November, 15 2017
Rangkul Dia, Perempuan yang Membuka Jilbabnya

Perempuan yang membuka jilbabnya sering dipinggirkan, bahkan dianggap nista.

by Feby Indirani
Issues // Politics and Society
Share:
Setiap kali seorang perempuan berjilbab memutuskan membukanya, saya selalu ingin menepuk bahu dan merangkulnya. Karena saya yakin itu adalah keputusan yang berat bagi kebanyakan orang.

Saya tidak selalu seperti ini. Ada satu waktu saya bertingkah menyebalkan, mengomentari keputusan seorang kawan yang membuka jilbabnya.

What’s wrong with you?” tanya saya sinis, sok berbahasa Inggris pula.

Perempuan dengan rambut lurus sepunggung hitam kemilau itu tertunduk malu. Kemungkinan besar saya bukan satu-satunya orang yang mengajukan pertanyaan seperti itu. Hanya selisih beberapa hari kemudian ia pun kembali berjilbab. Mungkin tak kuat menghadapi orang-orang resek seperti saya.

Entah kenapa saya menanyakan hal tersebut kepadanya, yang sebetulnya langsung saya sesali di saat yang sama saya melakukannya. Tapi di kepala saya saat itu, orang yang sudah berjilbab seharusnya teguh di jalannya. Berjilbab adalah sebuah keputusan besar; begitu seseorang sudah memilihnya, pantang untuk surut dan berubah pikiran. Itu nilai-nilai yang saya adopsi dari keluarga dan lingkungan saya ketika itu.



Setelah 1998, cukup banyak perempuan memilih berjilbab. Berbeda dengan era 1979-1989 saat Orde Baru sedang digdaya, ketika pemakaian jilbab dilarang dalam kelas di sekolah negeri. Pilihan untuk berjilbab ini biasanya dirayakan oleh lingkungan di sekitarnya dengan memberikan ucapan selamat.  “Selamat atas keberanian ber-hijrah” – istilah yang digunakan sebagian Muslim untuk menyebutkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kata hijrah ini  mengacu pada sejarah Islam yaitu perpindahan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dari kota Mekkah, tempat mereka kerap mengalami ancaman dan kekerasan dari kaum kafir, ke kota Madinah. Kata ‘hijrah’ ini kemudian terasa relevan untuk perempuan yang memutuskan berjilbab.

Tradisi memberikan selamat kepada perempuan yang berjilbab itu terus berlanjut pada era 1990-an hingga 2000-an meski  jilbab bukan lagi barang langka.  Pada saat itu memang telah terjadi penguatan kelompok Islam di SMA dan universitas melalui biro kerohanian Islam. Anjuran, bahkan peringatan, terus menerus disuarakan agar perempuan segera mengenakan jilbab, yang diyakini merupakan kewajiban. Peringatan ini sering bernada ancaman, meski sanksinya konon baru akan diberikan di akhirat nanti.

Suatu kali, dalam acara kerohanian Islam di kampus saya, seorang laki-laki pembicara bertutur seperti ini:

“Ada seorang Muslimah yang sangat taat dan memiliki akhlak yang sangat baik. Semua keluarga dan orang yang mengenalnya bersaksi demikian. Lalu belum lama ini ia wafat. Saat baru dua hari dimakamkan, baru terungkap kuburannya ternyata salah lokasi karena kekeliruan pengelola pemakaman. Alhasil terpaksa makamnya yang masih basah itu dibongkar kembali. Namun tak diduga terjadi kejadian yang mengejutkan yaitu bagian kepala jenazahnya berlumuran darah. Ternyata Muslimah yang sangat taat dan berakhlak karimah tadi melakukan satu-satunya dosa. Satu-satunya! Kalian tahu apa itu?“ si pembicara terdiam sejenak untuk memberikan efek dramatis.

“Ia tidak berjilbab,” demikian ia menutup kisahnya.

“Ada pertanyaan?“ ia kemudian bertanya, hampir terdengar menantang.

Seluruh ruangan aula hening.  Saya ingin angkat tangan, sayang batal. Saya hanya gatal kepingin bertanya,  bagaimana jika dia sebetulnya melakukan suatu dosa besar yang hanya dia dan Allah yang tahu dan itu tidak ada hubungannya dengan jilbab? Pertanyaan itu kemudian tertelan begitu saja.
 

Pada rambut para perempuan seolah bergantungan seluruh kebusukan dosa umat manusia.


Cerita-cerita seputar sanksi bagi perempuan yang tidak mengenakan jilbab hadir dan menyebar, menjadi teror mental yang menghantui perempuan. Seluruh hukuman siap menunggu perempuan tak berjilbab, mulai dari memiliki kepala seperti unta berpunuk dua, digantung dengan api neraka, digantung dengan rantai api neraka (secara spesifik dibedakan), digantung sampai ubun-ubun, digantung bagian lidahnya (ya, begitu banyak hukuman digantung), memakan badannya sendiri, memotong anggota badannya sendiri, sampai mengunyah isi perut sendiri.  

Perempuan-perempuan itu akan kekal abadi di dalam neraka. Sehelai rambut perempuan yang terlihat oleh lelaki bukan muhrim dan dilakukan dengan sengaja akan mendapatkan balasan masuk neraka selama 70 ribu tahun, sementara satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Luar biasa azab yang akan ditimpakan kepada perempuan tak berjilbab, yang bahayanya seolah lebih besar daripada seluruh koruptor bersatu menyelewengkan uang rakyat atau diktator yang melakukan pembunuhan massal.

Selain peringatan dengan ancaman neraka, tekanan mental dalam bentuk yang manis juga ada. Bahwa perempuan serta merta akan menjadi lebih elok dengan menggunakan jilbab. Lebih cantik karena kekurangan bentuk fisiknya akan tersamarkan, muda karena dahinya tertutup, lebih bersinar dari dalam karena meningkatnya iman. Berjilbablah supaya cantik lahir batin. Siapa yang tak kepingin?   

Desakan bagi perempuan untuk mengenakan jilbab itu terbukti efektif. Dalam setidaknya sepuluh tahun terakhir, pengguna jilbab semakin banyak, bahkan menjadi mayoritas di berbagai kalangan. Di acara kumpul-kumpul keluarga atau reuni yang tersebar di media sosial, sering kita lihat hampir seluruh perempuannya berjilbab. Saya beberapa kali mendengar bahwa di sejumlah instansi pemerintah dan kampus negeri, perempuan yang tidak berjilbab merasakan tekanan dari sesama kolega bahkan kadang mengalami hambatan karier.

Jika perempuan tak berjilbab telah menjadi kaum minoritas, perempuan yang membuka jilbabnya lebih terpinggir lagi, bahkan dianggap nista. Mereka menerima luapan pertanyaan, bahkan cemoohan, mulai dari yang sifatnya bisik-bisik hingga terbuka di media sosial. “Kenapa si B buka jilbab? Kasihan ya, makanya kalau iman belum kuat enggak usah berjilbab dulu.”  “Kenapa ya si A buka jilbab, mungkin karena dia stres setelah bercerai dari suaminya.” Itu komentar-komentar yang masih “baik”. Ratusan ujaran kejam bisa kita baca, misalnya, di akun media sosial Rina Nose, seorang selebriti yang baru memilih membuka jilbabnya.

Pada satu fase dalam kehidupan saya, saya pernah berjilbab, lalu memutuskan untuk membukanya. Karenanya, saya memahami bagaimana sulitnya keputusan seperti ini. Beberapa teman perempuan kerap bercerita sebenarnya mereka tidak betah lagi berjilbab, tapi terlalu malas dan lelah dengan semua konsekuensi yang akan menyertainya.

Perempuan yang ingin melepaskan jilbabnya seperti harus siap melawan dunia – serbuan orang-orang yang akan menasihatinya tentang pedihnya azab api neraka, atau menganjurkan agar ia sebaiknya keluar saja dari Islam.  Pada rambut para perempuan itu seolah bergantungan seluruh kebusukan dosa umat manusia. Kadang saking pedihnya komentar orang, neraka seperti tiba lebih awal.

Kepada perempuan yang memutuskan untuk membuka jilbab, saya ingin mengucapkan selamat. Mungkin Anda tidak melakukan hijrah seperti yang diyakini sebagian orang. Tapi Anda telah berani membuat pilihan dengan segala risiko dan penghakiman yang Anda terima. Jika ada perempuan seperti itu di sekitar Anda, temani dia, ajak bercakap tentang hal-hal yang ringan dan menyenangkan saja, terutama di bulan-bulan awal ia baru membuka jilbabnya. Itu bukanlah waktu yang nyaman baginya, karena ia harus berhadapan dengan sorot mata yang penuh tanda tanya, tak jarang dengan cerca. Dunia butuh lebih banyak orang seperti Anda, yang siap merangkul dan menemani tanpa banyak bertanya.

Lalu bagaimana dengan ancaman gantung-menggantung di neraka?

Biarkan saja, itu bukan lagi urusan kita.

Feby Indirani adalah penulis yang menerbitkan kumpulan cerita Bukan Perawan Maria (Pabrikultur 2017) dan menginisiasi gerakan Relaksasi Beragama