January 17, 2020
Nina Si Bule Kampung

Setiap jam 5 pagi, Nina si murid kelas 4 itu kabur dari rumah demi menghindari agar tidak masuk sekolah.

by Mena Oktariyana
Culture // Prose & Poem
Share:

Nina Kasmidi berusia 9 tahun waktu dia divonis dukun mengidap gangguan mental yang disebabkan oleh makhluk halus. Semua berawal di suatu pagi di Desa Tajug. Nina bangun dari tidurnya pada jam 4 pagi, dia mengendap-mengendap untuk keluar dari pintu belakang rumah sambil membawa sarung yang kemudian ia gunakan untuk melindungi dirinya dari dinginnya udara subuh. Dia berjalan pelan menuju kebun salak di belakang rumah. Setelah masuk ke dalam kebun salak yang luasnya tidak seberapa itu, dia mencari spot terbaik untuk duduk. Kemudian dia sembunyi di balik pohon-pohon salak itu sambil menatap bintang-bintang di langit bertemankan sarung dan bau tinja dari got samping kebun.

Dua jam kemudian, terdengar teriakan dari dalam rumah yang berasal dari mulut Meylani, ibu Nina yang berteriak-teriak memanggil putri bungsunya di segala penjuru rumah. Tak ketinggalan Neno, yang ikut mencari adiknya di kolong-kolong tempat tidur, meja, dan kursi. Neno yang sudah bangun kesiangan enggan melanjutkan pencarian adiknya. Ia kemudian memakai sepatu dan berpamitan untuk berangkat sekolah.

Beberapa jam berikutnya, Nina masih belum pulang. Merasa khawatir, Paman, Uak, dan anak-anak mereka yang tinggal di samping rumah ikutan mencari. Kasmidi, bapak Nina, sudah mulai kesal. Gara-gara anak bungsunya itu dia jadi terlambat bekerja sebagai kuli di pasar.

“Ke mana si anak ini?” katanya. “Apa kamu omelin dia semalam sampai kabur begini?” tuduh Kasmidi kepada Meylani.

“Jangan sembarangan kamu kalau ngomong, aku enggak apa-apain itu anak,” Meylani tidak terima.

Beberapa saat kemudian, Solihin, sepupu Nina berteriak dari kebun salak.

“Uak, wak, ini Nina di sini, wak!”

Semua menghambur ke kebun salak. Di sana, Nina tidur pulas beralaskan pelepah pisang, dengan badan terbungkus sarung sambil mengigau, “Aku enggak mau sekolah...aku enggak mau sekolah.”

Mereka mengangkat dan membaringkan Nina di atas kasur. Meylani panik melihat putrinya yang tampak pucat dan kedinginan. Dengan telaten dia mengompres dahi Nina dengan air hangat sambil memijit-mijit kaki dan tangannya. Saat ditanya kenapa dia bisa tidur di kebun salak, Nina hanya menjawab kalau dia tidak mau sekolah.

Setelah kejadian hari itu, Nina jatuh sakit. Badannya panas dan menggigil. Dia juga terus mengigau siang dan malam.

Kasmidi dan Meylani tidak begitu menghiraukan igauan anaknya. Bagi mereka itu hal biasa karena Nina memang sering mengigau saat tidur. Dan urusan dia bisa tidur di kebun, mereka menyimpulkan bahwa hal itu terjadi karena Nina tidur sambil berjalan.

***

Suatu malam, di hari kedua Nina sakit, Meylani datang ke kamarnya untuk mengecek apakah Nina sudah membaik atau belum.

“Sudah turun rupanya panas kamu, besok sekolah, ya Nin,” katanya sambil membolak-balikkan telapak tangan di dahi anaknya. “Udah dua hari kamu enggak masuk, nanti kamu ketinggalan pelajaran.”

Nina terkejut mendengar perkataan ibunya. Bagaimana ini, batinnya. Malam itu pun dia memikirkan seribu satu cara supaya besok dia tidak sekolah. Yang pasti dia tidak akan sembunyi di balik pohon-pohon salak lagi karena sudah ketahuan.

Esoknya, pukul 5 pagi Nina mengendap-endap keluar dari kamarnya sambil membawa sarung kesayangannya. Seperti biasa dia membuka pintu belakang dengan pelan dan berjalan menuju kebun. Kali ini yang jadi sasarannya adalah kebun pisang, yang tidak jauh dari kebun salak. Namun sayang, misinya kali ini ketahuan sama Uak Lastri yang sedang mengambil air wudu di sumur belakang rumahnya. Uak Lastri sampai harus mengambil senter untuk memastikan bahwa yang dilihatnya itu benar si Nina. Dilihatnya si anak itu berjalan menjauh sampai akhirnya menghilang di antara pohon-pohon pisang. Tanpa pikir panjang, Uwak Lastri langsung menerobos masuk ke rumah Kasmidi.

“Kas, Mel, bangun, bangun, Kas, bangun.”

“Lastri! Ngapain kamu di sini?” Kasmidi terkejut bukan main melihat adiknya ada di kamar.

“Lastri! Ngapain kamu?” Meylani juga tak kalah terkejut.

“Itu, loh, anakmu. Si Nina. Ada di kebon pisang.”

“Ah, ngarang kamu. Wis toh, pergi sana lah. Ganggu orang tidur saja.”

Baca juga: Aku Bohong pada Ibu

“Heh, enggak percaya kamu. Aku enggak bohong. Sumpah aku liat anakmu jalan pake sarung ke kebon pisang belakang. Ayok kita lihat ke sana kalau gak percaya.”

Meylani langsung beranjak dari kasur dan pergi mengecek ke kamar Nina. Benar, dia tidak ada di sana.

“Mas, Nina enggak ada di kamar, Mas,” Meylani panik.

Barulah Kasmidi bangun dari ranjang dan langsung mengenakan sarung. Jadilah mereka bertiga pergi ke kebun pisang. Tak ketinggalan si Solihin, anak Wak Lastri, ikut serta.

Nina yang pada saat itu sedang asyik duduk sambil bersender di pohon pisang mendadak terkejut dengan kedatangan empat orang tersebut.

“Nina, ngapain kamu di sini?” Kasmidi yang kesal menarik tangan Nina dengan kasar. “Ayok pulang, ngapain kamu planga plongo di kebon sendirian, hah?” Kasmidi memukul pantat Nina berulang kali sampai anak itu menangis.

“Tuh kan apa aku bilang. Coba kalau kita tadi enggak cepet-cepet ke sini, bisa dibawa lelembut nih anak,” ceplos Lastri.

Di dalam rumah, Nina bak penjahat yang sedang diinterogasi oleh aparat. Dia ditanya ini itu sambil dipukul dan dicubit oleh Bapaknya. Sial bagi Nina, dia punya seorang Bapak yang berperangai kasar dan suka main tangan seperti Kasmidi. Sepanjang interogasi berlangsung, Nina tidak juga buka suara perihal apa yang membuat dia dua kali lari dan sembunyi di kebun. Meylani mendorong Kasmidi sampai jatuh ke tanah, tak tahan dia melihat kelakuan suaminya yang kasar terhadap anaknya.

“Sudah sinting kamu ya, bisanya main pukul saja sama anak,” Meylani menarik Nina ke pelukannya.

“Kamu juga enggak becus, manjain dia terus sampai-sampai kelakuannya kayak gini. Kabur-kaburan, sembunyi di kebon.”

“Kan kamu bisa tanya dia baik-baik, enggak perlu main pukul.”

“Terserah kamu lah.”

Uak Lastri yang merasa ikut terseret dalam kasus ini pun mulai memberi saran kepada Kasmidi.

“Kas, apa enggak sebaiknya kamu datangin Ki Jarwo ke rumah,” bisiknya. “Aku punya perasaan enggak enak soal anakmu ini. Dia kok kayaknya ketempelan sesuatu Kas. Tadi saja di kebon pisang aku lihat ada pocong nyender di belakang anakmu.”

“Ah yang bener kamu?”

“Heh, mana ada anak normal tiba-tiba kabur-kaburan dan sembunyi di kebon?”

Kasmidi hanya mendengarkan perkataan si Lastri.

***

Keesokan harinya, Kasmidi, Meylani, dan Neno sengaja bangun pagi sekali untuk berjaga-jaga dan memastikan kalau-kalau Nina kabur lagi. Ternyata benar, tepat pukul 5 pagi, Nina keluar dari kamarnya. Namun kali ini dia tidak pergi lewat pintu belakang melainkan pintu depan. Dia sudah tidak bisa lagi sembunyi di kebun salak maupun kebun pisang. Opsi terakhir adalah pergi ke rumah Uak Sumin yang tinggal di Desa Karangasem, yang jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Namun dia tidak peduli, yang ada di otak Nina saat itu adalah dia harus pergi dari rumah, dan sembunyi di rumah Uak Sumin, yang dirasa paling baik di antara uak-uak yang ia punya.

Baru saja Nina keluar dari kamar, ibunya sudah mencegahnya.

“Nina! Mau ke mana kamu, nak?” Meylani yang perasa tak bisa menahan tangis, dengan cepat dia merangkul Nina. “Kamu kenapa? Mau ke mana? Cerita sama Ibu kamu kenapa? Apa yang dirasa?”

Nina ikut menangis.

“Aku enggak mau sekolah, enggak mau sekolah,” ulangnya sambil terisak.

Kali ini Kasmidi yakin memang ada yang tidak beres dengan anak bungsunya itu.

Pagi itu juga, Ki Jarwo datang ke rumah dengan membawa kemenyan dan sesajen, dan melakukan segala rupa ritual yang ia butuhkan untuk mengusir makhluk halus yang bersarang di tubuh Nina.

“Anakmu ini ada yang ngikutin, ketempelan kalau aku bilang. Pesenku cuma satu, malam ini siapin saja sesajen berupa nasi, lauk pauk, kembang tujuh rupa, sama kopi hitam di kamar anakmu sama di kebon belakang rumah. Abis itu tak jamin anakmu gak bakal diganggu lagi,” kata Ki Jarwo.

Baca juga: Antara BH, Drakor, dan Jemuran Kos

“Oh iya, satu lagi, kalau sesajen di kamar anakmu itu sudah dimakan sama si penunggu, cepat-cepat kau mandikan si Nina ini sama kembang tujuh rupa.”

Malam itu Nina terbangun dengan mata sembab, badan lemas, dan perut keroncongan. Energinya terasa terkuras akibat menangis sepanjang hari. Melihat ada nasi beserta lauk pauk di meja kamarnya, tanpa pikir panjang dia langsung memakannya. Sesudah melahap makanan sampai bersih tak tersisa, Nina meneguk kopi hitam. Kenyang sudah perutnya, dia pun kembali tidur.

Paginya, Kasmidi dan Meylina mengecek ke kamar Nina. Betapa terkejutnya mereka melihat sesajen itu sudah ludes dan hanya menyisakan kembang tujuh rupa saja.

“Tuh, bener kan Ma, anak kita ini ketempelan. Sesajennya sudah ludes dimakan sama jin,” kata Kasmidi mencoba meyakinkan istrinya, yang tidak percaya kalau anaknya ketempelan makhluk halus.

“Sekarang siapin air kembang tujuh rupa buat mandi Nina.”

Meylani merasa bingung dan tidak yakin, namun dia mengikuti perintah Kasmidi.             

Setelah dimandikan dengan air kembang tujuh rupa, Nina dibiarkan istirahat di kamarnya sampai dia kembali normal. Beberapa saat kemudian, Neno diam-diam masuk ke kamar adiknya. Gadis yang enam tahun lebih tua dari adiknya itu duduk di tepi ranjang sambil menatap Nina dengan saksama.

“Nin, kamu tuh kenapa sih sebenernya?”

Nina bangun dan duduk menatap kakaknya. Tak lama kemudian, dia menangis sambil berkata, “Aku enggak mau sekolah, takut.”

“Kenapa? Ada apa di sekolah?”

“Pokoknya aku enggak mau sekolah, mbak.”

“Iya, tapi kenapa? Ada yang nakalin? Siapa?”

“Yoto,” kata Nina sambil terus menangis.

“Yoto? Dia ngapain kamu?”

“Dia ngatain aku bule masuk kampung.”

“Ya ampun. Ya sudah, nanti aku kasih tahu Bapak.”

***

Kasmidi mengayuh sepeda ontelnya ke arah sekolah Nina. Dia marah karena anak-anak ingusan teman Nina membuat dia harus membayar mahal Ki Jarwo. Sesampainya di sekolah, dia membanting sepeda tua itu ke tanah, dan langsung berjalan cepat ke dalam kantor guru.

Kepada Wali Kelas 4, Bu Nanik, dia menjelaskan dengan emosi kenapa Nina tidak mau sekolah selama hampir seminggu. Kasmidi tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, Nina harus mau masuk sekolah lagi. Ia meminta Bu Nanik menindak tegas teman-teman Nina yang mengolok-olok anaknya sebagai bule kampung.

Bu Nanik menyanggupinya.

“Yo wis, Pak. Nanti siang saya ke rumah Bapak untuk membujuk Nina. Urusan si Yoto dan teman-temannya, biar saya urus.”

Hari itu juga Bu Nanik langsung mengumpulkan anak-anak kelas 4 dan menginterogasi mereka. Semua mengaku ikut-ikutan dan disuruh Yoto.

“Kenapa kamu diam saja, Yoto? Kenapa kamu ngata-ngatain Nina bule masuk kampung?”

“Kita cuma ikut-ikutan sinetron Bule Masuk Kampung, Bu,” jawab Yoto dengan entengnya. “Nina kan putih, kayak bule, mirip yang di sinetron itu.”

Bu Nanik hanya bisa geleng-geleng kepala.

Sepulang sekolah, Bu Nanik, Yoto, dan lima anak lainnya datang ke rumah Nina untuk meminta maaf dan meminta dia untuk kembali sekolah besok pagi.

Nina memang berkulit putih dan berambut pirang. Dia memiliki kelainan kulit albinisme, atau albino atau, benar-benar putih. Dia mengalami kelainan kulit yang biasa disebut albinisme sejak lahir. Ya, Nina adalah seorang gadis albino. Dokter bilang kulitnya hanya menghasilkan sedikit melanin pigmen yang membuat kulit dan rambutnya seputih susu dengan mata kebiru-biruan. Ibunya selalu percaya, lambat laun Nina bisa diterima dengan baik oleh teman-teman sekolahnya. Nina pun demikian, dengan semangat yang diberikan oleh ibunya, hari demi hari, tahun demi tahun dia melenggang percaya diri ke sekolah.

Sampai suatu hari, sinetron Bule Kampung itu datang ke dalam kehidupannya. Lagu Bule Masuk Kampung yang menjadi soundtrack sinetron tersebut sering dikumandangkan oleh orang-orang sekampung, tidak terkecuali oleh Yoto dan teman-temannya.

Mena Oktariyana adalah sarjana Sastra Inggris. Senang bergelut dengan isu budaya, gender, dan rasialisme. Ia menulis untuk mengubah dunia.