February 3, 2023
People We Love

Prof Azyumardi Azra, Intelektual Islam Jadi ‘Sir’ Pertama dari Indonesia

Selamat jalan, Profesor! Ilmu dan warisan khasanah darimu akan terus kami kenang.

Aulia Adam
  • September 22, 2022
  • 4 min read
  • 231 Views
Prof Azyumardi Azra, Intelektual Islam Jadi ‘Sir’ Pertama dari Indonesia

“Indonesia kehilangan intelektual sejati yang selalu menjaga dan memperjuangkan integritas,” ungkap Komarudin Hidayat, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), mengenang sahabatnya Profesor Azyumardi Azra, tokoh intelektual, cendekiawan Islam, dan pers nasional yang meninggal 18 September kemarin. Bunga rampai itu disampaikan Komarudin dalam obituari yang ditulisnya dan direkam Tirto.

“Terima kasih atas semua jasa dan warisanmu, terutama karya tulismu yang akan membuat nama dan pikiranmu selalu hidup dan dikenang,” sambung Komarudin yang sudah bersahabat dengan Prof Azra sejak sama-sama masih aktif di HMI Ciputat.

Mereka juga sempat sama-sama jadi wartawan majalah Panji Masyarakat (1979-1985) yang dibawahi Buya Hamka, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.

“Kamu bertumbuh lebih dari sekadar seorang ilmuwan, melainkan juga intelektual sejati yang menjaga independensi dan integritas,” kata Komarudin, mengenang sahabatnya. Pada 2006 lalu, Komarudin adalah orang yang menggantikan Azra menjabat gelar Rektor UIII.

Kepergian Prof Azra memang mengejutkan dan jadi duka banyak orang. Ia dikenal sebagai intelektual Islam nusantara, bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia. Pria kelahiran 4 Maret 1955 ini adalah orang Indonesia pertama yang gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) dari mendiang Ratu Elizabeth II, pada 2010 kemarin.

Baca juga: Kematian Ratu Elizabeth II dan Berakhirnya Era Elizabethan Baru

Gelar CBE biasanya diberikan Kerajaan Inggris pada individu yang dianggap berkontribusi besar dan positif di bidang pekerjaannya. Dengan gelar itu, Azra termasuk orang-orang terhormat dalam catatan Kerajaan Inggris, salah satu privilese yang dibawanya bersama gelar itu adalah bisa keluar-masuk Inggris tanpa visa.

Ia diakui sebagai anggota bangsawan Inggris, dan mendapat gelar ‘Sir’.

Tentang gelar ini, Azra sering bergurau dalam beberapa kesempatan interview dengan wartawan. Katanya, “Saya itu lebih tinggi dari David Bekcham, karena David Beckham itu gelarnya OBE, Officer of the Most Excellent Order of British Empire. Jika David Beckham adalah prajurit, maka saya adalah panglimanya,” seperti dikutip dari Islami.co.

Baca juga: Kyai Husein Muhammad Sang Ulama Feminis

Cendekiawan Islam yang Toleran dan Mendukung Keberagaman

Meski berujung jadi salah satu intelektual dan cendekiawan Islam paling berpengaruh di kajian Islam dunia, Azra sebetulnya dulu tak tertarik pada studi keislaman. Ia ingin masuk pendidikan umum di IKIP. Namun, sang ayah mendesak Azra untuk masuk Institut Agama Islam Negeri (IAIN).

Cerita itu diungkapnya dalam blog pribadi yang ditulis 2007 silam. Lulus dari Fakultas Tabiyah IAIN Syarif Hidayatullah pada 1982, Azra melanjutkan studi ke Columbia University. Di sana ia meraih dua gelar: Master of Arts dari Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah (1988) dan Master of Philosophy dari Departemen Sejarah (1990).

Disertasinya kemudia diterbitkan jadi buku berjudul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII, pada 1994. Buku ini telah dipakai jadi rujukan banyak universitas dan murid Azra.

Kontribusi Azra di dunia pendidikan terus berlanjut. Ia telah menjadi dosen tamu di banyak sekali kampus dunia. Di antaranya, Departemen Studi Timur Tengah, New York University (NYU); Harvard University; University Kebangsaan Malaysia; University of Leiden (Inggris); University Melbourne; Australian National University, dan lainnya.

Namun, salah satu warisan Azra yang paling dikenang adalah upayanya untuk menciptakan pendidikan Islam yang lebih inklusif dan dan menerima keberagaman.

Ketika menjabat jadi Rektor IAIN, ia meneruskan gagasan pendahulunya Prof Harun Nasution untuk memperluas IAIN menjadi universitas. Pada Mei 2002, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta di bawah tangan Azra, resmi berganti jadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pengembangan IAIN menjadi universitas adalah upaya untuk membuat lulusan mereka “tidak memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum, tidak memahami agama secara literer, menjadi Islam yang rasional, bukan Islam yang madzhabi atau terikat apda satu mazhab tertentu saja,” seperti dikutip dari blog pribadi Azra.

Baca juga: Saat Semua Orang Merasa Jadi Tuhan: Wawancara dengan Musdah Mulia

“Untuk mencapai ide tersebut, institusinya harus dibenahi agar ilmu umum dan agama bisa saling berinteraksi. Dan satu-satunya cara adalah mengembangkan IAIN menjadi universitas sehingga muncullah Fakultas Sains, Ekonomi, Teknologi, MIPA, Komunikasi, Matematikan, dan lainnya,” sambung Azra.

“Selama mengenalnya, saya kagum karena ia menyuarakan nilai-nilai hak asasi manusia dalam khazanah pemikiran Islam yang moderat, sekaligus mencoba terus menjembatani pemikiran-pemikiran kebangsaan, demokrasi, dan hak asasi manusia,” kata Usman Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia, pada Tirto.

Menurut Usman, Azra adalah intelektual Muslim yang gigih membela gerakan anti-korupsi dan hak asasi manusia, termasuk perlindungan hak-hak asasi kaum minoritas.

Kesedihan ditinggal sosok macam Azra memang tak terelakan. Di dunia pers nasional, ia juga tokoh penting, bahkan masih menjabat Ketua Dewan Pers saat meninggalkan kita. Seperti kata Komarudin, jasa dan warisan Prof Azra akan selalu dikenang bangsa ini dan dunia.

“Kamu mendahului kami pulang ke rumah ilahi dalam perjalanan mulia untuk memberikan pencerahan dalam acara seminar di Kuala Lumpur,” lanjut Komarudin. “Sebuah perpisahan mendadak yang sangat mengagetkan, menyedihkan tapi juga membanggakan.”

Selamat jalan, Profesor!


Editor:  Aulia Adam
Aulia Adam
About Author

Aulia Adam

Aulia Adam adalah penulis, editor, produser yang terlibat jurnalisme sejak 2013. Ia menggemari pemikiran Ursula Kroeber Le Guin, Angela Davis, Zoe Baker, dan Intan Paramadhita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *