July 21, 2020
Pesan Anti-rasialisme dalam Islam 14 Abad Lalu Masih Relevan

Nabi Muhammad sebetulnya menyampaikan pesan egaliter revolusioner untuk menghapus rasialisme.

by Asma Afsaruddin
Issues
Share:

Suatu hari di Mekah, Nabi Muhammad menyampaikan pernyataan mengejutkan kepada pengikutnya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa semua orang diciptakan sama.

“Semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa,” kata Nabi dalam khotbah publik terakhirnya.

“Orang Arab tidak lebih unggul dibandingkan non-Arab. Dan non-Arab tidak lebih unggul dibandingkan orang Arab. Kulit putih tidak lebih unggul dari kulit hitam, dan kulit hitam tidak lebih unggul dari kulit putih, kecuali atas sikap dan perbuatan yang baik.”

Dalam khotbah saat Haji Wada (perpisahan) ini, yang dikenal sebagai Khotbah Perpisahan, Muhammad menjabarkan dasar cita-cita religius dan etika Islam dalam agama yang ia mulai syiar-kan pada awal abad ke-7. Kesetaraan ras adalah salah satunya. Kata-kata Nabi Muhammad menyentak masyarakat yang terbagi atas berbagai suku dan etnis.

Sekarang, ketegangan rasial dan kekerasan memanas di Amerika Serikat (AS), dan menyebar ke seluruh dunia. Di dunia hari ini, pesan Nabi terlihat untuk menciptakan mandat moral dan etika khusus bagi muslim Amerika untuk mendukung gerakan protes anti-rasialisme negara itu.

Menantang kekerabatan

Selain monoteisme (menyembah hanya satu Tuhan), kepercayaan pada kesetaraan semua umat manusia di mata Tuhan juga membuat umat Islam awal berbeda dari sesama Arab di Mekah.

Surat Al-Hujurat (49), ayat 13 dalam Al-Quran, menyatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu…dari berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Baca juga: Bagaimana Rasialisme Terbentuk dan Bertahan di Masyarakat?

Ayat ini menentang banyak nilai-nilai masyarakat Arab pra-Islam yang memiliki kesenjangan sosial berdasarkan keanggotaan suku, kekerabatan dan kekayaan sebagai bagian dari kehidupan.

Kekerabatan atau keturunan (dalam bahasa Arab disebut “nasab”) adalah penentu utama status sosial seseorang. Anggota suku yang lebih besar dan lebih menonjol seperti Quraisy memiliki kedudukan yang tinggi, sedangkan orang-orang dari suku yang kurang kaya seperti Khazraj memiliki kedudukan lebih rendah.

Al-Quran mengatakan bahwa kesalehan dan perbuatan pribadi adalah dasar dari nilai baik, bukan afiliasi suku. Ini adalah pesan asing yang berpotensi mengacaukan masyarakat yang berdiri berdasarkan nasab.

Memperjuangkan kaum marginal

Seperti halnya gerakan revolusioner lain, Islam awalnya menghadapi perlawanan sengit dari banyak elite. Suku Quraisy, misalnya, yang mengendalikan perdagangan di Mekah, bisnis yang sangat menguntungkan bagi mereka, tidak mau melepas gaya hidup nyaman yang mereka bangun di atas punggung orang lain, terutama budak yang mereka bawa dari Afrika.

Pesan Nabi tentang egalitarianisme cenderung menarik bagi “orang-orang yang tidak diinginkan”, yaitu orang-orang dari masyarakat pinggiran. Umat Islam awal mencakup pemuda-pemuda dari suku yang kurang berpengaruh, yang ingin lepas dari stigma dan budak-budak yang dijanjikan pembebasan dengan memeluk Islam.

Baca juga: Jualan Sentimen Agama dan Ras dalam Bisnis Kamar Kos

Perempuan, yang dinyatakan setara dengan laki-laki di Al-Quran, juga menganggap pesan Nabi sangat menarik. Namun, potensi kesetaraan gender dalam Islam kemudian akan dikompromikan oleh kebangkitan masyarakat patriarkal.

Pada saat Nabi Muhammad wafat pada 632 M, Islam telah membawa transformasi mendasar bagi masyarakat Arab, meski tidak pernah sepenuhnya menghapus hierarki kesukuan di wilayah ini.

Lepas dari derita

Pada awalnya, Islam juga menjadi daya tarik bagi orang non-Arab, orang luar yang tidak punya banyak pengaruh dalam masyarakat tradisional Arab. Ini termasuk Salman al-Farisi yang melakukan perjalanan ke semenanjung Arab untuk mencari kebenaran religius, Shuhaib ar-Rumi seorang pedagang, dan seorang budak dari Ethiopia yang bernama Bilal.

Ketiganya menjadi terkenal dalam Islam selama masa hidup Muhammad. Kekayaan Bilal yang jauh membaik menggambarkan bagaimana egalitarianisme yang diberitakan oleh Islam mengubah masyarakat Arab.

Sebagai seorang hamba yang diperbudak seorang aristokrat Mekah bernama Umayya, Bilal dianiaya oleh pemiliknya karena memeluk agama baru. Umayya meletakkan batu di dada Bilal, mencoba mencekiknya sampai ia bersedia meninggalkan Islam. Tergerak oleh penderitaan Bilal, teman Muhammad sekaligus orang kepercayaannya, Abu Bakar, yang akan memimpin masyarakat Muslim setelah kematian Nabi, membebaskannya.

Baca juga: Kelompok Pengajian 'Salam' Kaji Islam dari Perspektif Kemanusiaan

Bilal sangat dekat dengan Nabi Muhammad. Pada 622, Nabi menunjuknya sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan sebagai pengakuan atas suaranya yang kuat dan indah dan kesalehannya. Bilal kemudian menikahi seorang perempuan Arab dari suku yang terhormat, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang Afrika yang diperbudak pada periode pra-Islam.

Bagi banyak muslim modern, Bilal adalah simbol pesan egaliter Islam, yang dalam penerapan idealnya mengakui tidak ada perbedaan di antara manusia atas dasar etnis atau ras, tapi lebih mengutamakan integritas pribadi. Salah satu surat kabar milik orang Muslim kulit hitam terkemuka di Amerika Serikat, yang diterbitkan antara tahun 1975 dan 1981, dinamai The Bilalian News.

Baru-baru ini Yasir Qadhi, Dekan Islamic Seminary of America, di Texas, mengatakan bahwa Muslim Amerikaꟷkelompok yang akrab dengan diskriminasi “harus memerangi rasialisme, apakah itu dengan pendidikan atau dengan cara lain.”

Banyak muslim di AS mengambil tindakan, mendukung gerakan Black Lives Matter, dan memprotes kebrutalan polisi dan rasialisme sistemis. Tindakan mereka mencerminkan pesan egaliter revolusioner dan masih belum terwujud yang ditetapkan Nabi Muhammad lebih dari 1.400 tahun yang lalu sebagai landasan iman Islam.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Asma Afsaruddin adalah profesor bidang Kajian Islam dan mantan Kepala Departemen of Middle Eastern Languages and Cultures, Indiana University.