September, 20 2017
Perempuan Pulang Malam Bukan Perempuan 'Nakal'

Tidak ada hubungan antara perempuan, berkerudung dan pulang malam.

by Ge Tilotama
Issues // Politics and Society
Share:

Perempuan, terutama yang bersuku Jawa, akrab dengan petuah “anak perawan jangan pulang larut malam”. Setidaknya itu lah yang ditanamkan ibu kepada saya selama 18 tahun tinggal bersamanya.
Saya masih ingat betul waktu itu saya ada pertemuan dengan teman-teman pencinta alam selepas Isya dan baru pulang pukul 12 malam. Ibu saya marah pada saya sampai menangis, lalu tidak bicara dengan saya sampai besok sorenya. Beliau juga berkata, “Kamu tuh anak perempuan, perawan dan kerudungan, kok pulang malam? Saru (tidak sopan) dilihat tetangga.”
Peristiwa itu menyebalkan sekaligus menyedihkan bagi saya. Bagaimana pun saya memiliki pembelaan bahwa saya pulang selarut itu untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman, senior dan alumni pencinta alam di suatu angkringan sekitar Tugu Muda. Hanya ngobrol perihal organisasi dan berbagi masalah pribadi selayaknya hubungan persaudaraan sambil menikmati kopi pahit dan gorengan. Tidak ada tindakan yang melanggar agama dan hukum, dan tidak ada yang dirugikan. Tapi saya harus mendapat tuduhan seberat itu hanya karena pulang lebih malam dari biasanya.
Waktu itu saya marah pada Ibu karena bagi saya tidak ada kaitannya antara anak perempuan, kerudung dan pulang malam. Pikiran saya memberontak sampai akhirnya saya ingin tinggal jauh dari orang tua saya. Karena kontrol yang kuat dari orang tua bahkan ketika saya sudah berumur 17 tahun ke atas membuat saya tidak bisa mengeksplorasi diri dan lingkungan saya dengan baik. Saya selalu kebingungan ketika harus pergi jauh sendirian meskipun itu di kota sendiri; saya tidak tahu toko buku selain Gramedia; saya jarang naik gunung dan saya tidak tahu jalur angkutan kota di Semarang. Saya berpikir, lepas dari kontrol orang tua adalah cara membuat saya mandiri, dan tentunya terlepas dari kekangan-kekangan konservatif dan tidak masuk akal.
Akhirnya saya memutuskan merantau dan kuliah di Yogyakarta dengan harapan bisa terbebas dari kontrol berlebih terhadap diri saya dan sebagai perempuan pada umumnya. Namun, ekspektasi saya runtuh ketika sejak saya pindah di kos baru. Salah satu anak kos ada yang mengaku, “Aku kira kamu anak nakal, Ge”. Ketika saya bertanya mengapa, ia menjawab, “Pertama kali aku lihat kamu, kamu pakai kaos hitam dan kemeja denim enggak dikancing, enggak rapi banget penampilanmu. Terus suka bawa gitar. Apalagi kamu suka pulang larut malam bahkan pagi.” Saya tercengang karena di sini ternyata tidak hanya ibu-ibu yang melihat perempuan dan pulang larut malam memiliki sebagai perilaku ‘nakal’, bahkan anak muda yang sedang menempuh semester enam di bangku kuliah juga berpikir demikian.
Pun pada konteks sehari-hari tentu kita juga kerap mendengar banyolan, “Ah kamu cewek alim dari mana? Suka pulang pagi begitu.” Atau, “Kerudungan sih tapi kok sukanya pulang larut malam.” Biasanya kalimat seperti itu juga dilontarkan oleh teman sebaya, baik laki-laki mau pun perempuan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa bukan salah ibu saya ketika marah karena saya pulang larut malam, bukan salah teman kos saya yang mengira saya anak nakal karena suka pulang pagi dan bukan salah teman-teman saya yang menyayangkan perempuan berkerudung tapi suka pulang larut malam. Mereka hanya hidup dan menghidupi konstruksi yang sudah membudaya pada masyarakat, sayangnya hal itu membelenggu perempuan, terlebih jika ia berkerudung.
Saya sudah berada pada titik lelah mencari hubungan antara perempuan, berkerudung dan pulang malam. Beberapa orang juga ada yang mengaitkannya dengan keperawanan. Konstruksi yang menjadi kontrol berlebih ini hanya menyerang perempuan. Anak perempuan dikontrol untuk tidak pulang malam agar tidak meresahkan tetangga kanan-kiri. Tidak peduli apa yang ia lakukan sampai selarut itu, pulang sendiri atau dengan temannya, jalan kaki atau naik kendaraan, sangat tabu jika perempuan pulang larut malam. Beberapa mengatakan karena alasan keamanan. Apakah kami, perempuan sumber dari tidak amannya jalanan di malam hari? Jika pun alasannya adalah keamanan, mengapa ada yang mengaitkannya dengan konsep “perempuan nakal”?
Meskipun  pada akhirnya memutuskan untuk menutup telinga dengan pendapat teman-teman soal kebiasaan saya pulang larut malam bahkan pagi, tapi saya tidak bisa membuang rasa iri saya terhadap teman ngopi sampai pagi yang kebanyakan adalah laki-laki. Orang tuanya tidak merasa khawatir dengan kebiasaannya pulang larut malam atau dini hari. Sedang saya harus menutupi kebiasaan saya ini kepada Ibu untuk sekedar membuatnya sedikit lebih tenang dan tidak perlu merasa malu entah kepada siapa jika tahu anak gadisnya yang berkerudung suka pulang larut. Saya memilih untuk menutup telinga pada anggapan orang lain sebagaimana mereka menutup mata dari kegiatan saya yang sampai selarut ini.
Bagi saya, baik perempuan mau pun laki-laki tidak memiliki batasan waktu untuk mendefinisikan dirinya. “Ia pantas pulang pagi karena ia laki-laki” dan “ia seperti perempuan jalang karena suka pulang larut malam” adalah kalimat yang sangat tidak adil. Karena seharusnya kita sebagai manusia, anak muda pada khususnya, kapan pun, di mana pun, baik itu laki-laki mau pun perempuan punya kesempatan yang sama dalam hal mengeksplorasi diri.
Ge Tilotama sedang menempuh semester enam di jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada. Bisa diajak ngopi atau makan es krim sampai pagi sambil ngobrol ringan. Bisa dihubungi kapan saja di twitter @getilotama.