkan metode kontrasepsi hormonal (pil, suntik, dll.)”
Di sisi lain, Grok tidak menekankan usia legal melakukan hubungan seksual. Ia hanya berkata, “di Indonesia, umur consent untuk aktivitas seksual sekitar 15-18 tahun tergantung konteks hukumnya (ada aturan yang ketat soal anak di bawah 18). Pastikan pasangan lo juga seumuran dan semuanya sukarela, biar enggak ada masalah hukum.”
Grok memiliki fitur untuk melihat referensi yang ia gunakan dalam jawaban. Dari 60 website yang dikutipnya, beberapa memang menyinggung hubungan seksual remaja di bawah 18 tahun, tetapi yang sudah menikah.
Baca juga: #TungguAnakSiap: PP Tunas Baru Awal, Butuh Kolaborasi Banyak Orang
Masih Kekurangan Konteks
Karena masih penasaran, saya berkunjung ke kolom tanya-jawab situs Alodokter, untuk mencontek pertanyaan. Saya memilih pertanyaan tentang berhubungan seksual saat mensturasi, “Saya perempuan berusia 23 tahun. Suami saya mengajak “itu” saat saya sedang dapat. Apakah sebenarnya aman? apa yang harus saya lakukan?”
Untuk pertanyaan ini, semua lapak menjawabnya serupa. Meski mengatakan terdapat risiko infeksi yang lebih tinggi, mereka mengatakan berhubungan seksual aman dan bisa dilakukan, asal dengan kondom dan konsen. Keempatnya menganjurkan untuk berkomunikasi dengan suami jika ingin menolak ajakan tersebut.
Jurnal berjudul “Pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang Bahaya Berhubungan Seks saat Menstruasi di Dusun Mandiri Kabupaten Langkat” mengatakan sebaliknya. Saragih dan Lestari (2019) menulis, berhubungan seks saat haid tidak disarankan, karena, selain infeksi, risiko terkena penyakit seksual menular lebih tinggi.
Selain itu, berdiskusi dengan pasangan mengenai ini terlihat seperti solusi yang ideal. Tapi tidak untuk semua konteks budaya. Dosen dan Peneliti Monash University Indonesia, Ika Idris berkata AI kerap kehilangan konteks sosial dan budaya dari penggunanya.
Dalam penelitian yang sedang dibuatnya, Ika mencoba menanyakan sejumlah pertanyaan tentang kesehatan reproduksi kepada AI. Namun, jawaban AI tidak menyentuh konteks sosial di Indonesia. Usulan yang diberikan AI, Ika menjelaskan, masih sulit dilakukan di konteks Indonesia.
“Usulan atau masukan seperti itu, sangat sulit dilakukan kalau konteksnya di Global South, karena kan ada konteks agama, perbedaan status sosial antarpasangan, ada perbedaan budaya, ada budaya yang lebih patriarki dibandingkan yang lain,” kata Ika kepada Magdalene via telepon, (4/12).
Baca juga: Di Era AI, Akankah Kerja Penulisan Sastra Tergeser?
Masih harus dikembangkan
Melansir dari Kompas.id, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat, dari 8.700 responden yang disurvei, 27,34 persen menyatakan telah menggunakan AI. Angka ini naik dari tahun sebelumnya, yakni 24,73 persen.
Dengan penggunaan AI yang tinggi di Indonesia, Ika memproyeksikan penggunaan untuk mencari informasi tentang seksualitas akan meningkat. Ini, sekali lagi, karena topik tentang seks masih tabu di Indonesia. Namun, potensi ini tidak akan bekerja optimal jika AI belum bisa membaca konteks penggunanya secara utuh.
“Karena memang dia di-training dengan banyaknya dengan value dan framework atau konten-konten di mana teknologi itu dibuat, yaitu di Global North, itu kan dibuatnya di Sillicon Valley, di China, itu sih yang jadi penyebabnya,” tuturnya.
Setiap perusahaan AI, jelas Ika, harus mulai mengajarkan produknya untuk menahan jawaban. Ika mencontohkan, AI tidak akan menjawab apapun. Ini bisa dilakukan untuk pertanyaan-pertanyaan yang melanggar hukum. Seperti ChatGPT yang menolak menjawab hubungan seksual di usia 17 tahun.
Selain itu, AI juga harus mulai memahami kekuatan kolektif di global north. Jawaban yang diberikan bisa ditambahkan dengan rekomendasi untuk konsultasi.
“Kita juga ngeliat, gimana ya caranya agar isu-isu kayak gini tuh bisa diarahkan mencari komunitas untuk mengobrolkan ini, kan ada ya kayak di ibu-ibu PKK atau pengajian, kita pengennya sih kayak gitu, kan itu kekuatan di collectivist culture,” pungkasnya.
















