‘The Brutalist’: Dosa ‘American Dream’ yang Menernak Zionisme
The Brutalist (2024) menyajikan lebih dari sekadar kisah seorang imigran yang coba membangun hidup baru di Amerika Serikat.

The Brutalist (Brady Corbet, 2024) menelusuri bagaimana American Dream sering kali dikonstruksi dengan narasi manis yang menutupi kekerasan sistemik di baliknya. Lewat perjalanan László Toth (Adrien Brody), seorang arsitek berbakat dari Budapest, kita dipertontonkan Amerika, yang bukan hanya tempat berlindung bagi para penyintas Perang Dunia II, tapi juga lahan subur bagi eksploitasi dan pengukuhan ideologi, termasuk zionisme.
Dengan pendekatan visual yang dingin, The Brutalist mempertanyakan: Seberapa mahal harga yang harus dibayar demi keberhasilan? Dan siapa yang sebenarnya mendapat keuntungan dari impian itu?
The Brutalist dan Realitas “American Dream”
Film ini mengikuti László dan istrinya, Erzsébet (Fellicity Jones), yang berusaha membangun kembali hidup mereka di Amerika setelah perang. László mendapat pengakuan dari seorang industrialis kaya, Harrison Lee Van Buren (Guy Pearce), yang melihat potensinya.
Namun, seperti banyak imigran yang mengincar American Dream, László dihadapkan pada kenyataan bahwa kesuksesan di tanah impian itu mahal harganya. Van Buren bukan dermawan biasa yang menawarkan peluang cuma-cuma. Talenta-talenta imigran itu sengaja ia serap untuk membangun kerajaannya sendiri. Sebuah praktik yang mencerminkan bagaimana Amerika Serikat kerap mengambil manfaat dari tenaga kerja asing sambil menekan mereka secara sistematis.
Konsep American Dream pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan James Truslow Adams dalam bukunya The Epic of America (1931). Ia menggambarkan gagasan bahwa siapa pun, tanpa memandang latar belakang, dapat mencapai kesuksesan melalui kerja keras dan ketekunan. Namun, dalam perkembangannya, American Dream berubah menjadi mitos yang digunakan untuk membenarkan eksploitasi, terutama terhadap kelas pekerja dan imigran. Mimpi yang dijual dalam American Dreams, belakangan dikritisi keras oleh warga setempat, terutama mereka yang datang dari kelompok minoritas. Termasuk anak-anak para imigran.
The Brutalist mengungkap bagaimana mitos tersebut terus direproduksi, sekaligus memperlihatkan batas-batas nyata yang dihadapi para pemimpi—mereka yang mencoba mewujudkannya.
Baca juga: ‘Body Horror’ dalam Film ‘The Substance’: Tak Ada Masa Depan Bagi Perempuan Menua
Meskipun Amerika membuka diri bagi para imigran pasca-perang, kenyataan di masyarakatnya berkata lain. Kulit putih-kelas menengah ke atas yang digambarkan dalam film ini tampak menerima imigran di permukaan, tapi pada dasarnya, rasisme yang mendarah daging membuat penerimaan itu setengah hati.
Tengok saat Harry Lee Van Buren (Joe Alwyn), yang ditampilkan sebagai sosok terpandang dan terpelajar, menutup sebuah adegan percekcokan dengan László dengan dialog: “We tolerated you.” Kalimat ini mengimplikasikan bahwa keberadaan László sebagai imigran bukan sesuatu yang benar-benar diterima, melainkan sesuatu yang dinegosiasikan oleh Harry dan keluarganya. Dengan subtil, film ini mengungkap xenofobia tetap mengakar bahkan dalam lingkungan yang tampak ‘menerima’.
Arsitektur Brutalisme dan Ideologi Politik
Judul film ini merujuk pada brutalisme, sebuah gaya arsitektur yang berkembang pada pertengahan abad ke-20, terutama di Eropa dan Amerika Utara. Brutalisme dikenal dengan penggunaan beton kasar, bentuk geometris yang kaku, dan estetika yang sering kali dianggap dingin serta impersonal. Gaya ini lahir dari semangat rekonstruksi pasca-perang, saat arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai ruang, tetapi juga sebagai simbol ideologi.
László, sebagai seorang arsitek brutalist, merepresentasikan lebih dari sekadar individu kreatif; ia adalah sosok yang karyanya menjadi bagian dari proyek politik yang lebih besar. Di tangan Van Buren, bakat László diarahkan untuk membangun monumen yang tidak hanya mengukuhkan nama sang industrialis, tetapi juga berkontribusi pada narasi besar Amerika sebagai tanah harapan.
Namun, dalam konteks film ini, brutalisme juga dapat dimaknai sebagai metafora bagaimana Amerika membentuk individu-individu yang datang ke tanahnya: Keras, tak kenal ampun, dan tanpa ruang untuk membangun individualitas yang bebas dari nilai-nilai kapitalisme.
Zionisme dan Peran Amerika Serikat
Salah satu aspek paling tajam dalam The Brutalist adalah cara film ini mengimplikasikan Amerika Serikat sebagai salah satu pihak yang turut bertanggung jawab atas zionisme.
Setelah Perang Dunia II, banyak korban Holocaust yang bermigrasi ke Amerika atau Palestina, dan negara-negara Barat, termasuk Amerika, memainkan peran besar dalam mendukung terbentuknya negara Israel pada 1948. Namun, dukungan ini bukan semata-mata demi perlindungan bagi orang Yahudi yang selamat dari Holocaust, melainkan juga bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.
Karakter László dan Erzsébet pada awalnya menolak konsep ‘Aliyah’, karena bagi mereka, menjadi Yahudi tidak ditentukan oleh lokasi geografis semata. Namun, setelah menghadapi penolakan dari masyarakat Amerika serta tekanan dari sistem kapitalisme yang kejam, gagasan untuk “pulang” ke tanah yang dipromosikan sebagai tanah air Yahudi menjadi lebih menggoda. Dengan kata lain, film ini menunjukkan bagaimana lingkungan sosial dan politik yang tidak ramah terhadap imigran di Amerika turut berperan dalam mendorong migrasi Yahudi ke Israel, yang pada saat itu berarti menempati tanah Palestina.
Baca juga: Kenapa Serangan Israel ke Palestina adalah Isu Feminis?
Dalam film ini, László adalah representasi dari individu yang dikooptasi oleh sistem yang lebih besar darinya. Ia menjadi bagian dari proyek pembangunan yang pada akhirnya bukan hanya untuk kepentingan pribadinya, melainkan untuk kepentingan kekuasaan. Dalam konteks sejarah, ini mencerminkan cara Amerika menggunakan berbagai strategi, termasuk kebijakan luar negeri dan dukungan terhadap negara tertentu, untuk memperkuat posisinya dalam geopolitik global. Dengan kata lain, film ini menyiratkan bahwa American Dream dan ekspansi zionisme bukanlah dua fenomena yang terpisah, melainkan saling berkaitan dalam jaringan kapitalisme dan kekuasaan global.
Guy Pearce, yang memerankan Van Buren, secara konsisten mengenakan pin pro-Palestina selama press tour film ini, menegaskan sikap politiknya terhadap narasi yang diangkat dalam film. Keberpihakan Guy menggarisbawahi bahwa The Brutalist tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga relevan dengan situasi politik global saat ini
Akhir (yang Terlalu) Sederhana?
Bagi sebagian penonton, bagian akhir film ini mungkin terasa terlalu sederhana, terlalu jomplang. Seolah mengakhiri narasi dengan kesimpulan yang mudah dicerna.
Di bagian epilog ini, latar waktu loncat ke tahun 1980, saat László sudah duduk di kursi roda. Ia tengah menghadiri pesta dan pameran retrospektif karya-karya agungnya. Musik elektronik yang menghentak dan footages kamera digital yang dipakai, dalam sekuens ini terasa begitu kontras dengan apa yang selama tiga jam sebelumnya ditampilkan.
Baca juga: 6 Film yang Mengungkap Wajah Korupsi Institusi Kepolisian
Zsofia, sebagai perwakilan keluarga, memberikan pidato yang menceritakan “perjuangan” pamannya.
Namun, apakah benar kita harus menerima pernyataan Zsofia bahwa semua yang dilalui László itu akhirnya “sepadan”? Apakah kita harus percaya bahwa tujuan akhir lebih penting daripada proses yang penuh penderitaan? Film ini justru mengundang kita untuk mempertanyakan apakah mitos kesuksesan yang terus dijual oleh Amerika adalah sesuatu yang dapat diterima begitu saja?
László, pada akhirnya, memiliki warisan dalam bentuk bangunan yang megah, tetapi apa artinya jika itu semua dibangun di atas eksploitasi dan kehilangan? Jika kesuksesan hanya dapat dicapai dengan mengorbankan identitas dan kebebasan, apakah itu benar-benar kesuksesan?
Film ini mengajak kita untuk melihat di balik narasi resmi dan mempertanyakan siapa yang benar-benar mendapatkan keuntungan dari impian yang terus dijual kepada kita.
