April 09, 2020
Sialnya Lulus Kuliah Saat Pandemi, Nantikan Pekerjaan yang Tak Pasti

Kami menanti dikecup keningnya oleh pangeran bernama lowongan kerja yang membawa kepastian ekonomi.

by Robbyan Abel Ramdhon
Lifestyle
Healing BornOut Depresi Overwork_SarahArifin
Share:

Pada akhir 2019 lalu, saya dan sejumlah kawan akhirnya berhasil lulus dari kampus tercinta di Surabaya. Kami adalah barisan terakhir yang tersisa dalam satu angkatan. Satu-satunya dalih yang bisa kami kemukakan atas keterlambatan kami saat itu adalah, “bukan lulus tepat waktu yang penting, melainkan lulus di waktu yang tepat.” Kini, arogansi tersebut membawa petaka. Bahkan untuk mengingatnya saja hati terasa pilu.

Kami menggunakan bulan pertama di tahun 2020 usai kelulusan sebagai waktu beristirahat. Berteduh sejenak dari gencarnya tuntutan sosial dan membersihkan puing-puing idealisme yang pernah terbangun sejak duduk sebagai mahasiswa baru, yang sekarang sudah hancur lebur digilas gengsi kapital.

Kami menunggu tawaran kerja-kerja praktis dengan gaji melimpah, yang diharapkan membuat kami tidak perlu berpikir ulang untuk memesan dua porsi nasi padang, membeli paket-paket buku Mojok, mengajak doi ke sebanyak-banyaknya destinasi hiburan, dan yang pasti, mempunyai jawaban maha ideal untuk segala pertanyaan calon mertua.

Setidaknya, itulah yang kami rencanakan dapat terjadi. Sampai pandemi datang memorak-porandakan dunia. Mulanya, pemerintah tidak ambil pusing soal kedatangan virus ini. Sampai akhirnya media melaporkan, satu-persatu kasus positif corona (COVID-19) mulai bermunculan di berbagai daerah. Kepanikan pun melonjak, bersama harga masker dan pernak-pernik kesehatan lainnya.

Manakala publik tengah bersaing untuk menyelamatkan diri dan kelompoknya masing-masing dari kejaran virus, kami, alumnus perguruan tinggi di tahun pandemi ini, bahkan belum tahu ke mana arah jalan hidup yang benar. Kami masih diam meratapi nasib yang semakin pucat. Alhasil, gerakan #dirumahaja bukanlah sesuatu yang baru bagi kami.

Baca juga: Jangan Sebut Kami Budak Korporat

Kami juga can’t relate dengan gerakan work from home. Kecuali jika tiba saatnya untuk lockdown total, dan negara memberikan insentif karena keputusan itu, kami akan berani menganggap bahwa mengikuti lockdown adalah pekerjaan pertama kami yang digaji, dan kami akan sungguh mencintai pekerjaan ini.

Namun lain cerita manakala saat lockdown terjadipemerintah malah tidak memberikan apa pun selain sibuk dengan kebingungannya sendiri. Pasti nasib kami kembali pucat, bagai daun kering yang ditiup angin. Sebab tak mungkin misalnya, kami akan membuat serikat pekerja lockdown, meluncurkan serangkaian aksi protes secara daring, dan mendesak pemerintah supaya gerakan kami dimasukkan dalam pembahasan Omnibus Law.

Sampai hari ini, banyak perusahaan-perusahaan, utamanya yang berada di daerah, mengalami dampak negatif. Volume produktivitas mereka terganggu, sedangkan usulan menambah karyawan bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasinya. Dan memangnya perusahaan mana yang berpikir untuk melakukan penarikan karyawan baru dalam krisis pandemi begini.

Satu di antara dari sekian banyak kami mungkin lakukan saat ini adalah bersiap-siap menekuni karier sebagai pedagang masker dan hand sanitizer. Mengingat kepanikan publik begitu mudah dijadikan barang dagangan, yang niscaya menghasilkan untung belaka.

Jangan salahkan kami, kalau visi-visi kapital mulai membuncah di benak kami. Toh bukankah memang sewajarnya, sebagai warga yang baik, kami turut menyesuaikan diri dengan misi-misi oligarkis negara, tanpa perlu mengindahkan makna-makna filosofis dari istilah kemanusiaan.

Baca juga: ‘Quarter Life Crisis’: Kita Semua Bingung, Lalu Bagaimana?

Kalau COVID-19 ini tidak ditangani dengan serius, dampaknya pasti akan kelewat banyak. Jelas tidak semua dari dampak itu berakhir baik. Misalkan saja kami, produk perguruan tinggi yang baru memasuki dunia di luar kampus, langsung disambut dengan kepanikan massal yang bahkan kami tidak mengerti bagaimana mesti menghadapinya. Kami belum pernah menyentuh yang dimaksud dengan pengalaman kerja. Atau jangankan pengalaman, proses mencari kerja pun kami urung merasakannya. Jadi maklum saja bila kami terkesan agak manja.

Semoga saja tidak ada satu pun dari kami yang berniat bertingkah nekat. Melakukan penjarahan atau segala kemungkinan yang di luar perikemanusiaan. Dengan berberat hati, demi keselamatan mental kami dan kenyamanan orang-orang di sekitar kami, terpaksa, kami menganggap tahun 2020 ini tidak pernah terjadi.

Suatu saat, kami akan keluar dari pintu rumah untuk melihat cahaya kembang api di tahun 2021 nanti. Meski pada saat itu, kami tidak mengubah sepeser pun rencana atau harapan kami seperti di awal tahun 2020. Kami akan menyamar menjadi putri tidur, menanti dikecup keningnya oleh pangeran bernama lowongan kerja yang membawa kepastian ekonomi.


Robbyan Abel Ramdhon, setelah lulus, kini sibuk berkebun dan berkomunitas di Akarpohon Mataram.