January, 06 2017
Saya Berhijab dan Saya Penari

Salahkah seorang menjadi penari yang berhijab? Apakah benar agama mengharamkan perempuan untuk menari?

by Lulu Lukyani
Issues // Politics and Society
Share:
Saya seorang perempuan. Saya seorang penari. Saya berhijab. Saya suka menari sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar. Orangtua saya sampai saat ini tidak pernah mendukung minat saya ini, tetapi hal itu tidak membuat saya berpikir dua kali untuk terus belajar menari. Karena saya terlalu suka menari, dengan sombongnya saya mengatakan bahwa tidak ada yang bisa meragukan niat saya untuk terus melakukannya.

Saya tidak pernah melepas hijab ketika menari. Kostum-kostum yang saya pakai selalu saya ‘akali’ agar cocok untuk dikenakan oleh seorang yang berhijab. Awalnya saya merasa baik-baik saja dengan hijab dan hobi saya ini. Apa salahnya seorang penari menggunakan hijab? Toh, niat saya menari bukan untuk menggoda hasrat seksual penontonnya, saya menari untuk bercerita melalui tarian, untuk berekspresi dengan tubuh. Namun ternyata apa pun alasannya, penari yang menggunakan hijab tetap dianggap ganjil, aneh, bahkan tidak pantas menurut pandangan beberapa orang.

Hal tersebut baru saya sadari ketika saya mengikuti sebuah perlombaan tari, dan salah seorang jurinya mengatakan bahwa perempuan yang berhijab tidak seharusnya menari, dan perempuan berhijab tidak bisa berperan total menjadi apa yang ia tarikan karena terhalang oleh hijabnya.

“Rasanya aneh melihat perempuan-perempuan yang kepalanya tertutup dan bergeol-geol di atas panggung,” katanya. Sederhananya, berlenggak-lenggok, menggerakkan tubuh di atas panggung dianggap tidak wajar dilakukan oleh perempuan yang di kepalanya dengan rapi tersemat hijab.

Saya tidak mau melepas hijab ketika menari bukan sekadar karena ingin menjalankan salah satu ajaran agama saya. Lebih dari itu, tubuh saya merasa lebih nyaman ketika saya berhijab. Sedangkan menari bukan lagi sekadar hobi. Ia adalah wadah untuk mengaktualisasikan diri, tempat di mana saya bisa menemukan dan melihat diri saya sendiri. Dan perkara bagaimana membawakan tariannya adalah perkara batin saya ketika menari, bukan perkara penampilan.



Perdebatan antara hijab dan potensi memang sudah berlangsung lama dan sudah banyak dibicarakan, namun ‘perang’ tersebut baru berlangsung dalam diri saya. Hal yang perlu diingat bahwa apa yang dimasud potensi di sini lebih merujuk kepada hal-hal yang jika dilakukan dianggap bertentangan dengan agama.

Dari apa yang saya dengar, jika pemahaman mengenai agama terus menerus meningkat, maka lambat laun hal-hal yang bertentangan dengan agama yang dianggap sebagai potensi itu akan bisa dilepaskan, dan akan menemukan potensi lain yang bisa sejalan dengan agama. Di sini seolah-olah agama dan seni adalah dua hal yang tidak bisa berjalan beriringan. Agama menawarkan aturan dan norma, seni menawarkan kreativitas dan kebebasan, yang akhirnya menimbulkan kesan bahwa orang yang beragama akan mengalami kesulitan dalam berkesenian.

Sampai saat ini, keresahan saya sebagai penari yang berhijab belum selesai. Jika saya memutuskan melepas hijab untuk menari, saya merasa mengkhianati tubuh saya, saya merasa tidak nyaman, dan apa yang saya bawa melalui tarian tidak akan tersampaikan. Tetapi di sisi lain saya terus mencoba mencari jawaban yang bisa meyakinkan bahwa menari dan hijab bukanlah dua hal yang salah satunya harus dipilih dan salah satunya harus ditinggalkan. Dan saya tetap percaya bahwa hijab tidak akan mengikis atau menghalangi perempuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.

Lantas salahkah saya menjadi penari yang berhijab? Apakah benar agama mengharamkan perempuan untuk menari? Apa memang karena pemahaman saya yang masih sangat kurang mengenai agama yang membuat saya tidak bisa pergi dari dunia seni tari? Saya tidak  yakin bisa meninggalkan dunia tari, dan saya yakin untuk tidak melepas hijab ketika menari. Salahkah saya?

Lulu Lukyani, seorang pegiat seni tari tradisional, mahasiswi jurusan Sastra Indonesia yang selalu tertarik dengan isu-isu gender.