September 28, 2020
Teruntuk Sahabat-sahabat Lelakiku: Ayolah, Aku Juga Perempuan!

Terbiasa dikelilingi sahabat laki-laki membuatku direndahkan dan merendahkan perempuan.

by Ayu Ammalia
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Saat banyak perempuan di sekolahku diet, mencatok rambut, dan mengecilkan seragam untuk membuat diri mereka lebih cantik dengan keinginan untuk bisa dekat dengan teman laki-laki yang mereka suka, aku yang tumbuh dengan badan tinggi besar dan bahu lebar tidak perlu repot-repot melakukannya. Anak-anak laki-laki sudah menganggapku salah satu dari mereka.

Meskipun tidak sampai nongkrong dan merokok di toilet belakang sekolah, aku tetap mendapat kursi di ruang diskusi para laki-laki. Topiknya: teman-teman perempuan. Beberapa bercerita tentang apa yang ingin mereka lakukan pada pacar mereka kalau punya kesempatan sendirian. Ada yang mendeskripsikan apa yang ia suka dari berciuman. Ada yang melirik teman perempuan yang lewat lalu berkata, “Pasti sudah sering dipegang cowoknya, liat aja montok gitu.” Seseorang bahkan pernah memuji bentuk bibirku yang menurutnya bagus, “Pasti sering ciuman”.

Cerita-cerita mereka menjijikkan dan aku benar-benar tidak ingin mendengarnya. Kemudian beberapa dari mereka memuji selera musikku yang mirip dengan mereka, memuji selera filmku yang mereka suka juga, mengatakan bahwa aku “berbeda dari perempuan-perempuan yang mereka kenal”.

Untukku, di situlah letak masalahnya.

Lama-lama, karena sering mendengar betapa berbedanya aku dari mereka aku mulai membangun tembok tinggi, aku memang berbeda dengan mereka. Aku mulai memandang teman-teman perempuanku seperti bagaimana teman-teman laki-lakiku melihat mereka. Bahwa mereka sebatas lucu saja, keahlian mereka hanya membuat diri mereka terlihat menarik di depan laki-laki, dan persona apa pun yang mereka tampilkan adalah untuk menarik perhatian laki-laki.

Baca juga: ‘Kamu Enggak Kayak Perempuan Lain’ Itu Bukan Pujian

Aku malu mengakuinya, tapi untuk waktu yang cukup lama aku mereduksi teman-temanku jadi sekedar cantik saja. Kalau ada yang berisik aku akan terganggu dan berpikir, “Dia ini ingin menarik perhatian teman laki-laki yang mana sih?” Dan ketika mendengar sahabatku dibuat sakit hati oleh seseorang yang sudah punya pacar, aku cuma berpikir, “Perempuan-perempuan cantik ini seenaknya saja ya, inginnya punya banyak pengagum” tanpa berpikir bahwa mungkin ia memang kesepian.

Untuk waktu yang lama, teman-teman perempuanku terasa jauh. Sejauh kata cantik; sejauh pujian barista lewat tulisan “Semangat kakak cantik!” di gelas kopiku; sejauh badan kecil yang cocok memakai baju apa saja; sejauh teman-teman laki-laki yang aku suka; yang selalu menganggapku sekedar sahabat baik saja karena di mata mereka aku bahkan bukan seorang perempuan.

Seksisme terpendam

Aku mulai menyadari bahwa pandanganku yang merendahkan teman-teman perempuan datang dari rasa iri. Karena aku tidak punya apa yang mereka punya, karena aku juga ingin jadi seperti mereka tapi yang aku dengar selalu sebaliknya, sehingga yang aku rasa juga selalu sebaliknya. Aku mencari cara untuk membuat diriku merasa lebih baik, dan dengan malasnya aku memilih berteman dengan apa yang di kemudian hari baru aku aku ketahui kalau ia bernama internalized misogyny (misogini yang terinternalisasi). Ternyata yang aku rasakan adalah seksisme terpendam yang tentu saja tidak pada tempatnya dan tidak sepatutnya ada.

Baca juga: Tak Ada yang Aneh dari Perempuan Mendukung Perempuan Lain

Semasa kuliah aku mulai menemukan teman-teman perempuan yang bisa dekat denganku. Pelan-pelan aku mulai memandang diriku sebagai perempuan kebanyakan, karena seperti teman-teman perempuanku, aku juga suka musik-musik yang bikin aku merasa ada di dalam adegan film. Seperti teman-teman perempuanku, aku juga suka menonton drama Korea yang pemeran utamanya tampan. Seperti teman-teman perempuanku, aku juga sudah mulai merasa lelah menempuh jalan yang jauh dan curam penuh trauma dan kemarahan. Kata cantik pelan-pelan mulai terasa jadi bagian alami dariku, dan akhirnya setelah lumayan lama, aku akhirnya merasa kalau aku adalah perempuan yang selama ini aku inginkan, perempuan sungguhan.

Tentu saja selama ini aku juga adalah perempuan sungguhan, tapi untuk pertama kalinya aku merasa jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Aku merasa terhubung dengan perempuan-perempuan di sekitarku, menyadari kalau kita punya banyak kesamaan. Kita sedang sama-sama kesulitan, sama-sama berusaha, dan sama-sama sedang melawan dunia. Semua terasa lebih bisa dilalui dan aku merasa lebih kuat. Mendadak aku mual mengingat bagaimana selama ini aku membenci perempuan-perempuan yang sekarang keberadaannya bikin aku senang tiap hari.

Teman laki-laki di kampus juga melihatku sebagai perempuan. Mereka akan menegur satu sama lain kalau ada yang kelepasan bercanda atau bicara tidak sopan soal perempuan. Dan untuk pertama kalinya ada laki-laki yang mendekatiku karena tertarik pada keperempuananku, karena aku cantik dan pintar, karena aku perempuan yang menarik, bukan sekedar menganggapku salah satu dari teman laki-lakinya. Setelah itu, aku makin sadar kalau caraku memandang teman-teman perempuanku salah. Sekecil apa pun itu, anggapan yang bisa mengecilkan hati perempuan lain harus dihilangkan. Jadi perempuan saja sudah sulit, apalagi ditambah sesama perempuan yang bukannya mendukung malah justru menjatuhkan.

Aku mulai menyadari bahwa pandanganku yang merendahkan teman-teman perempuan datang dari rasa iri dan internalized misogyny.

Ketika membaca buku Theodora Sarah Abigail, In the Hands of a Mischievous God, aku menemukan ia menulis “To plead from a woman—only a woman knows the pain another woman carries.” Aku mendongak dari buku di tanganku dan terdiam lama sekali. Kemudian aku menutup buku dan menulis sebuah surat:

An open letter to women
(Surat terbuka untuk para puan)

To the women I've encountered in my lifetime--my mother, my best friends, you reading this; (Untuk para puan yang kutemui dalam hidupku—ibuku, sahabat-sahabatku, kamu yang membaca ini)
I am sorry
(Maafkan aku),
I'm sorry my compassion is only limited to how you've treated me and how well I've known you
(Maafkan karena rasa welas asihku hanya terbatas pada perlakuanmu padaku dan seberapa baik aku mengenalmu).

I'm sorry for all the judgements and the disagreements based on my limited knowledge of your story and your personality (Maafkan atas semua penghakiman dan ketidaksetujuan berdasarkan pengetahuan yang terbatas mengenai ceritamu dan kepribadianmu).

I'm sorry I let you down by looking at so many of you as opponents in some sort of a race towards becoming ideal (Maafkan karena aku mengecewakanmu karena melihat banyak darimu sebagai lawan dalam semacam kompetisi menuju ideal).

Baca juga: Pro Gamer Perempuan: Selain Jago, Harus Cantik

I'm sorry sometimes I can't understand the way you think and where your logic came from (Maafkan karena terkadang aku tidak paham jalan pikiranmu dan dari mana logikamu berasal).
But I can always find the beauty on your shiny strands of hair, on the curves of your neck and your elbow, on the way you move your hands always like a loving mother, like we know how to be since we were born, or the way you speak whether you're happy or annoyed.

(Tapi aku akan selalu bisa menemukan kecantikan di helai rambutmu yang berkilau, di lekukan leher dan sikumu, di cara kamu menggerakkan tanganmu seperti ibu yang penyayang, seolah kita tahu itu sejak lahir, atau dari caramu berbicara bila sedang senang atau kesal).

We're all slaves of socially constructed ideas, we've all been afraid of men on the streets since we were 7, we're all on the same side of the fight.

(Kita semua adalah budak dari ide-ide yang dibentuk secara sosial, dan kita semua takut laki-laki sejak usia kita 7 tahun, dan kita semua ada di sisi yang sama dalam perjuangan).
So to all the women I've encountered in my life: I am sorry for hating you at some point, and I'm sorry that I haven't been the best war companion.

(Jadi, untuk semua perempuan yang aku temui dalam kehidupanku: Maafkan aku karena telah membencimu, dan maafkan aku karena aku bukan pendamping yang baik dalam peperangan selama ini).

Sejak saat itu aku berjanji untuk menjadi teman perempuan terbaik yang aku bisa untuk siapa saja yang aku temui, dan yang terpenting untuk diriku sendiri.

Ayu Ammalia adalah seorang copywriter berusia 24 tahun yang lagi belajar bikin-bikin cerita.