March 16, 2020
5 Film Horor Rekomendasi Joko Anwar

Menonton film horor bisa jadi pelarian dalam situasi swa-karantina dan pembatasan sosial di tengah krisis Corona seperti sekarang ini.

by Hera Diani, Redaktur Pelaksana
Culture // Screen Raves
Share:

Saya bukan penggemar film horor sama sekali. Waktu kecil sempat menonton film-film Suzzanna (dipikir-pikir orang tua zaman dulu longgar sekali ya, membolehkan anak menonton film horor), tapi sejak itu tidak pernah lagi secara sukarela menonton film-film horor.

Kata sukarela harus ditekankan di sini, karena kemudian saya punya BFF pencinta film horor yang suka menjebak sahabat-sahabatnya menyaksikan film-film seram. Sutradara Joko Anwar dulu suka memanipulasi teman yang mampir ke rumahnya agar menonton film horor, dengan embel-embel, “Ini bukan horor tapi thriller”, “Gak serem, sumpah!”, atau yang paling nyebelin adalah, “Ini komedi kok, lucu”. Jadilah, kami semua menonton film-film itu (paling tidak sampai sadar ditipu dan memaki-maki dirinya), dari mulai Bayi Ajaib sampai Cujo.

Baru setelah Joko menulis dan/atau menyutradarai film-film horor seperti Pengabdi Setan (yang sekuelnya akan keluar tahun ini), Ratu Ilmu Hitam, dan Perempuan Tanah Jahanam, kami dengan sukarela dan bangga menonton film horor.

Meski masih bukan penggemar film horor, harus saya akui kekuatan film horor sebagai escapism atau pelarian. Sejumlah film horor juga merupakan social and political commentary yang brilian, atau ya pada dasarnya luar biasa seru saja. Selain itu, setelah berteriak-teriak ketakutan, ternyata ada dampak positif lain yang paling tidak saya rasakan, yaitu berkurangnya anxiety alias kegelisahan.

Di tengah krisis virus Corona yang mencemaskan sekarang ini, dan banyaknya orang yang melakukan swa-karantina dan bekerja dari rumah, mungkin bisa dicoba melepaskan ketegangan dengan menonton film-film horor. Joko merekomendasikan lima film horor berikut ini, in no particular order.

  1. The Craft (1996)

“Mungkin bisa nonton film ini dulu, karena ringan dan seru. Ini (film horor) favorit gue dari tahun 1990an,” kata Joko.

The Craft berkisah tentang seorang siswi baru di sebuah SMA Katolik yang kemudian berteman dengan tiga siswi lain yang dikucilkan di sekolah itu. Mereka kemudian mempraktikkan sihir dan jampi-jampi melawan siapa saja yang membuat mereka marah. Dan ketika salah satu dari mereka berhenti dari geng ini, yang lain membalas dendam.

“Ada the sublime Robin Tunney dan Fairuza Balk di sini,” ujar Joko.

“Tunney ini salah satu alasan kenapa gue sering ajak Tara Basro (untuk main film). Attitude-nya mirip,” ia menambahkan.

Jika begitu alasannya, mungkin sudah saatnya Tara dibuatkan komedi romantis, seperti Tunney sudah main di Empire Records? Usul aja sih, Jok.

Baca juga: ‘Perempuan Tanah Jahanam’: Kemiskinan sebagai Sumber Horor

  1. Before I Wake (2016)

Before I Wake disutradarai oleh Mike Flanagan, yang sudah merilis film-film horor seperti Oculus dan Hush, serta serial The Haunting of Hill House. Dibintangi Kate Bosworth dan Thomas Jane, horor fantasi nan gelap dan supernatural (lengkap deh) ini mengisahkan sepasang suami-istri yang mengadopsi seorang anak dari panti asuhan ketika putra mereka meninggal. Namun, si anak ini kemudian suka bermimpi (mimpi buruk tentunya) yang bermanifestasi jadi kenyataan saat ia tidur.

Jangan menjadi ragu untuk menontonnya meski RottenTomatoes cuma memberi nilai 63 persen. Kata Joko, ini “a much-overlooked scary movie.”

  1. The Autopsy of Jane Doe (2016)

Mau film lebih seram lagi? Film ini kata Joko adalah salah satu film horor paling menyeramkan tahun-tahun belakangan. Oh boy.

The Autopsy of Jane Doe dibintangi Emile Hirsch dan Brian Cox, sebagai anak dan ayah yang sama-sama merupakan petugas koroner, atau yang melakukan pemeriksaan mayat dalam kasus kematian mendadak atau mencurigakan. Mereka kemudian mengalami fenomena supernatural ketika mengamati jenazah perempuan yang tidak teridentifikasi (makanya disebut Jane Doe) yang diperankan Olwen Kelly.

The New York Times menyebut film yang disutradarai André Ovredal Ini “a shivery tour through a woman’s innards at a morgue, and it achieves real scares with a minimum of special effects.

The Guardian menyebutnya, “bone-crunching horror”. Yuk mari.

Baca juga: Film Horor Simbol Ketakutan Atas Kekuatan Perempuan

  1. The Ritual (2017)

Film ini menceritakan sekelompok empat teman kuliah yang reuni dengan melakukan perjalanan ke alam liar di Skandinavia, menyusul kematian tragis salah seorang dari mereka. Namun mereka kemudian tersesat ke dalam hutan misterius tempat arwah kuno (atau apa pun itu), yang meneror mereka di setiap langkah.

Film ini disutradarai oleh David Bruckner, yang telah menghasilkan film-film seram lain seperti The Southbound dan V/H/S.

 “Ceritanya sih tidak baru, tapi cara mempresentasikannya sangat inventif dan cerdas,” ujar Joko.

  1. Annihilation (2018)

Annihilation dan The Ritual ini cerebral horror. Kece banget,” kata Joko.

Film ini merupakan horor psikologi fiksi ilmiah yang ditulis dan disutradarai Alex Garland, berdasarkan novel berjudul sama karya Jeff VanderMeer. Aktor-aktor yang terlibat di dalamnya mumpuni, dari Natalie Portman dan Jennifer Jason Leigh sampai Gina Rodriquez dan Oscar Isaac.

Mengisahkan Lena, seorang ahli biologi dan mantan tentara, yang bergabung dalam sebuah misi untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada suaminya di Area X. Ini adalah fenomena misteri dan menyeramkan yang meluaas di seluruh pesisir Amerika. Ekspedisi ini kemudian menemukan lanskap dan makhluk-makhluk ajaib yang mengancam nyawa dan pikiran mereka.

Selamat menonton, kawan! Saya akan memberanikan diri menonton film-film ini jika sudah tidak perlu swa-karantina lagi jadi bisa menonton beramai-ramai.

Hera Diani, seperti banyak orang Indonesia lainnya, memiliki dua nama dan ia senang karena perempuan Indonesia tidak perlu menggunakan nama belakang ayah dan suami mereka. Ia pencinta budaya populer, namun kritis terhadap aspek-aspek buruk budaya tersebut, seperti konten-konten yang mengandung pesan misoginis dan budaya pemerkosaan, serta The Kardashians.