November 19, 2019
Aku Bohong pada Ibu

Aku bohong pada Ibu tentang kekerasan-kekerasan seksual yang terjadi padaku.

by A. Fatimah Hardianti
Culture // Prose & Poem
Share:

Selepas salat subuh, Ibu mengirimkan pesan. Ia membukanya dengan mengucap salam. Kemudian Ibu bilang, “Nak, tidak usah ikut demo.” Kubalas dengan emotikon tertawa, peluk, dan cium. Ibu terlihat mengetik dan melanjutkan nasihatnya, “Hari ini tidak ada kuliah kan? Jadi tidak usah ke mana-mana. Jalanan macet.” Kubalas, “Iya, Bu.”

Pukul 11.00, Dini mengirimkan pesan, “Kutunggu di Masjid Kampus”. Aku mengetik, “Ok!”. Aku sedang di kamar kos, masih bingung memilih kalimat yang pas untuk selembar karton putih berukuran A3 yang dibagikan Dini semalam.

“DPR melindungi anggotanya yang Cabul.”

“Korban di penjara, pelaku leha-leha.

Ataukah sama seperti yang dikatakan teman-teman lainnya, “I don’t need sex anymore because the government fucks me everyday”.

***

Hari ini aku ikut demonstrasi, tidak patuh pada kata Ibu. Dengar-dengar kali ini banyak massa yang bisa dikumpulkan, mengalahkan demo Hardiknas kemarin. Teman-teman melangkahkan kakinya dengan lebar, tidak sabar untuk sampai di depan Gedung DPR yang masih 8 kilometer lagi. Sempat kubilang pada Dini, bagaimana kalau kita naik motor saja ke masjid terdekat DPR, biar tidak perlu jalan kaki lebih jauh, dan kalau ingin pulang tinggal ambil motor di parkiran masjid. Tapi Dini menolak, katanya itu disebut solo karier. Kalau ingin memperjuangkan kesejahteraan bersama, maka harus melangkah bersama-sama, lari pun juga harus sama-sama.

Aku tidak begitu paham segala tuntutan ini. Hanya satu yang kumengerti dan itu cukup menuntunku kemari. Mungkin suaraku terlalu kecil dan tak akan dihitung dalam aksi ini. Tapi aku juga ingin berteriak, meminta hakku, meminta keberanian yang harusnya kumiliki, dan berharap rasa malu pada diriku lenyap.

***

Aku tidak pernah berbohong pada ibu, aku hanya tidak menceritakan segalanya. Ibu tidak tahu, ketika ia bermalam di kamar kos, dan kami berdua tidur lelap dan akhirnya aku terlambat kuliah, Bapak Dosen melecehkanku di depan ruangan. Dosen itu bilang, “Pasti Om-nya puas, deh, semalam, sampai kamu capek ketiduran”. Meski tidak kugubris, ia melanjutkan omongannya kepadaku yang sibuk mencari bangku yang kosong, “Sini duduk di pangkuan Bapak saja”. Beberapa dosen mungkin saja menganggap bahwa bebas bercanda soal cinta dan seksualitas dapat mencairkan suasana ruang kelas, sampai tidak sadar telah melecehkan mahasiswinya dan merendahkan dirinya sendiri.

Suatu hari di depan ruang kuliah, sambil menunggu dosen, seorang staf kampus yang sering bercanda dengan kami mahasiswa berjalan di belakangku. Aku yang sebelumnya tertawa dengan teman-temanku seketika diam. Aku lemas dan langsung duduk di samping temanku. Jantungku berdegup kencang dan mataku terus melotot, pikiranku beku. Teman-temanku yang ikut terkejut heran melihat senyum staf itu masih ada di bawah kumisnya tanpa bersalah setelah ia meremas pantatku.

Baca juga: Gea dan Ranting Pohon Kemenyan

Pernah sebelum magrib, saat Ibu menelepon memastikan keberadaanku, dia kaget dan bertanya, “Kenapa?”, ketika mendengar isakan yang masih tersisa dan tidak bisa kubendung. Aku hanya bilang drama Korea yang baru saja kutonton telah berakhir, dan akhir kisahnya sangat menyedihkan. Aku tidak memberi tahu ibu, bahwa seorang teman kampusku telah meneriakiku “lonte” karena memakai lipstik merah yang Ibu berikan. Tapi puncak kesedihanku waktu itu adalah ketika aku sedang latihan menari bersama teman lainnya, beberapa lelaki dari jauh bersiul dan bersorak mengikuti gerakan tubuh kami. Seakan kami para biduan yang bergerak sesuai hasrat seksual mereka. Aku sangat terhina dipelototi seperti sedang telanjang.

Aku berada di sini bukan hanya untuk menguatkan diriku. Aku telah menceritakan kisah Reni mantan teman kosku kepada Ibu, yang membuat Ibu memintaku secepat mungkin angkat kaki rumah kos. Malam hari Reni terbangun dan mendapati seorang laki-laki masuk melewati jendela kamarnya. Ia ingin berteriak, tapi pisau yang dipegang laki-laki itu 5 sentimeter lagi mengiris lehernya. Laki-laki itu meminta Reni bangun dan duduk di kasurnya yang pendek. Kemudian di kamar kos Reni yang gelap, laki-laki itu dengan cepat membuka ritsleting celananya.

Tangis Reni terdengar ketika kulewati kamarnya di pagi hari sebelum berangkat kuliah. Cukup satu panggilan, ia langsung membuka pintu. Kutanya kenapa, tapi ia hanya terus menangis, menunduk dan menyembunyikan wajahnya di depan lutut yang ia tekuk. Hampir satu jam sejak kututup pintu kamar Reni, menunggunya berhenti menangis. Dia ceritakan segalanya sedikit demi sedikit di antara isakan tangisnya dan masih menyembunyikan wajahnya. Reni bilang ia jijik, berharap tidak pernah merasa lapar karena takut mulutnya akan merasakan hal yang sama.

Hari itu juga aku menemani Reni pindah rumah kos. Kuceritakan kisah itu pada Ibu, keesokan harinya aku menyusul Reni, mengisi kamar kosong di samping kamar kos barunya.

Ibu sempat bilang, kembali saja ke rumah adiknya, Tante Sumi, di sana akan ada yang melindungi. Bagaimana bisa aku kembali sementara Tante Sumi sendiri yang memintaku pergi. Meski beliau tidak benar-benar menginginkannya. Seminggu sekali ditanyainya kabarku. Sebulan sekali setelah suaminya gajian, beliau mengunjungiku membawa sekantong makanan dan diselipnya uang ratusan ribu setiap aku menyalaminya.

Baca juga: Antara BH, Drakor, dan Jemuran Kos

Tante Sumi tidak ingin aku muak, dan akhirnya menceritakan kepada Ibu betapa suaminya begitu ringan tangan pada Tante Sumi. Berulang kali, ketika aku terbangun di tengah malam menuju dapur untuk mengambil air minum, kudapati Tante Sumi menangis di kursi meja makan. Aku selalu berpura-pura tidak melihat hidungnya yang merah dan aliran air mata yang membekas di pipinya yang belum ia sapu. Kuanggap ini urusan tuan rumah atau orang dewasa, dan aku tak perlu bertanya ada apa. Tapi Tante Sumi nyatanya menganggapku pantas mendengar kisahnya yang selalu ia akhiri dengan mengatakan “tidak apa-apa”.

Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Ibu ketika tahu kisahku lebih buruk dari Reni. Sudah dua tahun aku pacaran dengan Sholeh. Teman satu tingkat sefakultas yang alim pada awalnya. Tentu aku tidak memberitahukan hal ini pada Ibu.

Aku senang setiap kali Sholeh mencium keningku, kujadikan itu batas untuk hasratnya dan tidak bisa lebih. Sampai di suatu hari yang masih terang, di kamar kosku, ia mencium keningku, bibirku dan tidak lama tangannya sudah hampir meraba seluruh tubuhku. Aku masih sadar dan masih mampu melepas genggamannya yang semakin kencang. Kubilang jangan, tapi ia malah marah, menunjukkan rasa kecewa, mempertanyakan perasaanku padanya dan akhirnya ia pun mengatakan putus.  

***

Akhirnya aku bohong pada Ibu. Jika tidak, Ibu akan bertanya mengapa, menggali lebih dalam, dan aku harus jujur. Konsekuensinya, mungkin Ibu membawaku pulang kampung meski menungguku sarjana adalah impiannya, dan Ibu akan melarangku keluar rumah sambil mencarikan pria yang tidak akan menutupi dosaku.

Kemarin kusalahkan diriku atas apa yang telah terjadi. Sholeh selalu mendatangiku dan memintanya lagi. Kali ini bukan alasan putus, ia mengancam akan memberitahukannya pada semua orang sampai terdengar di telinga Ibu.

Aku takut. Orang lain mengendalikanku. Tubuhku bukan milikku lagi. Semua orang akan mencibirku, memandangku seperti lonte. Lalu Ibu, dengan ini aku telah membunuhnya. Dunia telah menolakku, kadang kurasa aku telah mati.

Tapi dua minggu yang lalu, ketika tanpa sengaja aku bertemu Dini, kutahu setidaknya apa yang kubutuhkan. Dini mengajakku ikut memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya sudah dipenuhi banyak orang yang pandangannya mengarah pada tiga orang di atas panggung kecil.

Mereka memberikan harapan, bahwa tidak akan ada lagi orang yang dengan enteng melecehkan. Mereka memberi harapan tak ada lagi relasi kuasa yang disalahgunakan. Mereka memberi harapan bahwa aku tidak akan lagi menjadi budak seks. Mereka memberi harapan, bahwa aku bisa pulih dari ketakutan. Mereka memberi harapan bahwa semua korban bisa mendapat perlindungan. Mereka memberi dukungan kepada korban untuk menjadi penyintas. Mereka memberi harapan bahwa para pemerkosa dan sejenisnya akan mendapat ganjaran.

Kubuka tas ranselku, kuambil lipstik merah pemberian Ibu, dan kutulisi selembar karton putih berukuran A3 itu dengan kalimat, “Sahkan RUU P-KS!”.

A. Fatimah Hardianti lahir dan besar di Makassar. Latar belakang pendidikan mengharuskan ia fokus menjadi teknokrat, namun pengalaman organisasi membuatnya menggilai urusan lingkungan hidup, kesetaraan, dan keadilan bagi seluruh umat manusia.