October, 18 2017
Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan: Ubah Hidup Lewat Kerelawanan

Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan telah mengubah hidup banyak relawan pendamping korban kekerasan terhadap perempuan.

by Mia Olivia
Issues // Politics and Society
Share:

Volunesia (noun): that moment when you forget you’re volunteering to help change lives, because it’s changing yours.”
Saat bergabung menjadi relawan di Unit Pengaduan Rujukan Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 2013, saya ‘hanya’ berharap mendapatkan ilmu lebih banyak mengenai kekerasan berbasis gender terhadap perempuan, tidak lebih.
Saya menyadari keterbatasan diri saya karena, di antara kawan-kawan relawan seangkatan, hanya saya yang tidak menginjak bangku kuliah. Bekal yang saya bawa hanya pengalaman hidup dari keluarga yang broken home dan kata-kata seorang pendamping senior kasus kekerasan terhadap perempuan. Saat itu saya menjadi moderator dalam acara bincang-bincang dan ia menggenggam tangan saya dan berkata, “Kamu cocok sekali jadi pendamping korban.“ Kata-kata sederhana itu mungkin sudah tidak ia ingat lagi sekarang tetapi maknanya besar untuk saya, yang seumur hidup merasa bahwa saya tidak pernah cocok untuk jadi apa pun.
Sebelum menjadi relawan, saya dan relawan angkatan baru diwajibkan untuk mengikuti pelatihan dan sentilan-sentilan yang dilontarkan fasilitator menyadarkan saya bahwa dalam kepala ini masih banyak pemikiran misoginis tanpa saya sadari. Hal-hal yang saya anggap sepele, ternyata misoginis. Betapa malunya saya bahwa lapisan-lapisan kekerasan yang saya pahami sampai detik itu ternyata hanya lapisan terluar dari banyak sekali lapisan kekerasan. Padahal seorang pendamping tidak bisa hanya memahami satu atau dua lapisan, ia harus tuntas memahami sampai lapisan terakhir.
Setelah tiga hari pelatihan, saya merasa siap menghadapi korban yang mengadu. Namun saat menerima korban pertama, saya tahu saya salah. Menghadapi korban yang datang dengan penuh pengharapan, tidak jarang dari tempat yang jauh dan melewati berbagai kesulitan untuk datang ke kantor kami, dengan uang yang seadanya, dan sering dengan membawa anaknya yang masih kecil, bukan perkara mudah secara emosional. Meskipun selama menjadi relawan saya tidak pernah ambruk di depan korban, tetapi emosi saya luar biasa terkuras sampai perasaan tidak berguna yang dulu sempat hilang setelah berhasil menembus seleksi relawan kembali lagi.
Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan memiliki mekanisme kerja yang ketat sesuai dengan kerja-kerja yang dimandatkan oleh negara, yaitu mencatat pengaduan lengkap dan kemudian merujuknya sesuai dengan kebutuhan korban. Hal ini merupakan bagian dari sistem pemantauan Komnas Perempuan. Akibatnya, kami tidak bisa melangkah lebih jauh untuk membantu korban karena yang bisa melakukan hal itu adalah lembaga-lembaga mitra pemberi layanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sejak awal hal itu sudah ditanamkan dalam diri setiap relawan sejak unit ini berdiri yaitu pada 2005.
Hanya boleh mencatat pengaduan membuat saya merasa tidak berguna. Namun perasaan itu akhirnya saya tukar dengan pembelajaran dan diskusi lebih dalam, baik melalui buku, seminar, acara diskusi informal maupun obrolan dengan rekan-rekan lain. Keinginan untuk lebih dari sekadar mencatat kasus begitu bergejolak dalam dada saya, meskipun saya tahu bahwa ini mungkin akan menjadi masalah bagi evaluasi kinerja saya.
Pembelajaran-pembelajaran juga saya dapatkan dari para korban yang datang atau menghubungi via telepon. Dari situ saya bisa memahami kondisi mental korban kekerasan domestik, mengapa mereka cenderung tetap berada dalam lingkungan itu, dan sulitnya menembus akses keadilan bagi mereka. Saya berhadapan dengan korban yang nyata, bukan testimoni, bukan dari pihak ketiga, tetapi mereka yang mengalami langsung, berdiri di depan saya (bahkan saya beberapa kali mendapati korban yang bekas lukanya masih segar). Terkadang mereka mengandalkan saya bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi hanya untuk didengar kisahnya karena tidak ada seorang pun yang mendukungnya secara psikologis. Itulah yang menyebabkan saya berani untuk melangkah lebih jauh, bukan hanya mencatat tetapi menjadi ‘teman’ bagi para korban. Ternyata beberapa dari kawan saya pun melakukan hal itu, dengan alasan yang sama.
Sepuluh bulan menjadi relawan di Unit Pengaduan Rujukan, hidup saya berubah total. Saya menjadi sangat sensitif dengan kelakar soal perkosaan dan kekerasan. Saya menjadi sangat terganggu jika ada orang yang membenarkan kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan domestik lainnya. Setelah saya tidak lagi menjadi relawan, saya memutuskan untuk mengembangkan apa yang sudah saya dapat selama 10 bulan itu. Tidak ada sekolah atau tempat belajar senyata itu karena setiap hari kami berjumpa dengan korban. Sayang sekali jika pengalaman yang sangat mahal dan langka itu tidak saya pergunakan.
Saya memutuskan untuk menjadi pendamping korban, meski karena sifat individualis saya yang tidak bisa hilang, saya tidak bergabung di lembaga pelayanan mana pun. Saya belajar banyak dari para pendamping senior. Mereka memahami hukum meski bukan lulusan hukum. Mereka memahami psikologi meski bukan psikolog. Mereka memahami banyak hal karena mereka memiliki niat untuk membantu orang dan didukung oleh kemauan belajar yang kuat. Saya bersyukur bertemu banyak pendamping senior yang sudah memakan asam garam mendampingi korban, sampai ada dari mereka yang nyaris dipenjara karena upaya pendampingan mereka. Mereka bersedia berbagi ilmu dan pengalaman.



Tentu saja apa yang saya kerjakan selama beberapa tahun ini tidak serta merta mengubah kondisi Indonesia. Mengubah pemahaman di keluarga sendiri saja belum tentu berhasil. Tetapi saya yakin ilmu yang saya bagikan melalui pendampingan, ilmu yang berasal dari pengalaman dan para pendamping senior, kalaupun tidak mengubah hidup korban, itu sudah mengubah hidup saya. Setiap kasus yang datang, setiap telepon di malam hari dari korban, itu mengubah hidup saya, menebalkan keinginan untuk mengubah kondisi, dan mengubah pemikiran bahwa kekerasan terhadap perempuan itu bukan hal penting. Saya mencari celah dalam setiap hal yang saya kerjakan sekarang untuk berkontribusi mengubah kondisi.
Saya pernah berpesan saat mengisi acara di sebuah sekolah menengah di Bogor, bahwa jika kita sudah pernah menjadi relawan dalam isu sosial, dan itu tidak bisa mengubah cara pandang kita terhadap lingkungan sekitar menjadi lebih sensitif dan tidak mengubah diri kita menjadi lebih berempati, maka tidak ada lagi yang bisa mengubah kita.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan yang sudah mengubah hidup saya dan hidup banyak relawan lainnya.
Mia Olivia adalah seorang ibu, bekerja di Komnas Perempuan, dan masih mengabdikan diri sebagai pendamping sampai detik ini.