Women Lead
August 03, 2020

Voice of Baceprot Layangkan Tinju untuk Pendidikan

Lagu “School Revolution” dari Voice of Baceprot adalah kritik tajam terhadap sistem pendidikan di Indonesia.

by Robbyan Abel Ramdhon
Culture
Share:

Kali pertama saya mendengar Voice of Baceprot (VOB) adalah ketika sebuah rekaman aksi panggung mereka tak sengaja mampir di dinding Twitter saya. Unggahan tersebut mendapat beragam tanggapan. Baik yang menganalisis dari bunyi musik, sampai bagaimana simbol-simbol spiritual melekat di tubuh mereka.

VOB adalah band bercorak heavy metal yang terdiri dari tiga perempuan bernama Firdda Kurnia (vokal, gitar), Euis Siti Aisyah (drum) dan Widi Rahmawati (bass). Dari sejumlah sumber yang saya baca, mereka awalnya siswa dari Madrasah Tsanawiyah Al-Baqiyatussolihat, Garut.

Ketiganya telah rajin mengikuti sejumlah festival sejak bersama di sekolah, untuk latihan atau sekadar mengukur kemampuan di gelanggang musik yang lebih luas. Hingga pada akhirnya mereka telah menjadi grup musik yang tak bisa dianggap enteng. Entah di wilayah permusikan maupun sosial dan politik.

VOB telah banyak menguarkan karya, dan semuanya cukup revolusioner, terutama untuk isu posisi perempuan dan pendidikan. Kedua tema tersebut terangkum dalam karya mereka School Revolution, single yang dikeluarkan pada 2019.

School revolution dibuka dengan keberisikan yang sistematis. Euis membangun tempo melalui ketukan yang bengis, tangkasnya arus melodi milik Kurnia, dan penjagaan modulasi yang ketat dari kelincahan Widi bermain bass. Pada satu menit pertama, mereka memberikan pendengar kesempatan untuk memahami musik yang mereka bawakan. Bahwa mereka telah menciptakan relasi metal yang kuat.

Selanjutnya Kurnia selaku vokalis menghamparkan lirik bagai seorang rapper secara berangsur-angsur.

Sekolah / pagi / pasti ragaku ini berlari paksa / mimpi / yang tak  satu pun kumengerti / terlempar kepala / dipaksa pintar / terdampar moral / digoda bingar.

Sekolah menjadi kata pertama yang diutarakannya. Artinya, kata tersebut menjadi kunci penting dalam struktur musik yang hendak mereka bangun. Bait pertama dalam lirik ini menggambarkan sekolah yang dengan tradisi waktu paginya kerap menuntut raga siswa berlari mengejar mimpi. Mimpi yang bahkan tak satu pun di-mengerti oleh aku. Alih-alih mimpi yang dicita-citakan, atau memang merupakan pilihan dari siswa, sekolah malah memosisikan aku sebagai sekadar siswa yang dipaksa menjadi pintar dalam dan atau menurut konstruksi sekolah, disertai moral yang bersifat menggeneralisasi.

Baca juga: Sialnya Lulus Kuliah Saat Pandemi, Nantikan Pekerjaan yang Tak Pasti

Selesai pada bait ini, Kurnia kembali mengucapkan sepotong lagi lirik yang terpisah diiringi interlude singkat. Lirik yang menjadi jembatan bagi bait pertama dan kedua: don’t try to judge us now. Lirik ini boleh jadi adalah disclaimer bagi orang-orang yang mengungkapkan hal-hal seperti bait pertama. Yakni tentang betapa menjenuhkannya tradisi sekolah yang menimbulkan efek psikologis negatif bagi siswa. VOB bagai ingin mengatakan: “Kami ingin melakukan kritik, tapi don’t try to judge us now (seperti yang biasanya kalian lakukan). Biarkan kami menyelesaikan dulu musik ini.

Di balik / tembok / isi kepala seakan digembok / selaksa dogma / ditimpa hingga bengkok / bila teriak merdeka / bersiaplah ditabok atau dikatain.

Lirik selanjutnya terdiri dari kata-kata yang renyah. Tak ada atraksi bahasa. Ada pun sedikit yang agak menggeliat adalah pada metafora kepala seakan digembok. Tubuh siswa yang duduk di balik tembok-tembok kelas, menjadi simbol pemenjaraan sekaligus penyeragaman pikiran. Sulit bagi siswa untuk menemukan peluang bila ingin mengekspresikan hal-hal yang tak dihadirkan dalam kelas. Misalkan saja kesenian.

Lirik ini barangkali yang bersifat paling personal bagi ketiga anggota VOB. Dari cerita-cerita yang mereka sampaikan di banyak media, VOB sudah tak terhitung kali mendapat kecaman dan kritik oleh berbagai pihak terkait sikap mereka mengembangkan naluri berkesenian dengan memilih jalan metal. Yang paling kuat tekanannya berasal dari lingkungan sosial terdekat mereka.

“Musik itu haram”, “perempuan tidak baik bersuara keras”, “pakaian anak metal adalah pakaian yang disukai setan”, bukanlah cercaan baru buat mereka. Setidaknya serupa itu juga terbukti dari bagaimana warganet berkomentar di banyak konten yang mereka publikasikan. Fenomena ini juga sekaligus membuktikan, bahwa musik metal masih dikepung oleh lingkungan dengan skala religiositas dalam konotasi yang ekstrem.

And my soul is empty / and my dream was dying / my soul falls in the dark side / and I lose my life.

Baca juga: 6 Band Perempuan Indonesia Milenial yang Wajib Masuk Playlist

Penjara

Setelah membacakan situasi yang terkesan personal tapi menimbulkan efek universal pada bait sebelumnya, VOB kemudian melantunkan semacam kalimat pesimisme yang tak kalah dalamnya. Kata dream dan soul dipakai untuk merespons dengan memberi konklusi untuk bait kedua: cita-cita yang sebelumnya diperjuangkan dengan jiwa, runtuh di balik tembok bernama sekolah.

I lose my life. Pendidikan yang semestinya dapat menjadi fasilitator bagi siswa untuk menemukan jati dirinya, justru berlaku sebaliknya. Pendidikan merenggut cita-cita, dan melenyapkan jiwa siswa melalui variasi dogma yang menggembok kebebasan.

Di sana / dijuluki penjara / paling indah / tapi / tak pernah / berikan bukti apa-apa /  hanya seabruk aturan / yang tak pernah diterapkan / menyisakan sejarah yang telah / terlupakan.

Sekolah direpresentasikan sebagai penjara paling indah. Momen ini bisa ditangkap setiap tahun. Saat banyak sekolah maupun perguruan tinggi mengampanyekan kemampuan mereka yang seakan-akan dapat menjawab segala kebutuhan siswa. Tapi nyatanya, ketika sudah mengenakan seragam, siswa diartikan sebagai objek yang hanya boleh berlaku sesuai aturan. Aturan-aturan yang bahkan tak bisa diterapkan dalam kehidupan alih-alih membawa manfaat baik bagi siswa. Tak ada yang bisa dibawa pulang dari sekolah, selain sejarah gelap yang nihil petunjuk.

Banyak / orang / hanya beradu persepsi / saling tindas / dengan alasan / visi dan misi / korbankan mimpi yang akhirnya jauh / terdampar / terlempar samar / dan akhirnya / mulai pudar.

Setelah menguak proses kerja pendidikan pada bait-bait sebelumnya, VOB kemudian terpelanting pada bagaimana akibat pendidikan itu di masa depan. Hal tersebut dapat dilihat dari produk-produk yang dicetuskan pendidikan. Yakni orang-orang yang hanya sibuk beradu persepsi – tanpa gerakan konkret. Tidak menawarkan solusi jelas untuk perubahan yang lebih adil, mereka malah menggunakan kemampuannya guna saling tindas dengan alasan visi dan misi. Mimpi, sekali lagi, disebut oleh VOB sebagai bagian penting kehidupan yang akan menjadi korban.

Baca juga: Bolehkan Penari Berjilbab?

Hanya orang fokus / yang dapat bertahan / punya mimpi / dan berani / tuk wujudkan / bisa sukses / tanpa harus korbankan prinsip / punya semangat / dan pikiran positif.

Namun menuju akhir, VOB memungkas lagunya dengan lirik yang cukup optimis. Meletakkan harapan bagus pada siswa yang fokus, bertahan (dari tekanan), berani untuk wujudkan mimpinya. Orang-orang seperti ciri-ciri tersebut dapat sukses tanpa korbankan prinsip. Asal semangat dan berpikiran positif. Barangkali kalimat inspiratif ini merupakan refleksi atas apa yang mereka lalui. VOB menempatkan diri sebagai siswa-siswa yang telah melakukan itu. Walau sepertinya, kalimat demikian tak ubahnya mirip juga seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru dari sekolah hegemonik seperti dalam penggambaran school revolution.

Membaca teks musik tak bisa berhenti pada bunyi dan lirik. Kita juga perlu memasuki bagaimana para musisi menampilkan dirinya di muka publik. Sulit untuk menampik diskusi tentang lipatan jilbab yang membungkus kepala tiga anggota VOB ini. Simbol yang mewakili identitas Islam tersebut tak bisa berhenti menyulut perdebatan.

Yang jelas, VOB telah mengapungkan teks yang sebelumnya dianggap benar, yang memonopoli-(tik) pengetahuan umum; bahwa Islam tak dekat dengan musik metal. VOB mengembalikannya pada wilayah abu-abu, sembari mengajak kita (terutama perempuan) untuk melakukan gerakan dekonstruksi melalui karya-karya revolusioner seperti yang mereka lesatkan.

Foto diambil dari Instagram @widivob.

Robbyan Abel Ramdhon, lahir dan tumbuh di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Aktif melakukan aktivitas kesenian dan budaya bersama teman-teman Akarpohon Mataram dan mengelola sebuah media alternatif Lasingan.id.