October 02, 2019
9 Strategi Aman untuk Tetap Bisa Melawan

Strategi keamanan sederhana berikut dibutuhkan oleh siapa saja yang tidak gentar mengkritik penguasa.

by Caesar Abrisam, Digital Media Engagement Specialist
Issues // Politics and Society
Share:

Akhir-akhir ini berita dan lini massa media sosial dipenuhi dengan kabar tentang para pelajar dan sejumlah aktivis yang ditangkap saat ikut berdemonstrasi untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Bentrok dengan aparat tidak bisa dihindarkan. Polisi memukul mundur paksa para peserta aksi dengan water canon dan gas air mata. Banyak juga peserta aksi yang dikejar, mendapat tindakan kekerasan, bahkan ditangkap tanpa diberikan akses pendampingan. Dua peserta aksi di Kendari meninggal dunia karena tindak kekerasan dari apparat. Sementara ratusan peserta aksi lainnya di berbagai kota mengalami luka-luka.

Untuk itu, rencana keamanan dibutuhkan bagi siapa saja yang tidak gentar dalam mengkritik penguasa atau otoritas lainnya, terlepas apakah kamu aktivis, pelajar, tidak tergabung dalam organisasi, atau lainnya.

Bagi kamu yang juga ikut bersuara, bersolidaritas, dan berpartisipasi dalam aksi mengkritik pemerintah, berikut beberapa tips keamanan sederhana yang dapat kamu lakukan untuk berjaga-jaga dari hal yang tidak mengenakkan. Strategi ini digunakan oleh organisasi yang mengadvokasi hak-hak kelompok minoritas tempat saya bekerja dulu, dan sudah saya sederhanakan. Tips ini juga berguna untuk membangun solidaritas kolektif antara kamu dan teman-teman yang mempunyai tujuan yang sama.

  1. Buatlah grup komunikasi kecil bersama teman-teman terdekatmu dan kirim kabar, kondisi, serta lokasimu secara berkala. Jangan pakai nama grup yang secara jelas menggambarkan aktivitas kalian. Gunakan nama yang mudah diingat, lucu, namun susah ditebak. Daripada “Grup Persatuan Mahasiswa Tolak RUU DPR”, lebih baik pakai nama semacam “Alumni Taruna Darma Persada Raya”. Gunakan nama-nama tersebut hanya di ranah digital saja.
  2. Kirim tangkapan layar rute transportasimu pada grup kecilmu jika kamu akan bepergian ke tempat yang kurang aman, di waktu yang rawan, dan jika pengemudi atau lingkungan tidak membuatmu merasa aman. Usahakan ada pelat nomor kendaraan dan kode pengemudi dalam tangkapan layar tersebut.

Baca juga: Kenali ‘Buzzer’, Hadapi Persekusi Digital

  1. Buat kode tingkatan bahaya sehingga jika terjadi sesuatu padamu, teman-teman yang lain dapat dengan sigap bertindak sesuai kode yang kamu berikan. Lebih baik gunakan kode unik dan lucu supaya tidak hanya mudah diingat tapi juga mengurangi kepanikan. Misalnya, kelinci untuk "aman", kerbau untuk "ada potensi bahaya", beruang untuk "bahaya, darurat dan butuh bantuan", dan semacamnya.
  2. Saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan dan kewarasan. Di situasi yang tidak dapat diprediksi dan rentan akan ancaman, kita akan mudah stres, panik, dan takut. Jika perasaan itu meningkat pesat, akan sulit bagi kita untuk berpikir jernih dan fokus saat melakukan suatu tindakan atau mengambil keputusan. Maka penting sekali untuk saling mengingatkan dan menenangkan satu sama lain.
  3. Siapkan tas siaga untuk dibawa bersamamu setiap bepergian, yang utama berisi:
  • Identitas sah dengan foto dan masih berlaku (KTP, SIM, Paspor, Kartu Pers jika kamu jurnalis, kartu mahasiswa, kartu pelajar, dll).
  • Uang tunai
  • Air minum, vitamin, dan obat-obatan pribadi
  • Satu set pakaian ganti dan alat mandi
  • Makanan ringan mudah saji yang kaya protein dan karbohidrat seperti coklat, roti, susu, sereal.
  • Pulpen, kertas, daftar kontak darurat.
  • Peluit, senter, dan bank daya (power bank)
  1. Simpan minimal enam kontak darurat di dalam tas siaga, yakni dua kontak teman dari grup kecilmu, dua kontak teman di luar grup kecilmu, serta dua kontak bantuan hukum atau jaringan pendukung. Pastikan empat kontak di dalam grup dan di luar grup kecilmu juga menyimpan kontak bantuan hukum dan jaringan hukum yang masing-masing kamu pilih.

Baca juga: How Indonesians’ Political Lenses Affect Our View on Hong Kong Protests

  1. Jika kamu adalah bagian dari organisasi atau identitas minoritas serta mempunyai lambang, penanda, atau atribut yang biasa dipakai oleh orang-orang dari organisasi atau identitas yang sama denganmu, ada baiknya kamu mengukur tingkat kerentanan dan keberanianmu, serta mempertimbangkan risiko ke depan jika kamu ingin tetap memakai atribut tersebut.
  2. Bila kamu berada dalam situasi tidak aman atau darurat dan membutuhkan bantuan, segera tarik nafas panjang dan tetap tenang. Kirim lokasimu saat itu ke grup kecilmu, kirim pesan, misalnya, "BERUANG” disertai kabar singkat kenapa kamu butuh bantuan. Analisis situasimu lebih lanjut, dan bila memungkinkan hubungi kontak daruratmu. Sebisa mungkin kamu mengabadikan kejadian yang kamu hadapi seperti merekam suara atau merekam gambar. Tetap tenang dan ulur waktu sampai bantuan datang.
  3. Bila teman kamu berada dalam situasi tidak aman atau darurat dan membutuhkan bantuanmu, segera tarik nafas panjang dan tetap tenang, ingatkan temanmu untuk mengirim informasi posisi serta kondisinya, dan cari bantuan.

Tips ini disusun bersama Poci, teman satu organisasi saat melakukan petualangan menemui komunitas minoritas gender dan seksualitas di berbagai pelosok Sumatra dan Jawa.

Caesar Abrisam adalah seorang transpria. Baginya, jalan-jalan, makan, dan bertemu komunitas merupakan healing. Kadang jadi desainer, kadang jadi artivis. Pecinta Buzz Lightyear dan sate. Follow @kaisarcaesar_