August 30, 2016
Pakaian Seksi Bukan Berarti Seks

Sensualitas merupakan cara perempuan mengekspresikan diri bukan sebagai penanda bahwa mereka adalah kelompok yang hanya dapat menonjolkan sisi seks saja.

by Citra Amelia Rachmadani
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Seorang teman dekat saya menuliskan sebuah komentar mengenai gaya menggambar salah satu ilustrator Indonesia dengan men-tag nama saya di dalamnya. Ilustrasi itu memperlihatkan perempuan bertelanjang dada. Sebagai seseorang yang suka menggambar ilustrasi, saya merasa karyanya erotis, autentik dan orisinal. Namun teks di bawah gambar itu membuat saya terhenyak.
 
“Bagi para pria yang suka mengirimkan pesan pribadi berisi foto kemaluannya atau bertanya apakah saya suka melakukan seks, hiperseks, “halo, phone seks yuk atau chat seks” jangan buang-buang waktu kalian dengan hal  seperti di atas.”
 
Teks dari sang ilustrator tersebut mengingatkan saya pada beberapa kejadian yang saya alami. Beberapa waktu yang lalu, saya aktif melakukan latihan fisik di pusat kebugaran (baca artikel saya tentang budaya gym). Setiap kali selesai latihan, saya mengambil beberapa foto untuk diunggah di akun instagram saya. Hal ini saya lakukan seminggu sekali untuk melihat sejauh mana perubahan bentuk tubuh saya selama latihan.
 
Namun sayangnya, ada beberapa laki-laki yang mengirim pesan pribadi dan mengajak saya untuk berhubungan intim. Beberapa teman laki-laki juga sering melontarkan candaan, “Duh, seksinya!. Kita bisa jadi teman tidur satu malam, kan?”.
 
Kejadian lainnya yang tak kalah membuat saya geram adalah ketika saya memutuskan untuk berkencan dengan seorang kenalan laki-laki. Malam itu saya mengenakan kemeja hitam dengan pola rusa dan stud di kerah, serta celana kain berwarna hitam sepanjang mata kaki. Pakaian yang cukup formal untuk sebuah kencan, menyesuaikan dengan teman kencan saya yang teramat sangat formal. Kami kemudian memutuskan untuk berkencan di sebuah vila di kawasan Batu. Kami melakukan hubungan intim di kencan kedua kami tersebut dan kami masih sering berkencan setelahnya.




Lalu pada suatu waktu saya memutuskan untuk berpakaian yang lebih sesuai dengan kepribadian saya pada kencan ke sekian kami. Malam itu saya mengenakan celana pendek bermotif bunga dan kaos longgar berwarna abu-abu. Sekali lagi, kami melakukan hubungan intim, namun ada yang berbeda setelahnya.
 
“Lain kali kamu pakai pakaian yang sopan, yah. Aku nggak mau sampai kebablasan begini karena lihat kamu pakai baju yang terlalu provokatif,” ujarnya. Sejak itu saya memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi.
 
Cara saya berpakaian bukanlah untuk menarik perhatian kalian, laki-laki. Dengan memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh, saya tidak sedang memasang label “Silakan! Kalian bisa tidur denganku kapan saja tanpa ada ikatan apa pun.” Seperti yang saya tulis sebelumnya, hubungan intim pertama dengan teman kencan saya terjadi pada saat saya berpakaian formal. Jelas, bukan cara berpakaian saya yang membuat kami melakukan hubungan intim tetapi libido yang merangsang kami melakukan itu.
 
Selain itu, saya suka berfoto setelah melakukan latihan fisik dengan memperlihatkan perut dan bagian tubuh lain dengan alasan yang cukup masuk akal: ingin melihat sejauh apa perubahan bentuk tubuh setelah latihan. Perubahan bentuk tubuh, munculnya otot serta menyusutnya lingkar tubuh menjadi tolak ukur keberhasilan latihan saya. Itulah cara saya mengagumi dan menghargai kerja keras saya di pusat kebugaran, bukan mencari perhatian atau persetujuan dari laki-laki.
 
Perempuan berhak merasa bebas atas tubuh dan hasrat seksual mereka. Kebanyakan perempuan, terutama di Indonesia, masih memegang teguh paham bahwa perempuan yang terlalu mengumbar aurat menjadikan perempuan memiliki nilai yang murah di mata laki-laki.
 
Bagi saya, perempuan tidak perlu merasa malu mengekspresikan diri mereka dengan berdandan sesuka hati dan berpakaian sesuai karakter dan kepribadian mereka. Perempuan juga tidak perlu segan mengutarakan keinginan dan keengganannya untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki. Gender tidak membatasi diri untuk mengekspresikan jati diri kita di ruang publik.

Menggambar ilustrasi erotis tidak menjadikan kami seorang hiperseksual; berfoto seksi tidak membuat perempuan dengan mudahnya bisa tidur dengan laki-laki mana pun; berbicara seks di media sosial tidak membuat kami gila dan haus akan seks. Sensualitas merupakan cara perempuan mengekspresikan diri, bukan sebagai penanda bahwa mereka adalah kelompok yang hanya dapat menonjolkan sisi seks saja.
 
Untuk perempuan, jangan segan untuk berkata tidak jika kalian enggan berhubungan intim dengan laki-laki yang tidak kalian suka, atau lebih buruk lagi, laki-laki asing yang kalian kenal dari media sosial atau situs kencan daring. Berpakaianlah sesuka kalian. Jangan terkungkung dalam anggapan bahwa perempuan sensual adalah wanita yang murahan. Sensualitas tidak hanya terbatas pada vagina dan besarnya buah dada, sensualitas adalah bentuk ekspresi diri seorang perempuan. Tubuhmu otoritasmu.
 
Citra Amelia Rachmadani adalah seorang INFP berusia 24 tahun yang suka berbagi pengetahuan dengan orang lain, penyuka musik independen, gemar menggambar dan latihan beban.  Twitter: @ctramelia