February 25, 2024
Gender & Sexuality Issues Opini

‘Cantikan Aku atau Dia’, Alasan Perempuan Sering Bandingkan Fisik dengan Sesama

Lahir dengan kelainan fisik bawaan, penulis belajar untuk tidak menetapkan nilai diri dan orang lain sebagai manusia dari penampilan luar.

Avatar
  • August 25, 2023
  • 6 min read
  • 1982 Views
‘Cantikan Aku atau Dia’, Alasan Perempuan Sering Bandingkan Fisik dengan Sesama

Menjadi perempuan itu sulit. Kita dibombardir oleh foto-foto editan di majalah mode yang mengajari tentang definisi cantik: Rambut panjang hitam dan lurus, kulit seputih seprai yang baru dikanji, sepatu dengan hak yang lebih tinggi dari halte TransJakarta, dan lain-lain. Tidak ada habisnya.

Sedang menonton liputan Ibu Sri Mulyani yang mblusukan ke kantor pajak? Tiba- tiba ada iklan yang menampilkan perempuan cantik langsing berdarah campuran berusia 20 tahun yang tersenyum dan mengatakan, ”Kamu frustrasi karena habis melahirkan tidak kurus-kurus? Saya langsing karena minum Something Stupithin. Efektif melunturkan lemak tanpa diet ketat.”

 

 

Adegan itu diikuti dengan musik yang diharapkan bisa memacu adrenalin calon pembeli, kalau-kalau paras mbak Indo masih kurang menjual. Tidak lupa ditutup dengan langkah tubuh langsing dibalut rok sepan, rambut panjang ikal yang disibak dan beberapa pria yang menoleh memutar badan untuk mengagumi si mbak.

Reaksi pertama kita mungkin menggerutu,”Ih langsing begitu tahu apa sih tentang lemak?” Lalu berjalanlah kita ke cermin setinggi badan dengan lampu yang disetel tidak kalah terang dengan lampu meja operasi jantung. “Satu, dua, tujuh gelambir. Kayaknya aku memang perlu Sumting something itu deh. Kalau nggak, kapan lakunya aku?” Dan lupalah kita pada Ibu Sri Mulyani nan cerdas.

Kita sebagai perempuan sepertinya senang sekali berlomba membandingkan kecantikan dengan teman-teman kita sendiri, artis sinetron di televisi yang kita bahkan tidak kenal, sampai supermodel Kate Upton. Hal ini dapat dimengerti, karena manusia memang sudah terprogram dari sananya untuk membandingkan diri satu sama lain. Yang tidak wajar adalah bila kita mulai menilai dan menghakimi perempuan lain dari apa yang mereka kenakan, cara berdandan, atau bahkan gaya mereka berbicara. Bahkan kita meminta teman-teman untuk mengurangi kadar semua itu untuk menenggang perasaan kita.

Rasanya saya belum pernah mendengar ada laki-laki yang menelepon temannya sebelum janjian bertemu di mal dan berkata,”Eh bok, kamu jangan dandan ganteng-ganteng ya. Soalnya aku lagi nggak dandan nih, nanti kebanting.“ Kemungkinan besar ada teman perempuanmu yang pernah bilang begitu kan? Atau mungkin kamu sendiri yang minta begitu ke temanmu?

Baca juga: Berdampak Fatal, Setop Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Teman-teman perempuan saya cantik dan modis dengan gaya yang menegaskan kepribadian mereka masing-masing. Saya memang selalu tampak kurang gaya jika dibandingkan dengan mereka. Dengan tinggi badan dan sepatu hak tinggi mereka yang jika digabung mencapai 170 sentimeter lebih, saya yang hanya setinggi 148 sentimeter menjadi terbenam. Tapi tidak pernah sekali pun saya meminta mereka untuk tidak berdandan cantik dan mengenakan sepatu hak tinggi. Tidak adil rasanya bila kita memaksa orang lain merendah hanya untuk membuat diri kita sendiri lebih tinggi.

Seorang mantan teman setiap kali bertemu saya selalu berkomentar, ”Ih gemuk ya kamu.” Pertemuan berikutnya,”Ih kurus banget kamu, kelihatan makin tua.” Berikutnya saat tema berat badan sudah tidak menambah pengikut Instagramnya, ia berkomentar, ”Kalau kamu senyum, keriput kamu semakin banyak lho. Nanti kamu tidak laku.” Saya rasa kamu mengerti kenapa saya sebut dia mantan teman. Saya tidak anti kritik, tetapi saya lebih memilih untuk memperbanyak teman yang mendukung saya untuk maju dengan kritik yang bermutu dan membangun.

Saya terlahir dengan disabilitas bawaan yang membuat saya harus melewati selusin operasi besar agar dapat berjalan. Bekas luka panjang hasil karya seni dokter bedah di tubuh saya saling-silang membuat saya merasa seperti mantan bajak laut.

Saya ingat bertahun-tahun lalu sulit rasanya melihat cermin dan berjalan bersama teman-teman saya. Mereka gemulai dengan sepasang sepatu stiletto, sementara saya terpincang-terpincang dengan sepatu olahraga butut yang harus saya pakai karena saya tidak dapat berjalan tanpa besi penampang di telapak kaki saya.

Dulu mimpi saya sederhana saja, saya hanya ingin mengenakan sepatu berhak 5 sentimeter. Tetapi sejak saya menerima bahwa saya tidak akan pernah mengenakan sepatu hak tinggi (bisa pakai sandal jepit saja sudah bahagia banget) dan mensyukuri apa yang saya miliki, sudut pandang saya berubah. Saya belajar bersyukur bahwa disabilitas mengajari saya untuk tidak menetapkan nilai diri saya sebagai seorang manusia dari penampilan luar. Saya juga belajar untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang-orang lain.

Seiring waktu saya semakin menyadari betapa kita sebagai perempuan terlalu banyak menggantungkan nilai diri kita dari kecantikan fisik. Saya beruntung bahwa saya terlihat terlalu berbeda untuk menghakimi diri saya sendiri dengan standar kecantikan yang normatif. Saat saya berhenti menghakimi diri sendiri, secara otomatis saya juga berhenti menghakimi. Saya menjadi kuat dari kelemahan saya.

Beberapa tahun lalu saya diundang ke pesta kolam renang oleh seorang teman yang berprofesi sampingan sebagai model. Sayang sekali saat itu ia baru cedera, di betis kirinya terlihat memar hitam besar. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan berganti dengan baju renang karena tidak percaya diri dengan lebam di kakinya.

Saya (nyengir gemas): “Jeung, kamu tuh cantiknya kelas dewi. Mau kaki kamu di-gips juga tetap cantik, apalagi cuma memar. Tidak ada yang akan merhatiin. Percaya deh sama aku. Kalau aku salah, aku traktir steak ya!”

Namun, ia tetap menolak. Mungkin ia diam-diam jadi vegetarian, jadi takut saya traktir steak.

Jadilah saya yang terjun ke kolam dengan bekas luka panjang 35 sentimeter di paha dan punggung, serta kaki kanan yang bengkok dan kecil. Saya menolak untuk dibatasi ‘ketidaksempurnaan’ saya. Dan ternyata tidak ada yang peduli dengan bekas luka saya. Semua orang sibuk tertawa dan bercanda, sedangkan teman saya hanya duduk menonton dari kejauhan. Apakah dia happy duduk sendiri dengan suara-suara di kepalanya yang mengatakan bahwa nilainya jadi berkurang bila ia tidak cantik sempurna? Tidak.

Baca Juga:  Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story

Jadi tahukah kamu, bahkan perempuan-perempuan yang kamu anggap cantik seperti para model majalah juga bisa krisis percaya diri sepertimu? Kita semua berada di perahu yang sama, dengan kerapuhan yang tak jauh berbeda.

Bila kamu sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain, berhentilah. Tuhan sudah menciptakan kamu dengan berbeda namun sempurna. Sayangi dan syukurilah segala keunikan yang kamu miliki. Jangan biarkan nilai diri kamu diukur dengan standar yang ditetapkan orang lain.

Bila kamu sering menghakimi dan berkomentar negatif, tanyakanlah pada diri kamu sendiri, apakah kamu juga sedang krisis percaya diri? Apakah kamu berusaha membuat diri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain?

Ingatlah ini, sahabatku sesama perempuan, cantik adalah saat kamu menerima semua kekuranganmu dan belajar bahagia dengan dirimu sendiri. Aduh please, jadi perempuan itu sudah susah, kita sesama perempuan tidak usah saling bikin tambah susah lagi.

Wiwiek Lestari lahir dengan kelainan fisik bawaan yang menyebabkan disabilitas parsial. Ia menikmati alam, memperhatikan orang dan berkontemplasi. Mengaku dirinya introvert, saat ini ia sedang meniti mimpi masa kecil untuk menjadi penulis.

Artikel ini telah diedit ulang redaksi untuk tujuan pendidikan.


Avatar
About Author

Wiwiek Lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *