September 22, 2020
Sulitnya Gapai Impian Setelah Jadi Ibu

Sulit sekali menggapai impian mendapatkan pendidikan tinggi bagi perempuan setelah ia menjadi ibu.

by Nurul Ichlasiah Jaya
Lifestyle
Singlemom_Single Mother_KarinaTungari
Share:

Katanya, perempuan adalah sekolah pertama untuk anaknya. Namun, ketika seorang ibu memilih untuk melanjutkan pendidikan, maka ia akan disebut gagal menjadi ibu yang baik karena dianggap mengorbankan keluarga, terutama anak. Padahal untuk bisa membesarkan anak, orang tua pun harus memperkaya diri dengan pengetahuan dan keterampilan, termasuk sang ibu.

Hal inilah yang sering kali menjadi momok menakutkan bagi para ibu yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda bila suami atau bapak yang melanjutkan pendidikan. Apa pernah seorang bapak dikomentari, “Kok lanjut kuliah, anak lo gimana?” Sementara pertanyaan ini sudah hampir pasti ditujukan pada sang ibu.

Konstruksi sosial kita masih menganggap karier tertinggi seorang perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga, sehingga pendidikan sampai jenjang S3 pun tetap tidak akan dianggap. Perempuan mampu melakukan multiperan di bidang apa pun yang ia senangi, sebagaimana laki-laki juga bisa berperan dalam banyak bidang sekaligus. Memilih berkarier ataupun melanjutkan pendidikan bukanlah kesalahan, bukan juga keputusan egois.  

Sayangnya, bagi para ibu berkarier, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, apalagi dengan beasiswa ke luar negeri, akan menjadi bahan pergunjingan. Sama halnya bila anak melakukan sebuah tindakan buruk, hal itu akan dikaitkan dengan kegagalan sang ibu yang tidak bisa membesarkan anaknya dengan baik, akibat pergi kuliah ataupun bekerja. Padahal jelas, anak yang dibesarkan oleh ibu yang tidak berkarier pun belum tentu akan memiliki perilaku yang lebih baik. Dan lagi-lagi, kesalahan ditimpakan kepada ibu seorang, tanpa melihat  bagaimana peran ayah dalam pengasuhan, meski seyogianya membesarkan anak adalah tugas ayah dan ibu, bukan hanya ibu.

Baca juga: Rasa Bersalah, ‘Teman Toksik’ Para Ibu yang Perlu Diputuskan

Saya sendiri butuh waktu beberapa tahun setelah melahirkan hingga akhirnya memutuskan untuk kembali bekerja dan melanjutkan pendidikan saya. Bagaimana saya meyakinkan diri bahwa saya juga layak meningkatkan pengetahuan dan kapasitas diri tidaklah mudah. Saya harus berpikir ribuan kali, hal yang tidak akan terlalu saya pikirkan jika saya bukanlah seorang ibu.

Sementara itu, saya pun ingin menunjukkan pada anak saya bahwa meskipun saya bekerja, saya tetaplah ibu yang menyayanginya, yang tetap menjalin kedekatan emosional dan memahami kebutuhannya. Sehingga nantinya ia pun bisa memahami bahwa perempuan tetap dapat berdaya dan berkontribusi  di mana pun mereka berada.

Luka batin dan toxic parenting

Stigma negatif untuk perempuan berkarier ataupun berpendidikan tinggi yang terus dipupuk oleh masyarakat inilah yang menyebabkan para ibu terjebak dalam pergulatan batin, yang membuat mereka harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Kesedihan seorang ibu yang tidak dapat meraih mimpinya ini, bila tak ditangani dengan benar, justru berbahaya, karena bisa menimbulkan kepahitan.

Baca juga: Salah Sendiri Punya Anak: Derita Orang Tua di Era Pandemi

Ia, misalnya, bisa membenci orang lain yang merupakan sosok yang ia impikan, dan berperilaku marah dan kasar terhadap orang tersebut. Kemarahan yang ia tumpahkan merupakan refleksi tekanan ataupun tanda bahwa ada luka menganga yang tak kasat mata.

Lebih sulitnya lagi, cita-cita yang tak dapat ia raih itu menjadikan dirinya orang tua yang toksik. Apalagi bila ditambah dengan pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan. Ada yang melakukan kompensasi dengan memaksakan sesuatu kepada anak tanpa mempertimbangkan minat dan kemampuan si anak. Jadilah mereka ibu yang mematikan potensi anak. Anak dituntut untuk mewujudkan keinginan terpendam ataupun ambisi berlebih sang ibu. Bila anak tak menurut, ia akan dicap sebagai anak durhaka dan tak tahu terima kasih.

Pola asuh toksik ini berpotensi menjadi tindak kekerasan pada anak. Ketika anak mendapat pola pengasuhan toksik, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang juga toksik, dan siklus itu terus berlangsung menjadi lingkaran setan.

Sudah saatnya kita berhenti menilai seorang ibu dari pilihannya, karena apa pun itu, pilihan tersebut adalah valid dan seharusnya didukung. Jadilah sistem pendukung bagi para ibu untuk mengembangkan potensinya, karena menjadi ibu bukan berarti ia harus menguburkan mimpi-mimpinya.

Nurul Ichlasiah Jaya adalah seorang ibu dari anak lelaki berusia enam tahun, saat ini bekerja di sebuah LSM di bidang Kesehatan Reproduksi. Ia penulis buku cerita anak “Lena si Rambut Keriting” sebagai bentuk kecintaannya pada tanah Papua yang pernah ia tinggali selama enam tahun. Ia juga penggemar jalan-jalan dan menyelam. Sila mampir ke instagramnya di @roel_riot