Women Lead
October 29, 2021

Pacaran dengan Anak Mama, Mending Lanjut atau Sudahi?

Menjalin hubungan dengan anak mama punya konsekuensi besar, terutama dari sisi emosional. Ini yang perlu dipertimbangkan jika tetap melanjutkan hubungan.

by Diane Hadi
Lifestyle // Madge PCR
Share:

“Aduh, bener kata lu ya, pacaran sama mama’s boy itu kompleks dan menguras emosi.”

Pesan itu dikirim oleh salah seorang teman saya yang terdengar sudah frustrasi seraya meratapi nasib kami yang serupa. Kami menjalin relasi dengan jenis laki-laki yang sering mendapat kode red flag, yakni mama’s boy atau anak mama.

Dalam budaya Asia, kedekatan orang tua, terutama ibu dengan anak lebih sering dianggap positif karena kebanyakan orang tua menerapkan pola pengasuhan proksimal alias lebih mengutamakan kedekatan dan kontak fisik dengan anak yang dibangun dalam jangka waktu lama. Alhasil, kedekatan ibu-anak laki-laki yang terlalu berlebih sering kali tidak dianggap masalah, padahal ini bisa jadi bumerang ketika anak sudah dewasa dan menjalin relasi dengan orang lain. 

Dalam reality show I Love Mama’s Boy yang tayang di TLC misalnya, digambarkan bagaimana kedekatan antara ibu dan anak laki-laki yang berlebihan justru menghilangkan batasan dan menyebabkan ibu lebih controlling pilihan sang anak. Akibatnya, ia menjadi sulit untuk menjalani kehidupan baru dengan pasangannya walau sudah menginjak usia dewasa. 

Meski dibalut dengan drama dan konflik berlebihan, serta sang ibu terlalu digambarkan sebagai “evil mother”, reality show ini cukup berhasil menyentil dengan menyoroti bagaimana kedekatan berlebihan antara ibu dan anak laki-laki bisa jadi petaka bagi siapa saja. 

Posisi Ibu yang Dominan dan Konsekuensinya

Selain masalah pembatasan dan kontrol, ada juga konsekuensi tidak terlihat tentang bagaimana peran ibu berpengaruh signifikan terhadap kepribadian sang anak.

Dalam kasus saya misalnya, pada tahun pertama pacaran, saya awalnya tidak sadar bahwa pasangan merupakan mama’s boy. Saya mengira intensitas komunikasi ibu dan pasangan yang cukup sering itu adalah hal yang wajar. Namun, pada tahun kedua kami berelasi dan kami mulai membicarakan ke jenjang lebih serius, saya melihat kecenderungan pasangan yang sulit mengambil keputusan besar dan berisiko. 

Di sisi lain, ibunya justru punya karakter yang dominan, berani, serta lebih tegas dalam mengambil keputusan dan risiko. Tak jarang ibunya lebih bisa meyakinkan saya tentang keputusan seperti apa yang sebaiknya kami ambil untuk hubungan kami. Hal itu juga yang membuat saya percaya bahwa peran ibunya yang cukup dominan secara tidak langsung juga berpengaruh pada kepribadian pasangan saya yang lebih sering mengalah dan cenderung sulit menolak permintaan orang lain atau people pleasure

Dalam artikel bertajuk "Married to Mama's Boys: Make Great Friends, Bad Husbands" yang dimuat oleh Psychology Today, disebutkan bahwa sulitnya mama’s boy mengambil keputusan juga tidak lepas dari ketergantungan validasi emosional dari sang ibu. Anak yang punya kedekatan semacam ini akan selalu mencari cara agar tidak melakukan konfrontasi dengan keinginan sang ibu, termasuk terus menerus mengalah. Dari sana pula, anak menjadi tidak terbiasa untuk mengambil keputusan besar atau bahkan ragu, karena terbiasa “diintervensi” oleh ibunya. 

Tak hanya keputusan dalam memilih pasangan, sikap menghindari konfrontasi dalam diri pasangan juga saya rasakan dalam masalah finansial. Karena sang ibu lebih dominan, ia menjadi lebih banyak mengatur masa depan anak, mulai dari pekerjaan sampai investasi. Pasangan saya akan cenderung menerima saran dan tawaran dari sang ibu, tanpa betul-betul memikirkan apakah hal itu benar-benar hal yang ingin ia lakukan atau tidak. Mungkin ini masih sebatas asumsi, tapi siapa yang tahu bahwa ternyata kebiasaan menghindari konfrontasi semacam ini yang membuat orang jadi people pleasure

Dilema punya pasangan mama’s boy juga akan semakin pelik ketika kita justru punya kehidupan yang berbanding terbalik dengannya. Misalnya, kita sudah terbiasa hidup mandiri dan tidak punya kedekatan emosional dengan keluarga, kemudian harus berkompromi dengan ibu pasangan yang ternyata dominan. Hal ini bisa memicu konflik yang membuat kita emosional, sehingga kesehatan mental kita pun terpengaruhi. 

Jika sudah begitu, sebetulnya ada dua pilihan yang bisa dilakukan: Putus karena tidak mau menanggung berbagai konsekuensinya, atau tetap lanjut dengan catatan kita harus terbuka pada pasangan tentang apa yang kita rasakan, dan dia harus mau berkompromi untuk mengatur batasan dengan ibunya. Jika pasanganmu ternyata tidak mau berkompromi dan selalu menganggap ibunya lah yang benar, ini bukan tanda yang baik untuk mempertahankan hubungan. 

Yang Bisa Dilakukan Jika Tetap Lanjutkan Hubungan

Beberapa orang tetap memilih melanjutkan hubungan dengan mama’s boy, entah karena pasangannya memang layak dipertahankan, atau mungkin sudah siap dengan konsekuensinya. Dikutip dari penelitian bertajuk "Mama's Boy: One Type of Identity Negotiated in Mother-Son Relationships" dari Dartmouth College, berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan ketika kamu sudah mantap untuk tetap melanjutkan hubungan dengan mama’s boy

1. Bicaralah terbuka dengan pasangan 

Jika memang hubunganmu dengan pasangan terjalin dengan sehat, seharusnya ia tidak akan keberatan jika diajak berbicara secara terbuka tentang apa yang kamu rasakan terkait hubungannya dengan sang ibu, atau mungkin terkait isu kepribadian lain yang bisa mempengaruhi cara kalian menyelesaikan masalah di masa depan. Diskusikanlah masalah ini secara terbuka agar ia tahu bahwa kamu tidak akan mengorbankan perasaan atau kesehatan mental hanya karena memutuskan hidup dengannya. 

Cobalah berbicara dengan tenang, jangan sampai kamu terkesan membenci ibunya. Padahal, kamu hanya ingin menegaskan posisimu jika kelak kalian berumah tangga. 

2. Atur batasan

Mengatur batasan dengan orang tua sering kali dianggap tabu. Bahkan, sebagian anak disebut durhaka dan tidak tahu diri jika melakukannya. Padahal kenyataannya, penting untuk kamu tetap membangun batasan dengan orang tua, apalagi bila kamu sudah mau menjalani kehidupan baru dengan pasangan. 

Batasan ini juga lebih baik dibicarakan dari awal, baik dengan pasangan maupun ibunya, agar jelas dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Kamu bisa membahas misalnya masalah tempat tinggal, masalah keuangan, hingga masalah membesarkan anak jika sudah berumah tangga kelak. 

3. Tetap hargai posisi ibu pasangan

Mengatur batasan tentu berbeda dengan menjauhkan pasangan dari ibunya. Kita tetap harus menghargai posisi ibunya dan jika memungkinkan, coba untuk mengenalinya lebih baik lagi. Mungkin ada alasan di balik sikapnya yang seperti itu dalam membesarkan anak-anak.

Dalam kasus teman saya misalnya, setelah ditelusuri, ternyata ibu dari pasangannya merupakan tulang punggung keluarga, sehingga dari dulu selalu berusaha “menjaga” anaknya dengan ketat. 

4. Jangan mengubah dirimu hanya untuk “diterima”

Kamu mungkin tidak ingin berakhir menjadi people pleaser dengan selalu mengalah dan berkompromi. Jangan ragu menolak jika memang pilihan-pilihan yang ditawarkan ternyata membuatmu tidak nyaman. Kamu tidak melulu harus berkata “ya” pada setiap hal yang diminta ibunya, yang sebenarnya memberatkanmu. Kamu juga tidak harus mengubah dirimu yang sesungguhnya hanya untuk dapat validasi dari orang lain. 

Diane Hadi adalah buruh tulis yang berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca dan baking.