May 10, 2016
Sebelum Anda Menyalahkan Korban Pemerkosaan

Tidak peduli bagaimana keadaan sekitar anda; entah anda sendirian atau bersama orang banyak. Tidak peduli apa yang anda kenakan. Tidak ada satu pun dari kita yang pantas untuk diperkosa.

by Nadia Hana Abraham
Issues // Politics and Society
Share:
Saya ingin mengajak anda untuk duduk dan bayangkan sosok diri anda ketika anda masih kecil. Bayangkan sosok diri anda tersebut, berdiri di jalanan yang sepi dan sendirian, dan katakan pada sosok itu bahwa dirinya pantas diperkosa.
     
Apakah anda dapat melakukannya?
     
Bayangkan sosok diri anda, belia, ceria, dan penuh harapan, dan katakan padanya ia pantas diperkosa, mengingat ia sedang berada di tempat yang sepi dan sendirian, tidak peduli apa yang saat itu anda kenakan. Katakan pada sosok itu, tatap matanya, dan katakan bahwa ia pantas diperkosa.
    
Apakah anda dapat melakukannya ?
    
Bayangkan diri anda adalah seorang korban dari tindakan kriminal tersebut.
    


Bayangkan sosok diri anda itu kemudian menatap dengan tatapan penuh kekosongan, kepala tertunduk, dan ketakutan. Anda dapat merasakan jantungnya berdegup  kencang dan ketika anda mengingat apa yang telah terjadi pada anda malam itu, teror mengisi hati anda dan untuk  bertahun-tahun anda berpikir bahwa orang-orang di luar sana dapat saja melakukan hal yang sama.
 
Bayangkan sosok diri anda ini, katakan padanya bahwa ia pantas mendapatkan apa yang telah terjadi padanya. Apakah anda dapat melakukannya ?
    
Bayangkan sosok diri anda mengisolasi diri sendiri, karena orang-orang berkata bahwa anda seharusnya malu atas apa yang telah menimpa anda. Bahwa sekarang, diri anda kotor dan lemah dan mereka menduga bahwa pasti secara diam-diam anda menginginkan hal itu; anda berharap diperkosa, dan, jika saat ini anda tersiksa maka anda pantas mendapatkannya.
 
Tatap sosok diri anda itu dan katakan padanya bahwa pemerkosaan yang terjadi padanya malam itu, pantas dia dapatkan. Katakan padanya bahwa karena ia telah berdiri sendirian di jalanan yang sepi,  meskipun jalanan tersebut adalah jalan umum yang dapat dilalui oleh siapapun dan seharusnya aman, seseorang berhak memperkosa anda dan anda pantas untuk mendapatkan perlakuan itu. Bahwa semua itu terjadi atas kesalahan diri anda sendiri.  
 
Bayangkan anda telah berhasil meyakinkan sosok diri anda tersebut; bahwa dirinya pantas untuk diperkosa. Bayangkan sosok diri anda menerima semua apa yang telah anda katakan, dan menerima fakta bahwa sekarang dirinya yakin bahwa dirinya rendah.
    
Biarkan sosok diri anda itu mengangguk dan kembali menundukkan kepalanya, dan percaya bahwa dirinya pantas untuk mendapatkan semua mimpi buruk yang telah menimpanya.
Bayangkan sosok diri anda itu tertidur dan dalam tidur itu tidak ada hal lain selain kegelapan dan teror.
    
Apakah hati anda mampu membiarkan semua itu terjadi; membiarkan diri anda mengatakan apa yang telah anda katakan padanya? Apa perbedaannya jika hal yang sama terjadi pada orang lain?
    
Saya tidak akan pernah mentolerir tindakan kriminal atau seorang kriminal yang telah merampas hak kemerdekaan seseorang atas tubuhnya sendiri. Saya tidak akan pernah mentoleransi tindakan kriminal atau seorang kriminal yang telah merampas kesadaran atas fakta, harapan, dan keyakinan di hati seseorang bahwa manusia adalah makhluk dengan empati.
    
Dan saya tidak akan pernah membiarkan diri saya gagal untuk melihat bahwa setiap diri kita memiliki hak atas tubuh dan batasan-batasan kita sendiri, dan bahwa kita harus menghormati satu sama lain atas hak-hak tersebut.
    
Sekarang bayangkan sosok diri anda tersebut, tersenyum lembut dan sama sekali tidak terluka, aman dan penuh harapan. Katakan padanya, “Maafkan saya. “ Beritahu ia dan berjanji padanya bahwa anda tidak akan pernah mengatakan apa yang telah anda katakan tadi, jika mimpi buruk itu terjadi pada sosok diri anda itu. Atau orang lain.
   
Katakan padanya bahwa ini bukanlah salahnya, peluk dia dan coba untuk buat dirinya merasa aman.
   
Saya berharap setelah anda membaca ini, anda tidak akan pernah menyalahkan korban lagi dalam kasus pemerkosaan. Karena apa yang anda ucapkan dapat saja membuat sang korban memutuskan bahwa mungkin, hanya Tuhan yang dapat menjadi sabar dan menatapnya dengan tatapan kasih sayang dan mengerti dirinya, mengerti apa yang telah terjadi pada dirinya. Dan kemungkinan besar di saat itu, dengan hatinya yang tertekan ia berpikir bahwa untuk bertemu dengan Tuhan dan merasa aman lagi, kematian adalah jalannya.
    
Dan untuk mereka yang meninggal karena dibunuh oleh pemerkosanya tepat setelah mimpi buruk itu menimpanya, terdapat kemungkinan besar bahwa ia telah membawa ingatan dari mimpi buruk itu dan kesedihan di dalam hatinya, ketakutannya, ke dalam kematiannya ketika ia menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
    
Tidak ada satu pun orang yang pantas menerima itu. Setiap dari kita pernah membuat kedua orangtua kita tersenyum, membuat teman kita tertawa. Setiap dari kita memiliki harapan dan kasih sayang.
    
Tidak peduli bagaimana keadaan sekitar anda; entah anda sendirian atau bersama orang banyak. Tidak peduli apa yang anda kenakan. Tidak ada satu pun dari kita yang pantas untuk diperkosa.
 
Saya masih memiliki kepercayaan pada kita, manusia. Saya yakin kita semua bukan monster. Dan kita sebetulnya tidak membenci satu sama lain meskipun ada hal-hal buruk yang pernah terjadi. Apakah itu salah? Jika kita tidak akan melakukan sesuatu untuk lebih baik, siapa yang akan melakukannya?
 
Nadia Hana Abraham adalah seorang mahasiswi yang tinggal di Jakarta. Dapat dikontak di nadiahabraham@yahoo.co.id dan akun Instagram @Nadiahabraham.