July 22, 2020
Sebuah Memoar Gambarkan Perjalanan Perempuan Bugis ke Eropa

Perjalanan ke Eropa membawa penulis Bini Fitriani kembali pada ingatan akan akar budayanya sebagai seorang perempuan muslim Bugis.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Bagi penulis Bini Fitriani, perjalanannya ke Eropa tidak hanya soal mengunjungi tempat wisata, mencicipi makanan lokal, atau melebur sejenak dalam kehidupan orang-orang asing. Perjalanan, baginya, adalah juga tentang mengambil jeda untuk berefleksi, dan memulihkan diri dari berbagai pengalaman buruk di masa lalu, serta memikirkan kembali tentang akarnya.

To travel was to regain control of my life and to regain my confidence. Through this journey, I can make peace with my self, give myself time to deal with my misery, forgive myself for not meeting my impossible standards, and understand that I am worth it and that I shouldn’t be so dependent about my future because it’s not in anybody’s hand but my own,” tulisnya dalam A Dream of Me and You, memoar perjalanan berbahasa Inggris yang baru saja diterbitkan oleh Bosi Karya Indonesia dalam bahasa Inggris.

Pada tahun 2009 ketika berusia 26, perempuan muslim berdarah Bugis ini menjelajah 22 negara dan 44 kota di Eropa, sendirian. Tentu ada kekhawatiran yang muncul dalam dirinya saat melakukan itu, tetapi dengan bantuan para teman, keluarga, orang-orang yang dikenalnya dari Couchsurfing dan menampungnya selama berwisata, juga orang-orang asing yang ditemuinya di jalan, Bini berhasil mewujudkan satu demi satu bucket list-nya terkait perjalanan di Eropa. 

Tulisan Bini yang reflektif menjadi kekuatan bukunya. A Dream of Me and You tidak hanya mengajak kita menikmati kota-kota yang diceritakannya secara verbal, tetapi juga menikmati sisi personal dan rapuhnya yang tidak ragu ia ceritakan. Bini bukan sekadar membukakan jurnal pribadinya untuk diketahui orang begitu saja, tetapi mengisahkan bagaimana hal-hal dari masa lalu membentuk dirinya dan bagaimana ia memandang itu semua sekarang.

Ada cerita tentang situasi rumah tangga orang tuanya yang tidak harmonis, juga kisah cinta yang mandek di tengah jalan, tetapi hal tersebut tidak menghentikan impiannya untuk berkeluarga, menjadi istri dan ibu. Membaca ini, barangkali sebagian orang berpikir, orang yang suka bertualang macam Bini, mengapa sebegitu menggebunya untuk berkeluarga? Tetapi memang itulah yang Bini rasakan dan perlihatkan dalam bukunya. Dua sisi mata uang dalam berbagai situasi: Takut sekaligus senang dan bersemangat betul menjelajahi tempat-tempat baru, cuek dan suka melakukan hal menantang meski di lain waktu tampak dilumat cemas dan kepanikan. Dengan cara inilah Bini membuat pembaca merasa lebih dekat dan berelasi dengan pengalaman-pengalamannya.

Baca juga: Ruang (Ny)aman: 'Solo Traveling' Penting Bagi Perempuan

Refleksi sebagai muslim

Bicara mengenai kedekatan, Bini juga menceritakan berbagai pengalamannya bertemu dengan orang-orang yang punya irisan dengan dirinya. Entah itu irisan pengalaman melakukan sesuatu atau kesukaan terhadap hal tertentu maupun irisan identitas. Misalnya, saat ia bertemu Adnan, seorang pria muslim dari Bosnia yang membantunya selama di kereta menuju Budapest, dan Anisa, seorang perempuan Somalia yang bekerja di Helsinki.

Dalam perbincangan dengan Anisa, mereka menyinggung soal bagaimana perempuan muslim diharapkan untuk bersikap, termasuk tidak bepergian tanpa pendampingan suami atau keluarga laki-laki. Irisan lain juga terlihat saat mereka membahas tentang perempuan yang sepatutnya bersikap pasif dan submisif, kontras dengan laki-laki.

I think it’s hard to be a feminist, religious, and practice your tribe’s culture at the same time.” Kata-kata Anisa ini menjadi salah satu bagian refleksi, tidak hanya bagi Bini, tetapi juga pembaca yang merasa berelasi dengan pengalaman Bini dan Anisa.

Di samping irisan kesamaan antara Bini dan orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan, ia juga mendapati situasi yang berbeda dengan kehidupannya di Indonesia. Misalnya, tentang orang-orang Norwegia yang cenderung tertutup, berjarak, dan tak begitu ekspresif, lain dengan pengalaman Bini semasa hidup di Makassar. Atau ketika Bini membeli tiket dari seorang pengemis di Paris alih-alih dari konter tiket, dan dihardik petugas karena hal itu dianggap ilegal di sana. Perbedaan-perbedaan dalam praktik keseharian yang ditemukan Bini selama di Eropa menjadi bumbu dalam kisah-kisah perjalanannya ini. 

Baca juga: 5 Pesan untuk Anak Perempuan Agar Tangguh dan Mandiri

Petikan kehidupan sebagai keturunan Bugis juga Bini sematkan dalam ceritanya, terutama ketika berdiskusi dengan Tante M di Belanda. Ia membahas mengenai Siri’, suatu konsep tentang kehormatan dalam masyarakat Bugis, di mana perempuan punya tanggung jawab besar dalam menjaganya. Sementara, Tante M bercerita tentang bagaimana ia berhadapan dengan konflik budaya ketika memutuskan menikahi orang asing. Di samping itu, Bini juga bercerita soal pengalaman menstruasi pertamanya dan bagaimana hal itu dimaknai dalam tradisi Bugis.

Isu perempuan lain yang muncul dalam A Dream of Me and You adalah tentang praktik sunat perempuan yang Bini alami saat kecil. Di samping itu, Bini juga mengangkat masalah pelecehan seksual yang dia dapatkan dari seorang laki-laki ketika berada di Brussel-Midi/Zuid station yang mengingatkannya pada pengalaman dilecehkan oleh seorang guru agama ketika masih SMA.

Ketika bercerita tentang ibunya, Bini memotret masalah perjodohan orang tuanya yang menyebabkan sang Mama harus melepaskan impian-impiannya, termasuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Berkaca dari pengalamannya, sang Mama berpesan agar Bini tidak mengulang kisahnya dulu.   

Bini membungkus ceritanya dengan menyampaikan bahwa seberapa jauh pun ia melangkah atau seberapa besar pun pengaruh modernitas terhadapnya, ia tidak akan lepas dari akar budayanya. Pergi jauh ke luar negeri tidak membuatnya lupa akan segala yang ada di tempat asal, malah mengingatkan Bini kembali kepada nilai-nilai yang selama ini telah ditanamkan kepadanya dari keluarga dan yang ia pelajari seiring berkembangnya pola pikir, juga tentang impian semasa kanak-kanaknya.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop