September 11, 2019
Pasangan dalam Film yang Tak Seharusnya Jadi #CoupleGoals

Pasangan-pasangan dalam film ini menjadi #CoupleGoals banyak orang tapi sesungguhnya hubungan mereka toxic. #Spoilers

by Shafira Amalia, Reporter
Culture // Screen Raves
Become Abuser_Toxic_Abusive_Relationship_SarahArifin
Share:

Hubungan memang tidak selamanya indah, tetapi banyak sekali hubungan-hubungan dalam serial televisi atau film yang menggambarkan hubungan yang sangat tidak sehat namun masih diromantisasi. Hasilnya banyak orang yang mempertahankan hubungan yang tidak sehat karena melihat panutan di layar mereka. Berikut adalah pasangan-pasangan di film layar lebar maupun serial televisi yang bikin kamu mendesah “awww” tapi sebetulnya cringey.

1. Summer Finn dan Tom Hansen dari 500 Days of Summer

Summer dan Tom ini memiliki sebuah dinamika hubungan yang rumit. Saat saya remaja dan enggak mengerti soal percintaan, mereka terlihat cute namun hubungannya membingungkan dan membosankan. Saat saya sudah cukup dewasa, saya kembali menonton film ini dan saya semakin bingung, mengapa selama ini orang menganggap Summer dan Tom adalah #CoupleGoals, atau bahkan menyalahkan Summer?

Film ini dibuat dari sudut pandang Tom, seorang karakter yang mudah untuk disukai. Mengapa tidak? Dia memesona, relatable dan tipikal protagonis laki-laki baik. Summer digambarkan sebagai tipikal karakter perempuan impian Tom yang pintar dan asyik, dan itu tidak salah. Salahnya adalah, Tom mulai terobsesi dengan gambaran itu; bukan Summer yang sebenarnya tetapi Summer yang ada di pikirannya.

Summer dan Tom di film 500 Days of Summer

Saat Summer mengakhiri hubungannya dengan Tom karena ia tidak percaya dengan “cinta sejati” sementara Tom sangat percaya, Tom tidak menerimanya. Karenanya, penonton jadi digiring untuk ikut membenci Summer dan sebagian jadi termakan oleh gambaran Summer yang “jahat” karena Tom sudah berjuang untuknya namun ia mengecewakan Tom tanpa alasan yang jelas.

Padahal sebenarnya kalau kita bertanya kepada diri sendiri, kalau ada seseorang yang baik kepada kita tetapi seperti berharap kita mengikuti semua ekspektasi dia terhadap kita, kita juga akan menjadi Summer.

2. Maddy Perez dan Nate Jacobs dari Euphoria

Penulis Euphoria ingin mengangkat isu hubungan yang abusive dan berhasil. Karena realitasnya, banyak orang yang memang memutuskan untuk bertahan di dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Banyak alasan di balik keputusan itu, namun dalam kasus Maddy dan Nate, mereka berdua saling menyayangi tetapi masih belum mengerti cara memproses perasaan dan masalah mereka masing-masing. Ditambah Nate yang terpapar oleh kekerasan dan sifat yang dingin dari bapaknya, satu-satunya cara yang ia tahu untuk memproses perasaannya--terutama amarahnya--adalah dengan kekerasan.

Maddy dan Nate di Euphoria

Tetapi Maddy juga abusive dengan caranya sendiri, yang lebih implisit. Maddy juga manipulatif. Ia tahu bahwa Nate tidak akan pernah meninggalkannya, maka ia melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dari Nate. Keduanya bisa disalahkan di dalam hubungan mereka yang tidak sehat ini karena keduanya memiliki sifat yang toxic.

Serial HBO ini juga menunjukkan bahwa pasangan itu mengerti bahwa hubungan mereka tidak sehat, tetapi keduanya terus memperjuangkannya. Serial ini juga menunjukkan alasan-alasan di balik sifat-sifat mereka yang manipulatif dan abusive ini. Mungkin untuk menunjukkan perkembangan karakternya, namun juga bisa diinterpretasi oleh beberapa orang sebagai sebuah justifikasi.

Apa pun yang terjadi, kalau hubungan kita sudah terasa tidak sehat dan kita merasa lebih sedih atau terbebani daripada bahagia, ini adalah sebuah tanda bahwa kita harus mengakhirinya. Alasan cinta, kenyamanan atau terbiasa dengan pasangan bukanlah sebuah alasan untuk bertahan di hubungan yang tidak lagi membuat kita bahagia.

3. Ted Moseby dan Robin Scherbatsky dari How I Met Your Mother

Sebenarnya banyak pasangan yang problematik di dalam serial televisi ini, tetapi yang paling mengganggu adalah Ted dan Robinnya sendiri. Ted bertemu Robin di sebuah bar dan mengajaknya kenalan karena Robin pas dengan kriteria perempuan idamannya. Tetapi, pada kencan pertamanya, Ted mengaku mencintai Robin. Menurut Robin, Ted menyatakan cintanya terlalu cepat sehingga memutuskan untuk menjadi teman saja.

Selama serial televisi ini berjalan hingga sembilan musim, Robin dan Ted melalui banyak sekali hubungan dengan orang lain yang berbeda-beda. Bahkan, Ted pernah hampir menikah dan Robin sudah menikah dengan teman mereka, Barney Stinson. Barney dan Robin juga sebuah hubungan yang problematik, tetapi hanya berlangsung sebentar, sehingga tidak menjadi hubungan yang paling bermasalah di serial televisi ini.

Robin dan Ted di How I Met Your Mother 

Ted tidak pernah move on dari Robin, setiap perempuan yang ia jadikan pasangan pada akhirnya dibandingkan dengan Robin. Akhir dari serial televisi ini juga membuat banyak penggemarnya kecewa karena pada akhirnya Ted kembali pada Robin. Hubungannya yang putus-nyambung seperti ini sangatlah tidak sehat. Ketertarikan Robin kepada Ted yang muncul-timbul juga sebenarnya sangat toxic. Obsesi Ted dengan Robin yang membuatnya tidak bisa tulus menyayangi orang lain juga tidak benar. Semua ini menunjukkan banyak sekali toxic traits tapi, lagi-lagi, diromantisasi.

4. Hannah Baker dan Clay Jensen dari 13 Reasons Why (Season 1)

Banyak yang shipping Hannah dengan Clay karena mereka terlihat sebagai pasangan yang sangat cocok. Mereka juga memiliki chemistry yang cukup baik karena mereka berdua adalah tipikal girl-next-door dan guy-next-door. Namun, sebenarnya, hubungan Hannah dan Clay juga tidak sehat karena munculnya kecenderungan obsesi.

Clay dari awal menyukai Hannah, tetapi Hannah hanya ingin berteman dengan Clay. Sama seperti banyak film lainnya, protagonis utama ini diberikan sebuah sifat tipikal “laki-laki baik” atau Nice Guy Syndrome. Apakah itu? Tipe laki-laki yang merasa mereka berhak untuK mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seseorang hanya karena mereka memperlihatkan basic human decency. Sifat ini sebenarnya sering muncul kepada pasangan karakter dengan dinamika friendzone.

Hannah dan Clay di 13 Reasons Why (Season 1)

Hannah hanya memperlakukan Clay dengan baik karena berharap bisa berteman dengannya, tetapi Clay tidak bisa menerima fakta itu karena ia berharap lebih. Bahkan, ketika Hanna ketahuan telah berciuman dengan beberapa laki-laki lainnya, Clay marah karena merasa dikhianati oleh Hannah. Padahal Hannah tidak pernah berkomitmen dengannya, tapi Clay terobsesi dengannya. Nice Guy Syndrome ini membuatnya percaya bahwa dengan memperlakukan Hannah dengan baik, seharusnya dia yang mendapatkan Hannah, bukan laki-laki lain.

5. Allie dan Noah dari The Notebook

Salah satu romantisisasi hubungan yang paling berbahaya adalah Allie dan Noah dari film The Notebook. Hubungan yang sangat tidak sehat ini dikemas begitu manis dan romantis dengan kedua aktor yang menarik dan chemistry yang baik, sehingga mampu meyakinkan penonton bahwa inilah sebuah contoh hubungan yang baik.

Dulu, pada saat saya masih lebih muda dan naif, saya juga termakan gambaran indah dari hubungan ini. Saya selalu merasa ingin “dikejar” seperti Noah memperjuangkan Allie, tetapi sekarang saya melihat sifat Noah secara lebih realistis: bahwa Noah adalah seseorang yang terobsesi, angkuh dan tidak menerima penolakan dengan baik.

Allie dan Noah di The Notebook

Sebenarnya dari awal mereka bertemu saja Noah seperti memaksa Allie untuk mau berkenalan dan setuju untuk berkencan dengannya. Bahkan pada saat ia menolak, ia terus bersikeras. Padahal kita semua tahu, no means no.

Akhirnya Noah berhasil untuk mendapatkan persetujuan dari Allie karena ia mengancam untuk menjatuhkan diri dari wahana kincir angin. Sudah tidak bisa menghargai keputusan Allie, ia juga manipulatif. Iya, semua perbuatan hebat dari Noah yang selama ini kita dambakan sebenarnya adalah paksaan, pelecehan dan manipulasi perasaan.

Bahkan, setelah mereka sudah secara resmi pacaran pun, Noah terus-terusan berargumentasi tetapi dikemas seakan-akan ini semua terjadi karena mereka berdua sangat mencintai. Padahal, mereka berdua sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara dewasa, jelas dan tidak saling menyakiti.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Shafira Amalia merupakan lulusan Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Demi memenuhi hasrat dan kegemarannya dalam menulis, Shafira mengalihkan mimpinya dari menjadi diplomat ke menjadi reporter. Menurut Shafira, berjuang menghancurkan patriarki tak kalah menariknya dengan cita-cita dia bertemu dengan Billie Eilish.

Follow Instagram Shafira di @sapphire.dust.