December 13, 2018
Ruang (Ny)aman: 'Solo Traveling' Penting Bagi Perempuan

'Solo traveling' adalah kesempatan untuk mengasah insting dan kemampuan menyelesaikan masalah.

by Camely Arta, Reporter
Lifestyle // Travel and Leisure
Share:
Bagi banyak perempuan, traveling solo atau melancong sendirian adalah sesuatu yang tidak asyik, bahkan menyeramkan. Siapa yang bisa diajak berbagi mulai dari cerita sampai biaya taksi? Siapa yang bisa dimintai untuk mengambil foto kita? Bagaimana jika ada gangguan keamanan?

Padahal menurut seorang penulis iklan yang sering melancong seorang diri, mulai dari destinasi-destinasi dalam negeri sampai ke daerah wisata luar negeri dan tujuan-tujuan yang tidak terlalu populer seperti Iran, Amerika Latin, dan Korea Utara, solo traveling itu sangat asyik, serta tidak sesulit dan mengerikan yang orang-orang pikirkan.

“Kita tidak perlu repot menyesuaikan jadwal dengan keluarga atau teman yang minatnya berbeda. Lalu tidak harus berkompromi dengan orang-orang yang hobinya foto-foto dengan berbagai gaya atau group selfie,” ujar Rusmailia Lenggogeni, atau Lia, dalam diskusi bulanan Ruang (Ny)Aman beberapa waktu lalu di Jakarta. Acara hasil kerja sama Magdalene, KeKini, dan The O Project, itu bertemakan “Perempuan Solo Traveling.”

“Kita juga bisa mengamati lingkungan sekitar dengan lebih saksama dan berinteraksi dengan warga lokal dengan lebih intim karena tidak ter-distract oleh ngobrol dengan teman, misalnya,” ujar Lia, 44.

Sebagai perempuan, memang ada pertimbangan-pertimbangan keamanan yang harus dipikirkan saat bepergian seorang diri, tambahnya. Namun menurut Lia, hal itu bisa dikelola dengan baik, apalagi karena kita sendiri berasal dari negara yang notabene bukan yang paling aman di dunia.




“Kalau kita memang tinggal di Jakarta harusnya kita sudah street smart, artinya kita paham mana daerah rawan dan mengerti kalau kita enggak perlu pakai jam Rolex atau perhiasan di tempat umum yang ramai, dan kalau jalan di tempat ramai jangan main handphone,” ujarnya.

“Sebenarnya justru lebih bahaya kita yang tinggal di Jakarta karena memang Jakarta bukan kota yang aman, dan karena kita sudah tinggal di sini, kita sudah enggak sensitif lagi.”
 
Manajemen risiko keamanan, menyesuaikan dengan budaya lokal
 
Hobi solo traveling Lia dimulai saat ia kuliah, ketika ia dan temannya berlibur di Spanyol. Lia lebih suka mengeksplorasi museum-museum dan tempat wisata lainnya, sementara sang teman senang menghabiskan waktu berjemur di pantai seharian, dilanjutkan dengan clubbing dan mabuk-mabukan di malam hari. Akhirnya Lia memutuskan memilih jalan-jalan sendirian dan kebiasaan itu berlanjut sampai sekarang.
 
Sebelum melakukan perjalanan sendirian, terutama jika yang belum pernah melakukannya sebelumnya, Lia menyarankan untuk memilih tujuan yang memiliki infrastruktur pariwisata yang baik dan melakukan perencanaan yang matang.
 
“Sebelum bepergian sendiri, saya selalu mencari informasi terkait destinasi sebanyak-banyaknya. Cari ulasan tentang tempat itu dan tahu tempat wisata mana saja yang akan dikunjungi,” katanya.
 

Terkait masalah keamanan, semua itu bergantung pada manajemen risiko dan bagaimana kita menyesuaikan diri dengan dan menghormati budaya lokal.

 
Dalam hal memilih penginapan, setelah lama menjadi bepergian sendirian, Lia merasa hostel adalah pilihan yang lebih aman dan nyaman dibandingkan hotel.
 
“Kadang orang berpikir kalau hostel itu untuk turis miskin, padahal tidak begitu. Tidak semua hostel itu berkualitas rendah, seperti juga tidak semua hotel juga bagus dan aman,” ujarnya.
 
Menurut Lia, pengurus hostel lebih mengerti kebutuhan wisata dengan memberikan layanan-layanan yang praktis dan informatif, seperti memasang daftar penipuan yang biasanya dilakukan orang lokal;  rekomendasi makanan, tempat wisata, dan jadwal transportasi; dan koneksi internet secara umum lebih murah.
 
“Saat tidur di hotel justru kamar saya pernah disusupi oleh seorang laki-laki tengah malam. Waktu itu di Uzbekistan. Rasanya memang lebih aman tidur di hostel atau dorm karena kita tidak tidur sendiri, walaupun di hostel juga ada kamar sendiri,” ujarnya.
 
Terkait masalah keamanan, menurut Lia, semua itu bergantung pada manajemen risiko dan bagaimana kita menyesuaikan diri dengan dan menghormati budaya lokal.
 
Ketika kuliah di Meksiko, Lia pernah tinggal selama seminggu di salah satu kota yang baru belakangan dia tahu itu termasuk kota paling berbahaya di dunia, yakni Izatapalapa. Tempat ini, katanya, adalah tempat di mana minimal sepasang sepatu pasti dicuri. Tapi ia tidak mengalami kejadian buruk sama sekali.
 
Lia juga sempat ke Venezuela saat sedang krisis moneter parah (sampai sekarang) dan tingkat kriminalitas meningkat pesat sampai tentara pun bisa menodong warga. Lain lagi di Korea Utara, yang selalu membuatnya deg-degan karena tidak jelas aturan mana yang bisa dilakukan atau yang bisa menjebloskannya ke dalam penjara.
 
“Di kondisi-kondisi seperti itu, percaya saja dengan orang lokal. Kalau orang lokal bilang jangan ke situ, ikuti sarannya,” ujarnya.
 
“Kadang turis itu suka sok tahu, sudah dikasih tahu jangan pulang sendirian dari suatu tempat di atas jam 9 malam, mereka justru pulang di atas jam 12 malam, dan ada kejadian di mana orang itu dikerumuni 10 orang dan akhirnya dirampok,” katanya.
 
Selain itu, ujar Lia, ikutilah budaya setempat dan hormati cara berpakaian warga lokal agar kita tidak menjadi terlalu menonjol dan menjadi sasaran gangguan keamanan.
 
“Peristiwa yang tidak mengenakkan itu selalu terjadi pada orang-orang yang kelihatan gampang jadi sasaran atau terlihat rentan, misalnya ekspresi wajah yang celingukan. Lalu turis-turis yang terlihat berbeda dan tidak menyesuaikan budaya itu juga yang rentan jadi korban,” paparnya.
 
Jika sering bepergian seorang diri, ujar Lia, insting menjadi terasah dan biasanya setiap orang memiliki mekanisme sendiri untuk melindungi diri.
 
“Manfaat sering bepergian seorang diri itu adalah kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah meningkat. Kita juga menjadi lebih awas dan lebih bisa menilai karakter orang lain, mana yang baik dan mana yang tidak. Penghargaan dan penghormatan terhadap orang lain juga meningkat,” ujarnya.
 
Baca mengenai perlunya membuat perjanjian pranikah.
Camely adalah mahasiswi jurusan Manajemen. Ia menghabiskan terlalu banyak waktu menonton film-film Netflix, dan senang menyantap makanan Meksiko.