January, 06 2015
'No Comment': Bagaimana Merespon Tragedi Publik dengan Bertanggung Jawab

Seperti tragedi publik lain yang baru-baru ini terjadi, kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 menunjukkan ketidakpekaan dan sifat vulgar media dan masyarakat umum.

by Merlyna Lim
Issues // Politics and Society
Share:
Bayangkan suatu ketika Anda sedang menonton televisi, pada saat berita menyiarkan kabar hilangnya sebuah pesawat penerbangan. Anda tidak menyadari bahwa di antara penumpang pesawat nahas itu ada orang tersayang, sampai beberapa menit kemudian Anda melihat sebuah nama yang tidak asing dalam daftar nama penumpang.

Tiba-tiba rasanya seperti udara hilang dari dalam tubuh. Mati rasa. Jantung berhenti berdetak. Aliran darah terasa dingin. Semua terjadi secara bersamaan. Ungkapan-ungkapan klise yang dulunya Anda pikir hanya ada dalam cerita fiksi berubah menjadi kenyataan. Lebih buruk lagi, di menit-menit, jam-jam, dan hari-hari berikutnya, layar televisi yang sama akan selalu memutar tragedi tersebut berulang-ulang, adegan per adegan, sedikit demi sedikit, seperti sebuah mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.

Sebagian besar dari Anda mungkin tidak pernah mengalami apa yang baru saja saya tulis di atas. Meskipun rangkaian kecelakaan penerbangan terjadi baru-baru ini, statistik menunjukan bahwa kemungkinan terbunuh dalam kecelakaan pesawat masih sangat rendah. Saya tidak sedang membayangkan, tapi itulah yang saya rasakan 17,5 tahun yang lalu pada Juli 1997 ketika salah satu teman saya tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Bukan seorang “teman” yang didefinisikan oleh algoritma media sosial masa kini.

Dia adalah seorang sahabat. Kami menghabiskan ribuan jam bekerja dan bermain bersama di sebuah organisasi mahasiswa semasa kuliah, dan jika kami bekerja sampai larut, dia selalu mengantarkan saya pulang dengan mobilnya. Terkadang, kami terjebak dalam kegilaan sampai benar-benar larut malam, sehingga saya sering menginap di tempatnya (rumah orang tuanya), tidur di satu tempat tidur yang sama dengannya. Seperti teman saya yang lain, dia juga memanggil saya Garfield. Ya, mereka pikir saya punya tampang jahil, suka sekali tidur, dan punya sepasang mata mengantuk, seperti Garfield si kucing. Berusia beberapa tahun lebih tua dari saya, saya menganggap dia seperti kakak.

Beberapa hari sebelum kecelakaan, saya mengirimnya sebuah surat elektronik, “Mbak, saya dengar kamu mau pulang. Ketemuan yuk?” Surat itu menghilang di udara, dan tentu saja tidak pernah dibalas.



Kehilangan seseorang yang kita sayangi selalu berat. Namun akan terasa lebih berat ketika mereka tewas dalam kecelakaan tragis dan dramatis seperti kecelakaan pesawat. Kini, dengan begitu banyaknya media elektronik yang menayangkan berita sepanjang waktu, duka dan kehilangan pribadi dilibatkan ke dalam kompleksitas, banalitas, dan sifat eksploitatif  reportase media.

Tujuh belas tahun yang lalu, saluran TV bukan saja belum sebanyak dan seagresif sekarang, tapi saya hanya tinggal mematikannya. Belum ada media sosial tentunya. Saya tidak menonton video, tidak ada gambar “mengerikan”, tidak ada cerita yang “sensasional”. Meskipun demikian, kehilangan seseorang seperti ini sangat berat, menyakitkan dan seperti mimpi. Dan sampai sekarang masih berat.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya berada di antara anggota keluarga dan sahabat dari korban kecelakaan AirAsia QZ8501 yang baru-baru ini terjadi. Media elektronik menjadi liar terhadap kecelakaan itu; memberitakannya seolah-olah itu adalah acara realita bukannya tragedi.

Media sosial tidak ada bedanya. Liputan media pada umumnya dan media sosial (serta komentar-komentarnya) bervariasi mulai dari ketidak sensitifan (menampilkan jenazah), aneh (mengatakan bahwa kecelakaan pesawat merupakan “kutukan”), ilmiah semu (peta geospasial yang tidak akurat dan tidak berguna), konspiratif (bahwa kecelakaan tersebut merupakan bagian dari operasi gelap), berambisi jadi kritikus (dengan cepat mengatakan ada yang salah di sana sini), palsu (memasang/mengedarkan foto palsu), kasar (merayakan kematian “orang kafir”), dan bodoh (berspekulasi bahwa sistem metrik telah menenggelamkan pesawat).

Di mana letak etika? Di mana tanggung jawab individu? Di mana rasa hormat? Di mana empati? Di mana kepekaan?

Kematian fatal seperti ini bukan film Hollywood yang bisa diramalkan memiliki akhir yang bahagia. Ini bukan opera sabun. Ini tragedi menyangkut umat manusia yang nyata seperti Anda dan saya. Orangtua, suami, istri, kekasih, anak, kerabat, dan teman yang benar-benar kehilangan, yang benar-benra memiliki perasaan, yang dihadapkan pada kenyataan, duka yang mendalam.

Di EuroNews ada sebuah program berjudul “No Comment”, yang sangat saya sukai. Pada lamannya dikatakan “Kami percaya pada kecerdasan penonton kami dan kami rasa misi dari sebuah siaran berita adalah untuk menyampaikan fakta tanpa adanya opini atau prasangka, sehingga penonton bisa membangun opini mereka sendiri terhadap peristiwa-peristiwa dunia.”

Mungkin media kita dan diri kita, pengguna sosial media, harus belajar untuk sama sekali tidak mengatakan apapun, “no comment”.
 
*Tulisan ini diterbitkan di blog milik Merlyna dan diterjemahkan oleh Mulki Salam.

Merlyna Lim adalah seorang akademisi yang punya terlalu banyak hobi non-keilmuan. Dia bukan filsuf, tapi dia menikmati berpikir secara filosofis sambil melakukan hal-hal sederhana seperti minum kopi, mencuci piring atau menggoreng tempe.