October 15, 2020
‘The Haunting of Bly Manor’: Teror Rumah Hantu dan Pacar ‘Toxic’

‘The Haunting of Bly Manor’ tidak hanya soal teror rumah hantu tapi juga pergulatan hubungan, termasuk pacaran ‘toxic’.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Culture // Screen Raves
Share:

Serial rumah hantu The Haunting of Hill House di Neflix telah kembali dengan judul The Haunting of Bly Manor. Musim kedua ini berkisah tentang Danielle “Dani” Clayton (Victoria Pedretti), pengasuh dua anak yatim piatu Miles dan Flora Wingrave di rumah besar Bly Manor.

Bak horor klasik The Shining, cerita seram tidak lengkap tanpa sosok anak kecil misterius dan mencurigakan, dan Benjamin Evan Ainsworth serta Amelie Bea Smith memainkan peran tersebut dengan ciamik. Pertama berjumpa, mereka tampak seperti anak manis dan menyenangkan, tetapi keduanya menyembunyikan banyak hal, terutama sisi supernatural rumah bangsawan yang mereka huni.

Clayton pindah dari Amerika Serikat ke pedesaan Inggris untuk mencoba lari dari bayangan hantu yang kerap mengikutinya. Alih-alih mendapat ketenangan, ia semakin dibuat tegang dan cemas dengan perilaku aneh anak-anak Wingrave, seperti memandang jauh ke belakang ketika berbicara dengannya, hingga susunan boneka milik Flora yang menyerupai hantu. Teror yang dihadapi Clayton tidak berhenti pada teka-teki misterius di setiap sudut Bly Manor, tapi juga sosok menakutkan Peter Quint (Oliver Jackson-Cohen).

Siapa Quint? Itulah pertanyaan Clayton ketika pertama kali melihatnya menyeringai jahat di sekitar Bly Manor. Singkat cerita tanpa mengumbar terlalu banyak detail, Quint adalah sosok yang mengantar Rebecca Jessel (Tahirah Sharif), pengasuh sebelum Dani, ke akhir yang tragis. Rebecca dan Peter adalah sepasang kekasih yang tengah kasmaran, tetapi bagi orang yang berada di sekitar mereka, dinamika hubungan keduanya tidak sehat alias pacaran toxic.

Baca juga: 5 Film Horor Rekomendasi Joko Anwar

Quint adalah pacar toxic yang memaksakan kehendaknya ke Jessel dan mendefinisikan cinta sebagai kepemilikan atas kekasihnya. Ia posesif dan pencemburu. Sayangnya, Jessel menepis semua peringatan dari orang di sekitarnya.

Jauh sebelum bertemu dengan Quint, Jessel adalah perempuan mandiri dan cerdas. Ia memiliki kekhawatiran atas pelecehan seksual perempuan di tempat kerja oleh bos laki-laki. Kecerdasan itu kemudian menarik perhatian Quint dan keduanya saling berbagi sudut pandang tentang hidup. Jessel kemudian sadar akan manipulasi Quint, namun sudah terlambat, dan nasibnya pun berakhir nahas.

Mengamati hubungan beracun keduanya, Hannah (T’Nia Miller) sang penjaga Bly Manor mengucapkan suatu pertanyaan yang dapat direfleksikan di kehidupan nyata: Mengapa perempuan cerdas harus selalu menerima hukuman?

Cerita cinta dalam paket Horor

The Haunting of Bly Manor memang mengintegrasikan banyak elemen horor, seperti latar musik mencekam hingga sosok Lady in the kake yang mengendap-endap seram. Meskipun begitu, seperti layaknya cerita horor yang baik, jump scare bukan aspek yang sangat ditonjolkan dalam penceritaannya, melainkan hubungan antara tokoh dan tragedi di sekitar mereka.

Baca juga: Film Horor Simbol Ketakutan Atas Kekuatan Perempuan

Rumah hantu terkutuk yang mengakibatkan siapa pun yang mati di dalamnya terjebak dalam purgatori menjadi elemen yang diadopsi oleh musim pertama dan kedua serial ini. Namun, jika The Haunting of Hill House menetapkan porosnya pada hubungan keluarga disfungsional setelah tragedi kematian sosok ibu, Bly Manor, menggambarkan pergulatan masa lalu masing-masing karakter, dan dinamika relasi mereka. Dari hubungan antara anak-anak Wingrave dan anggota keluarga lain, hingga kisah cinta antara Clayton dan Jamie, tukang kebun Bly Manor. Kisah cinta antara kedua lesbian ini adalah lapisan menarik lainnya dari serial ini, yang menyoroti kehidupan LGBT secara halus.

Baik Hill House maupun Bly Manor juga terinspirasi dari karya sastra. The Haunting of Hill House diadaptasi dari novel horor bertajuk sama dari Shirley Jackson (1959), sementara The Haunting of Bly Manor didasari novela The Turn of The Screw (1898) karya Henry James.

Mike Flanagan, creator kedua serial ini banyak memberikan sentuhan lebih modern pada Hill House, sementara Bly Manor mengadaptasi sebagian plot asli dan nama karakter dari novela, tentu saja dengan perubahan untuk menyesuaikan dengan latar tahun 1980an.

Baca juga: Suzzanna, Ratu Horor Sekaligus Ikon Feminis dan ‘Queer’

Penggambaran cara waktu berjalan dalam serial ini adalah hal yang menarik. Nell, karakter di musim pertama yang juga diperankan oleh Victoria Pedretti, menyatakan, “Waktu berjatuhan seperti confetti”. Berkaca dari pernyataan itu, waktu memang membingungkan dalam The Haunting of Bly Manor. Para hantu terjebak dalam pusaran limbo, lebih tepatnya dalam memori semasa hidup yang berjalan maju mundur tak menentu atau dream hopping. Kadang kala waktu juga berjalan seperti Groundhog Day (1993)—film Bill Murray di mana karakternya mengulang hari yang sama terus menerus—membuat karakter maupun penonton ikut frustrasi.

Sudah menjadi ciri khas seri The Haunting untuk menekankan situasi emosional setiap karakternya agar tidak tampak dua dimensi. Untuk memahami situasi tersebut dilakukan penggalian atas sejarah hidup setiap karakter. Clayton melakukan banyak pengorbanan untuk orang-orang dikasihinya, Flora dan Jamie, karena sejak awal ia ditunjukkan sebagai sosok tanpa pamrih. Begitu pula dengan Hill House, ayah Crain yang sengaja menyembunyikan banyak hal agar anaknya tidak menjadi korban pembunuhan rumah angker, hingga Nell yang selalu menyayangi keluarga disfungsionalnya.

Maka tidak heran jika penonton kerap merasa terenyuh di akhir serial, karena pendekatan emosional tersebut mendorong karakternya terasa lebih hidup dan manusiawi.

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.