Women Lead
June 08, 2021

Seperti Dinginnya Hujan

Setelah kita berpisah, aku paham, inilah yang aku butuhkan, setelah selama 12 tahun bersama lelaki yang salah.

by Katarina Retno
Culture // Prose & Poem
tips menghadapi putus cinta
Share:

Bagiku hujan membawa rasa dingin yang menyebabkan perasaan nyaris beku. Itu terasa selama bertahun-tahun. Namun, hujan kali ini terasa berbeda. Aku menikmati dinginnya. Ternyata, dingin itu tidak menakutkan. Aku hanya harus berani menghadapinya. 

Mama selalu bilang hujan bermakna keberkahan. Titik-titik air itu menjadi simbol rezeki. Kehidupan tetap berjalan karena terpenuhinya salah satu sumber hidup itu sendiri. 

Hujan selesai turun. Namun, mendung masih tebal. Aku berlari-lari kecil menghindari kubangan air. Sepatuku basah. Demikian juga pakaian yang kukenakan. Aku merindukan sofa, secangkir kopi, dan buku yang ingin kubaca. Itu sebabnya, sesampai di rumah, segera kututup pintu. Dengan tergesa-gesa kubersihkan tubuh. Dengan hanya berbalut jubah mandi, kujerang air. 

Ternyata benar. Hujan turun lagi. Lebih cepat dari dugaanku semula. Gemuruh guntur terdengar. Tempias hujan mengumpulkan titik-titik embun di jendela. Kusentuh kaca jendela dan kugerakkan telunjuk di sana. Kucoba menulis sesuatu meski tahu tulisan itu akan hilang beberapa saat kemudian. Tak apa. Aku hanya ingin menulis di sana. 

“Kamu masih menyukai hujan meski tak suka dinginnya?” Aku terkejut dan lekas menoleh.  Kamu berdiri dengan kedua tangan berada di saku celana. Tubuhmu setengah bersandar di pintu. Tatapanmu mengingatkanku pada masa bersama selama dua belas tahun. 

Tanganku bergerak merapatkan jubah mandi yang kukenakan. Dalam hati aku menyesal tidak segera berpakaian. Namun, sebenarnya aku tidak salah. Ini rumahku. Aku berhak mengenakan apa pun di sini. Pertanyaannya, mengapa kamu ada di sini?

Baca juga: Meneguk Air Mata

Aku merasa gugup. Memang kamu juga punya kunci pintu rumah ini. Aku baru ingat kuncinya memang belum kamu kembalikan padaku. Suara air mendidih mengalihkan perhatian. “Kopi?” tanyaku.

Kamu mengangguk. Kusiapkan dua cangkir kopi. Satu cangkir kopi tanpa gula untukmu, dan satu cangkir kopi dengan sedikit gula untukku. Kuletakkan cangkir kopi. Kita duduk berseberangan di meja bundar yang ada di tengah dapur.

Aku tak tahu apa yang membawamu hadir di sini, di tengah hujan seperti ini. Jadi, kuputuskan menunggu penjelasanmu. Kupandangi cangkir kopi yang mengepulkan uap. “Apa kabarmu?” Suaramu masih begitu tenang. Seolah memang tak pernah ada badai mengamuk di dalam hatimu.

Aku mengalihkan perhatian dari cangkir kopi ke wajahmu. “Baik seperti yang kamu lihat.”

“Kamu tampak bahagia dan sedikit gemuk.” Aku mengangkat bahu. Perempuan tidak suka dianggap gemuk. Berat badanku memang sedikit bertambah. Namun, bagiku itu bukan masalah. 

“Kamu bahkan minum kopi manis sekarang.” Bagiku, sesekali menambahkan sedikit gula juga bukan masalah. Kutelusuri bibir cangkir dengan jemariku. Kurasai hangat cangkir kopi itu. Kamu berdeham. Mungkin kamu ingin membuatku mengalihkan perhatian dari cangkir ini kembali padamu. Namun, aku lebih suka memandangi cangkir kopi ini. Bahkan, aku lebih suka mendengar bunyi hujan yang sepertinya makin deras saja di luar sana. 

“Re, aku minta maaf.” Aku diam saja. Untuk apa kamu datang dan mengucapkan ini? 

“Aku minta maaf jika selama kita bersama, kamu sedemikian tersiksa denganku. Setelah kita berpisah dan kulihat kamu makin bahagia, akhirnya bisa kupahami bahwa inilah yang kamu butuhkan. Kamu menunggu cukup lama, dua belas tahun, bersama lelaki yang salah.”

Aku masih menunduk dan memandangi kopi. Sesungguhnya aku pernah menunggu kata-kata ini. Namun, akhirnya kutahu sesuatu. Aku tidak membutuhkan itu. Aku hanya ingin kamu jauh, meski tak berarti membencimu.

“Bagaimana studimu?” Kali ini aku mengangkat wajah. Empat puluh lima usiamu. Wajahmu terlihat tirus. Kantung mata menggayut menunjukkan kamu masih suka menghabiskan waktu bekerja nyaris tanpa istirahat. Sebenarnya apa yang kamu cari?

“Lancar,” jawabku pendek. Kulihat kamu tersenyum. “Syukurlah. Anak-anak pun tampaknya tidak mengalami kendala yang berarti. Setiap kali bersamaku, mereka tampak bahagia. Kuharap setiap mereka bersamamu pun mereka merasakan hal yang sama.”

“Ya. Bertahun-tahun aku khawatir dengan mereka. Nyatanya, kekhawatiran itu tidak beralasan. Mereka baik-baik saja.” Aku mengangkat bahu. Sudah kualami masa ketika anak gadisku menolak keputusan berpisah ini dan membela ayahnya. Namun, itu sudah berlalu. 

“Mereka sempat merasa sedih juga,” kataku setelah menyesap kopi. 

Kamu mengangguk. “Ya, benar. Sesekali dalam hidup ini memang kita mengalami masa seperti hujan menjelang Imlek. Hujan yang meski menjadi pertanda keberkahan, tapi juga terasa dingin dan membuatmu mudah sakit.”

Ah, kamu masih ingat rupanya kalau aku mudah sakit karena dingin. Kupikir selama ini kamu bahkan tak tahu kalau aku tak bisa terkena dingin. Kunyalakan sebatang rokok. Kubiarkan asap rokok menyatu dengan uap kopi. Kemudian kubayangkan keduanya berlarian ke luar dan berbaur dengan angin yang menyertai hujan yang masih turun. 

Baca juga: Berenang di Kala Hujan

“Apakah kamu membenciku, Re?” Pertanyaanmu membuatku bingung. Mengapa aku harus membencimu? Bukankah sudah sangat jelas apa yang kulakukan selama ini? 

“Kupikir akulah hujan itu untukmu. Hadir meski kamu tak peduli. Kamu mungkin tak tahu apa bedanya hujan ini dengan hujan di waktu yang lain. Semakin lama bersamamu, semakin aku tahu bahwa aku tidak pernah berada di prioritasmu. Tapi aku bisa apa? Atau aku memangnya mau apa? Kupikir anak-anak yang ada di urutan pertamamu. Nyatanya tidak. Semua yang kamu lakukan sebenarnya adalah tentang dirimu sendiri.”

Kamu terdiam. Kamu pandangi cangkir kopi itu. Aku baru sadar kamu tak mengeluarkan rokok. Kamu juga tidak tergoda mengambil rokok milikku. Apakah aku melewatkan banyak hal? Rasanya tidak. Kamu memang sudah lama tidak merokok. Sedangkan aku, seperti keinginanku dulu, kembali merokok. 

“Aku mungkin yang harus minta maaf padamu karena mengambil keputusan berpisah. Muncul pemikiran dalam diriku bahwa kehidupanku sama pentingnya dengan kehidupanmu. Itu sebabnya, kupikir tak ada yang lebih bijak dari keputusan berpisah ini. Lagi pula, sama seperti hujan yang turun, kita harusnya bisa saling menghidupi bukan sibuk dengan diri sendiri,” kataku. 

“Apakah …”

“Tidak ada.” Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan. Sudah terlalu banyak orang yang bertanya hal yang sama. Dengan nada ragu-ragu yang sama dan kekentalan kecurigaan yang sama. “Tidak ada siapa-siapa. Baik itu yang memengaruhi, atau menunggu kesendirianku,” kataku. Kulihat kamu menghela napas. Mungkin terselip sedikit rasa malu. 

“Selama ini kupikir kamu adalah batu yang akan terkikis karena tempaan hujan. Aku pikir kamu akan berubah. Maksudku, keputusan untuk menikah kan berarti ada banyak yang harus diubah.” Aku berdeham. Kutegakkan posisi dudukku kemudian kembali berkata, “Bagaimana pun, setiap orang yang memutuskan menikah mestilah saling menyesuaikan diri. Tapi kurasa, aku salah. Kamu bisa meneruskan apa yang selama ini kamu lakukan. Aku bisa meneruskan hidupku.”

“Tapi aku mencintaimu.”

Aku ingin tertawa. Tawa yang keras dan deras serupa hujan di luar sana. Kumatikan rokokku. Kulirik jam dinding dan berkata, “Sudah malam. Anak-anak sedang di rumah Mama selama akhir pekan ini. Ada baiknya kamu pulang.”

Sama seperti hujan yang turun, kita harusnya bisa saling menghidupi bukan sibuk dengan diri sendiri.

Kulihat selarik luka di sorot matamu. Kamu kemudian berdiri, tersenyum sekilas lalu melangkah menuju pintu. “Aku ingin mengajakmu memulai lembaran baru,” katamu perlahan.

“Kita baru saja memulai lembaran baru, bukan?” tanyaku.

Kamu mengangguk. Kemudian pergi, berjalan perlahan di bawah guyuran hujan. Hujan yang tak bisa kamu bedakan dengan hujan di masa yang lain. 

Katarina Retno Triwidayati adalah ibu dari dua anak yang bekerja sebagai dosen.