October 30, 2019
Perempuan yang Timbul Tenggelam dalam Narasi Peralihan Rezim

Sebuah kolektif perempuan penulis menelusuri sejarah Reformasi dari sudut pandang perempuan di berbagai daerah.

by Raisa Kamila
Issues // Politics and Society
Share:

Saya mengingat hari-hari menjelang pengunduran diri Soeharto sebagai presiden selama tiga dekade secara samar-samar. Saat itu, saya berusia sekitar tujuh tahun, sedang melipat kain jemuran bersama kakak perempuan serta ibu saya, sambil menyaksikan Soeharto membaca pidato di televisi. Kami diam menyimak, tanpa tanggapan, mungkin karena ada banyak kain jemuran yang harus dilipat untuk kemudian disetrika. Saya masih terlalu kecil untuk paham apa yang sedang terjadi di luar kota kelahiran saya, Banda Aceh, apalagi membayangkan apa yang kemudian akan terjadi setelah pidato pengunduran diri itu dibacakan.

Ibu saya lahir pada Februari 1965. Sejak berusia kurang dari dua tahun hingga ia lulus kuliah, menikah, dan berkeluarga dengan tiga anak yang merepotkan, Ibu hanya mengenal satu presiden saja. Sebelum menikah, ia punya beberapa hobi, di antaranya membaca buku-buku puisi dan mengoleksi prangko. Sebagai pengoleksi prangko, Ibu menyimpan setiap edisi prangko yang diterbitkan oleh PT Pos Indonesia, yang sialnya lebih sering mencetak gambar Soeharto dengan pose sama, hanya bervariasi warna latar.

Menjelang usia remaja, saya menemukan tumpukan album koleksi prangko milik Ibu yang berisi Soeharto dan hanya Soeharto. Seketika saya teringat pada hari ketika kami melipat kain jemuran di depan televisi: Apa yang kira-kira terlintas di benak Ibu saat melihat satu-satunya presiden yang ia tahu seumur hidup akhirnya tidak lagi berkuasa?

Sebagai anak-anak, kata “reformasi” saat itu nyaris tidak bermakna apa-apa. Namun, menjelang usia remaja, pelan-pelan saya mulai paham bagaimana kata itu menjadi semacam sandi untuk berbagai teka-teki masa kecil: Teman-teman bersuku Jawa yang mendadak pindah ke luar kota, hari-hari libur sekolah selain hari Minggu, perjalanan darat ke Medan saat tidak sedang libur panjang, foto presiden di ruang kelas yang berganti-ganti, jumlah provinsi yang berubah-ubah… dan banyak lagi perubahan dalam semesta kecil yang saya huni, yang ternyata adalah bagian dari perubahan semesta yang jauh lebih besar di luar sana.

Menjelang usia yang lebih dewasa, saya memahami bahwa “reformasi” adalah kata sandi untuk berbagai teka-teki yang jauh lebih rumit dan jawabannya bahkan tidak cukup diurai dalam satu atau dua laporan berita. Reformasi telah membawa beragam perubahan pada kehidupan banyak orang di Indonesia, mulai dari keseharian di rumah-rumah atau jalanan, gesekan-gesekan yang terjadi dalam pergulatan kepentingan berbagai pihak, hingga bagaimana cara sebagian orang justru memperoleh keuntungan dengan menguatnya sistem demokrasi.

Ada berbagai penelitian, film, novel, cerita pendek, lagu, dan puisi yang ditulis mengenai hari-hari menjelang dan sesudah “reformasi”, dengan latar di luar kota kelahiran saya, seperti Jakarta, Solo, dan Yogyakarta. Kadang-kadang, saat sinisme saya sedang kumat, pertanyaan semacam, “Mengapa catatan yang ada hanya sekitar tempat dan kejadian yang itu-itu melulu? Apakah kejadian di tempat-tempat lain pada periode yang sama tidak cukup penting?” terlontar begitu saja dalam pikiran saya. Dan saat sedang merasa agak tenang, pertanyaan itu berubah dengan kadar sinisme sedikit berkurang, menjadi, “Kenapa, ya, sulit menemukan catatan mengenai kejadian di tempat-tempat lain pada periode yang sama? Bagaimana sebaiknya kejadian-kejadian itu dicatat?” Pertanyaan ini mengendap lama dan tidak pernah benar-benar saya pikirkan jawabannya.

Baca juga: Bongkar: Siasat Feminis dalam Seni dan Budaya di Indonesia

Melacak ingatan perempuan

Pada suatu sore, secara agak tidak sengaja, saya terlibat obrolan daring dengan Amanatia Junda, perempuan asal Sidoarjo yang saya kenal saat kuliah di Yogyakarta. Ia mengajak saya untuk mengikuti seleksi penerima Hibah Cipta Media Ekspresi 2018, tapi belum yakin dengan apa yang bisa kami tawarkan. Obrolan sore itu memancing saya untuk kembali mempertanyakan cerita-cerita yang selama ini masih tercecer mengenai perubahan sosial dalam masa transisi Reformasi. 

Setelah itu semua terasa cepat. Kami mencari kawan-kawan perempuan lain yang kira-kira tertarik untuk melacak ingatan perempuan dalam periode transisi Reformasi dan menulis cerita pendek berdasarkan apa pun dan siapa pun yang berhasil kami temui. Melalui proses yang agak acak dan sembarangan, saya dan Amanatia membuat grup WhatsApp, dengan menyertakan Ruhaeni Intan, Ratih Fernandez, Arma Dhany, dan Tuty Ariela, yang sebelumnya baru kami kenal masing-masing lewat pertemuan sekilas atau kabar saja. Salah satu pertimbangan saat mengajak kawan-kawan ini adalah latar belakang daerah asal yang majemuk, selain pengalaman dalam organisasi dan kepenulisan. 

Melalui grup WhatsApp, kami mulai membahas kemungkinan-kemungkinan cerita dari tempat asal kami: Aceh, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Kami juga menyusun kesepakatan kerja, mengumpulkan literatur pendukung untuk satu sama lain, dan berkomitmen untuk mengerjakan proyek eksperimental bersama-sama, dengan atau tanpa dukungan dana dari pihak Hibah Cipta Media Ekspresi.

Ternyata nasib baik sedang bersama kami hingga kami terpilih sebagai salah satu penerima hibah tersebut. Ruang obrolan daring yang awalnya bernama “emerging writers (amin)” pun harus mencari nama lain yang terdengar lebih serius. Kami putuskan untuk merintis kolektif dengan kesempatan dan kemewahan yang kami punya, bernama Perkawanan Perempuan Menulis. 

Meskipun sama-sama pernah belajar menulis secara informal di berbagai tempat, saat bertemu langsung untuk pertama kali di Yogyakarta pada pertengahan Juli 2018, kami menyadari bahwa kolektif ini merupakan ruang belajar menulis oleh dan untuk perempuan yang pertama kali pernah kami ikuti. Pertemuan yang seharusnya lebih berfokus pada tema dan metode kerja kepenulisan justru menghasilkan perbincangan mengenai kendala dan keterbatasan yang kami hadapi sebagai perempuan penulis pemula.

Kendala dan keterbatasan tersebut termasuk sulitnya akses bacaan dan publikasi karya, beban domestik yang masih melekat dalam rutinitas perempuan, dan anggapan bahwa perempuan hanya bisa menulis isu-isu picisan. Kalaupun menulis isu “berbobot” hampir pasti berada di bawah tuntunan atau pengaruh penulis lelaki yang lebih mapan.

Ini belum termasuk bagaimana mengangkat tema-tema rural versus urban, asumsi ibukota sebagai pusat wacana, hingga narasi mengenai kanon sastra dan elite kebudayaan dominan. Sedikit-banyak, kami menyimpulkan bahwa hal-hal tersebut berkontribusi sebagai kendala eksternal dalam upaya menciptakan iklim yang aman dan sehat bagi kerja-kerja kepenulisan perempuan, terutama yang berasal dari luar Jakarta. Melalui kolektif yang kami rintis, kami ingin menciptakan ruang untuk belajar menulis dan berbagi pengetahuan, yang sekaligus menjadi semacam lingkar dukungan untuk tumbuh bersama-sama.

Perempuan-perempuan (sering kali tanpa nama) hadir dalam narasi sejarah sebagai tumbal, terutama dalam pergantian rezim.

Perempuan dalam narasi sejarah dan sastra

Bagi kami berenam, pertimbangan untuk menelusuri ingatan dan pengalaman perempuan menjadi pijakan penting untuk melihat Reformasi. Narasi sejarah yang beredar secara institusional di Indonesia hampir selalu memaknai berbagai era dari perspektif dan keterlibatan laki-laki dalam berbagai momentum.

Sejak periode “Kebangkitan Nasional”, Kemerdekaan, revolusi fisik, kudeta 1965, dan seterusnya, sosok perempuan lebih sering hadir sebagai pelengkap. Sebagai pendiri sekolah putri seperti R.A. Kartini, penyiar radio seperti Ktut Tantri, penjahit bendera merah putih seperti Fatmawati, putri yang menjadi tameng ayahnya seperti Ade Irma Suryani, dan pendamping kepala negara seperti Siti Hartinah alias Ibu Tien. 

Di luar itu, perempuan-perempuan (sering kali tanpa nama) hadir dalam narasi sejarah sebagai tumbal, terutama dalam pergantian rezim. Pada masa kependudukan Jepang, perempuan-perempuan dijadikan budak seks. Di tengah ketegangan mempertahankan kemerdekaan, perempuan-perempuan berdarah campuran menjadi sasaran amuk dan pemerkosaan.

Kejahatan ini kembali terulang pada perempuan-perempuan yang menjadi anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan dekat dengan PKI pada 1965, lalu pada perempuan-perempuan Tionghoa pada 1998. Sampai kapan kita akan mengamini adagium George Santayana, filsuf asal Spanyol, bahwa, “mereka yang mengabaikan masa lalu akan dikutuk untuk terus mengulanginya”?

Masa transisi Reformasi kami tandai dari rentang 1998 hingga 2004, yakni dari “lengser”-nya Soeharto hingga pemilihan umum demokratis yang pertama kali diselenggarakan. Periode ini adalah masa terjadinya rentetan konflik di berbagai daerah seperti Aceh, Ambon, Banyuwangi, dan Poso, untuk menyebut beberapa. Di sisi lain, periode ini juga menandai fase ketika perempuan mulai lebih berani menyuarakan pandangannya melalui karya-karya sastra.   

Dalam disertasinya yang bertajuk “Re-Imagining the Archipelago: The Nation in Post-Suharto Indonesian Women’s Fiction”, dosen dan peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Manneke Budiman menyatakan momentum Reformasi sebagai titik tolak demokratisasi di Indonesia, selain sebagai “fase yang menentukan” bagi sejarah kontemporer sastra Indonesia, ketika beragam karya para penulis muda secara tegas menunjukkan jarak dari norma estetik yang dibentuk oleh keadaan sosio-politik Orde Baru.

Oleh Manneke, novel Saman karya Ayu Utami dihadirkan sebagai penanda kebebasan berekspresi, yang juga memperkenalkan bahasa baru untuk menceritakan perspektif, pengalaman, tubuh, dan seksualitas perempuan. Setelah Saman, banyak nama baru penulis perempuan muncul dengan karya-karya yang juga “mendobrak tabu”. Manneke menyetujui bahwa semangat baru tampak dalam karya banyak penulis perempuan, berbanding lurus dengan aktivisme politik perempuan saat itu.

Wening Udasmoro, dalam diskusi bertajuk “Per(EMPU)an dan Sastra” di Balai Bahasa Yogyakarta akhir April lalu, menyebutkan bahwa pada paruh awal periode Reformasi terjadi begitu banyak krisis di daerah-daerah yang berdampak pada vakumnya kekuasaan. Perempuan yang sebelumnya terkekang dibiarkan bebas, termasuk untuk menuliskan apa pun.

Hadirlah kemudian apa yang tampak sebagai dua ekstrem yang sebelumnya sama-sama tidak diinginkan oleh rezim Orde Baru: Forum Lingkar Pena yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa, dengan kecenderungan narasi perempuan Muslim taat, dan kemunculan perempuan-perempuan yang dilabeli sebagai “penulis Sastra Wangi” karena cenderung menuliskan narasi tubuh dan seksualitas perempuan.

Baca juga: Lasminingrat Lawan Perjodohan di Tatar Sunda Lewat Sastra

Dalam bayangan kami, keadaan hari ini adalah bentuk yang lebih ekstrem daripada saat itu. Di satu sisi, kesadaran perempuan terhadap kesetaraan yang mengakar dari prinsip-prinsip feminisme semakin menguat, sementara, di sisi yang berbeda, penolakan terhadap gagasan kesetaraan dan partisipasi perempuan dalam praktik ekstremisme serta konservatisme agama juga semakin meluas. 

Bagi kami, situasi ini menciptakan kebutuhan untuk mencatat Reformasi dari sudut pandang perempuan, baik yang berada di dalam, di luar, maupun di antara dua kutub tersebut. Berbeda dengan disiplin sejarah yang sepenuhnya bersandar pada tahapan metode riset ilmiah, sastra menyediakan ruang untuk bermain-main dan memaknai masa lalu tanpa melulu terikat pada wacana akademik atau agenda advokasi tertentu.

Dengan segala keterbatasan pengetahuan, waktu, dan ruang gerak, pencatatan itu kami usahakan melalui penelusuran ingatan perempuan, penggalian tumpukan arsip mengenai macam-macam peristiwa, dan pelacakan tentang bagaimana perempuan hadir, mengalami, terlibat, bertanya, menggugat, dan bergerak hingga menghancurkan batas-batas kelaziman yang telah dikonstruksi oleh budaya patriarki. Berbekal pengalaman menulis dengan titik berangkat yang berbeda-beda, kami mengolah berbagai bahan tersebut menjadi narasi-narasi yang menawarkan keragaman suara perempuan sekitar awal Reformasi. 

Proses panjang di balik cerita pendek

Kami berenam—saya, Tuty, Ratih, Natia, Dhany, dan Intan—mengadakan dua kali lokakarya latihan (lokalatih) di Yogyakarta. Yang pertama pada pertengahan Juli 2018, dengan pemateri Abdul Wahid dari Departemen Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada; Anna Mariana, peneliti independen mengenai sejarah perempuan; dan penulis A.S. Laksana. Dalam waktu tiga hari, kami belajar dan berdiskusi dengan masing-masing pemateri mengenai sejarah Indonesia modern-kontemporer, metode riset berbasis arsip dan sejarah lisan, serta ragam strategi naratif dalam penulisan kreatif. Inilah bekal kami dalam memulai perjalanan riset, baik di badan arsip, perpustakaan, maupun di kampung halaman.

Lokalatih kedua diadakan pada awal Desember 2018 untuk memperbincangkan pengalaman dan temuan yang ada, juga cara menyiasati sekaligus mengolah materi tanpa terjebak menjadi laporan berita atau monografi sejarah. Linda Christanty, sebagai mentor proyek kami, ikut menemani lokalatih kedua dan memberi banyak kritik serta masukan terkait riset, penulisan, dan penyuntingan. 

Menuliskan fiksi dengan dimensi sejarah ternyata memang tidak mudah. Penulis, sampai batas tertentu, harus bersetia pada kronologi dan detail keadaan serta kejadian masa lalu. Mempunyai banyak temuan arsip dan sejarah lisan tidak berbanding lurus dengan kemampuan penulis untuk mengolahnya menjadi cerita fiksi dengan lancar. Persoalan lain yang juga kami hadapi adalah bagaimana seharusnya perspektif feminisme hadir dalam lapisan-lapisan cerita? Apakah harus ada tokoh perempuan dan laki-laki yang ideal berdasarkan perspektif feminisme? Atau, bagaimana menyajikan konflik yang bersinggungan dengan perspektif feminisme dalam cerita yang ditulis?

Dari ceceran ingatan yang kami pungut, kami menyadari ada banyak sekali kepingan lainnya yang masih berserakan. Bagaimanapun, kami sadar bahwa kami tidak sedang menyusun kronik sejarah di berbagai daerah. Cerita-cerita pendek yang berasal dari ingatan perempuan sekitar Reformasi ini bagi kami adalah suatu itikad untuk memaknai kekuatan bertutur perempuan sebagai penyimpan cerita sekaligus karakter majemuk yang hidup dalam fiksi maupun realitas.

Tulisan ini adalah versi ringkas dari epilog “Merekam Ingatan Perempuan” dalam buku “Tank Merah Muda: Cerita-Cerita yang Tercecer dari Reformasi” yang dapat diunduh melalui tautan https://www.ciptamedia.or.id/uploads/karya/book/tank-merah-muda-raisa-kamila.pdf

Raisa Kamila adalah anggota kolektif Perkawanan Perempuan Menulis. Ia menyelesaikan pendidikan di bidang filsafat dan sejarah. Selain membaca dan menonton, ia juga senang merapikan kuku tangan dan kaki.