‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup
(Artikel ini mengandung spoiler)
Narasi klise tidak selamanya berarti buruk. Kadang, cerita-cerita klise bikin pengalaman menonton lebih nyaman, karena: tak ada kejutan, kita tahu arah ceritanya ke mana, dan bikin menonton jadi mudah karena semua informasi tidak perlu bikin mikir. Itu rasanya menonton episode-episode awal Dynamite Kiss, drama Korea romcom keluaran Samhwa Networks, yang bisa ditonton di Netflix.
Dua episode pertamanya sangat menjanjikan. Go Da-rim (Ahn Eun-jin) adalah seorang perempuan umur 30-an yang dianggap tidak berguna oleh masyarakat Korea: pendidikannya tidak mentereng, masih tinggal dengan orang tua, dan yang paling memalukan adalah kenyataan ia belum pernah punya karier jelas.
Tiap kali melamar kerja, ia selalu gagal. Kegagalan Da-rim makin terasa ketika adiknya sendiri, Go Da-jeong (Kim Soo-ah), tak mau kakaknya hadir di hari pernikahannya. Ia meminta Da-rim liburan ke Pulau Jeju, karena tak mau calon mertuanya melihat aib keluarga.
Baca juga: ‘Bon Appétit, Your Majesty’: Cinta dalam Sepiring Konspirasi
Gong Ji-hyeok (Jang Ki-yong) adalah seorang businessman yang sedang mengejar investor di Jeju. Tipikal workaholic yang ambisius dan punya banyak gol. Drama keluarganya terlalu berantakan, sesuatu yang bikin Ji-hyeok bekerja keras demi membuktikan diri. Sebagai romcom, Dynamite Kiss mempertemukan Da-rim dan Ji-hyeok dalam meet cute menggemaskan. Da-rim mengira Ji-hyeok, yang sedang menikmati pemandangan, ingin bunuh diri. Kesalahpahaman itu membawa hubungan mereka masuk ke level berikutnya, dengan cepat.
Ketika Da-rim tahu mantan kekasihnya yang menyebalkan juga ada di Jeju, putaran konflik makin seru—meski tertebak. Da-rim diputuskan mantannya karena merasa tidak ada perkembangan di hidup perempuan itu. Maka, Da-rim berpura-pura berpacaran dengan Ji-hyeok supaya self-worth-nya tidak makin anjlok di depan sang mantan.
Demi menjual kebohongan ini, mereka berciuman—ciuman yang konon mengubah hidup mereka masing-masing.
Baca juga: ‘Beyond The Bar’: Serial Prosedural Hukum Baru Ala Korea
Comfort Watching, Meski Formulaik
Ditulis oleh Ha Yoon-ah dan Tae Kyung-min, Dynamite Kiss bisa jadi salah satu comfort watching yang efektif, kalau saja penulis skripnya setia dengan klise romcom yang ada. Sebagai penonton drama Korea, saya tak punya masalah dengan plot yang formulaik. Saya tak peduli dengan karakter Ji-hyeok yang dingin-tapi-perhatian, keras-tapi-bisa-lembut, tegas-tapi-bisa-bekerja-sama, yang selalu dipakai untuk genre sejenis. Saya juga tidak peduli dengan karakterisasi Da-rim yang dibuat begitu naif dan selalu green flag setiap saat. Kalau kedua karakter ini berhasil diperankan dengan baik, semua klise ini bisa dijual dengan mudah.
To be fair, baik Jang Ki-yong dan Ahn Eun-jin berusaha keras untuk membuat kedua karakter ini hidup.
Meski hampir semua adegan mereka terasa seperti déjà vu—kamu bisa melihat berbagai versi dari adegan-adegan mereka di drama Korea bergenre romcom—tapi kedua aktor ini cukup commit untuk menjual romansa yang ada.
Satu-satunya hal yang membuat Dynamite Kiss tidak jelek banget adalah kenyataan bahwa Jang Ki-yong dan Ahn Eun-jin memiliki chemistry yang sangat baik. Hal ini terbukti dari dua episode pertamanya yang meski dipenuhi berbagai klise, tapi terasa tetap segar dan menggemaskan.
Setelah pertemuan mereka yang bombastis—lengkap dengan adegan hampir mau tenggelam dan si cowok tentu saja menyelamatkan si cewek dengan heroik—saya langsung bisa membayangkan masalah apa saja yang akan menghalangi kisah cinta mereka.
Sampai pertengahan musim, Dynamite Kiss sebenarnya masih enak untuk ditonton. Penulis skripnya memberikan berbagai plot “bisakah para underdog ini membuktikan bahwa mereka sebenarnya bisa bekerja dengan baik” yang tidak bisa dihindari. Dan sekali lagi, meskipun plot ini bukan barang baru tapi ada kenyamanan menyaksikan klise ini. Se-impossible apa pun misi yang harus ditangani oleh tim underdog ini, ada sebuah kesenangan tersendiri mengetahui bahwa at the end of the day mereka akan menang.
Tapi sayangnya, pembuat Dynamite Kiss tidak tahu harus commit dengan tone yang ingin mereka capai. Ada plot yang begitu larger-than-life—melibatkan debt collector yang menculik karakter utamanya, saudari yang melakukan segala cara untuk menyabotase sang adik demi kursi CEO, perjodohan antar-keluarga chaebol—tapi juga banyak sekali plot slice-of-life yang salah tempat—ibu yang ingin kabur dari toxic relationship, anak yang ingin mengurangi beban orang tuanya, pembuktian diri dan lain-lain. Lebih parahnya lagi, Dynamite Kiss tidak tahu harus melakukan apa dengan second lead-nya.
Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Ji-hyeok tentu saja dijodohkan dengan Yoo Ha-young (Woo Da-vi), anak dari keluarga chaebol yang akan membuat kedua keluarga ini semakin powerful. Dua orang ini tidak menyukai satu sama lain. Ha-young justru naksir dengan Kim Sun-woo (Kim Mu-jin), seorang single father yang juga seorang fotografer yang kebetulan adalah teman Da-rim dari kecil. Sun-woo juga berperan sebagai suami palsu demi menjaga identitasnya.
Baca juga: ‘Oh My Ghost Clients’: Drakor Horor-Komedi Penyemangat Pekerja ‘In This Economy’
Dan tentu saja Sun-woo sebenarnya diam-diam mencintai Da-rim.
Cerita cinta segi empat bukanlah barang yang baru dalam drama korea—plot ini bahkan sudah hadir dalam salah satu pionir drama sejenis yang dirilis tahun 2004, Full House. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan klise cinta segi empat ini kalau ia diolah dengan baik. Sayangnya hubungan antara Ji-hyeok, Da-rim, Sun-woo dan Ha-young ini tidak dieksplor dengan baik.
Mereka tidak mempunyai drama yang kuat—yang seharusnya dipakai untuk membuat persatuan hubungan antara kedua karakter utamanya menjadi monumental di akhir kisah. Treatment percintaan second leadnya terasa timpang yang akhirnya membuat saya tidak peduli dengan progress hubungan Sun-woo dan Ha-young.
Semua ini akhirnya diperparah dengan konklusi yang benar-benar buruk. Dalam sebuah klimaks yang “membangongkan”, Ji-hyeok kecelakaan dan akhirnya amnesia. Saya tahu bahwa di poin ini, hubungan Ji-hyeok dan Da-rim sudah di level “mereka akan bersama” dan mereka butuh satu beat lagi untuk memperkeruh suasana. Tapi memasukkan klise amnesia di detik-detik terakhir jelas bukan keputusan yang tepat. Tidak hanya plot ini membuat momen gemasnya hilang, cara pembuat Dynamite Kiss menyadarkan karakter utamanya juga terasa sangat malas.
Da-rim pergi ke Jeju untuk menyusul adiknya—yang tiba-tiba muncul lagi karena plot membutuhkannya dia hadir I guess—dan di sana ia bertemu dengan Ji-hyeok. Ji-hyeok yang masih amnesia hanya mendapatkan sedikit flashback tentang sosok Da-rim sampai mereka tidak sengaja berciuman. Dan ciuman inilah yang secara ajaib mengembalikan ingatannya.
Begitu Ji-hyeok kembali, Da-rim sudah lupa dengan misi awalnya. Siapa yang peduli dengan nasib adiknya kalau sang kekasih kembali mendapatkan ingatannya? And just like that, Dynamite Kiss membuat saya melongo. And not in a good way.
















