September, 04 2017
Wahai Suami, Karier Istrimu Bukan Hanya Soal Materi

Istri bekerja bukan hanya untuk mengurangi beban finansial, namun untuk dirinya sendiri dan karena dia pantas mendapatkan yang terbaik dalam segala hal.

by Shanaz Makrufa
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Sebuah tulisan di media sosial baru-baru ini membuat saya terperangah. Seorang laki-laki menceritakan bagaimana pengunduran diri sang istri dari pekerjaannya tidak akan mengurangi pendapatan keluarga mereka. Dengan hitungan matematis, dia menjabarkan bahwa ketika istrinya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, tidak akan ada lagi pengeluaran untuk ongkos istrinya ke kantor, gaji asisten rumah tangga, biaya untuk les anak-anak bahkan asuransi, karena semua itu akan dilakukan sang istri. Agak kurang jelas mengapa ada kompromi untuk pendidikan dan kesehatan anak-anak. Sepertinya si bapak hanya pelit saja.

Tentu saja tulisan itu dibalut atas nama agama dengan penggambaran bahwa si istri kini menjadi semakin solehah. Yang lebih tidak relevan lagi adalah hitung-hitungan sang suami tadi hanya memasukkan aspek materi saja. Apakah istrinya bekerja hanya untuk menambah pemasukan keluarga? Apa setelah mereka menikah kesempatan sang istri untuk mendapatkan karier yang baik dan mengeksplorasi diri lantas berhenti? Sayangnya  pemikiran seperti ini banyak dibagi dan diamini oleh pengguna media sosial. “Jika kamu adalah istri yang soleha maka berhenti lah bekerja. Masalah penghasilan serahkan pada suami (maksud saya pada Yang Maha Esa). Karena rezeki sudah ada yang mengatur.” Jika saya punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan bapak penulis artikel tadi  saya ingin bilang “Pak, orang tua istri Anda membesarkannya, menyekolahkannya, memberinya gizi yang baik untuknya agar menjadi seorang perempuan hebat. Untuk mengejar cita-citanya. Dan anda dengan perhitungan matematis menggantikan itu semua untuk penghematan anggaran rumah tangga?”

Saya banyak menemui kasus perempuan yang harus berhenti dari pekerjaannya sejak memutuskan menikah. Saya tidak mengerti mengapa pernikahan menjadi alasan bagi seorang perempuan untuk berhenti mengaktualisasikan dirinya. Dan saya yakin ini bukan ajaran agama. Istri pertama Nabi Muhammad, Siti Khadijah, adalah seorang pengusaha Di zaman itu belum ada surel atau aplikasi e-commerce. Apa lantas Nabi Muhammad melarang istrinya untuk melakukan transaksi di luar rumah atau menyuruh istrinya untuk diam di rumah? Tapi apa daya, patriarki berkedok agama memang laku keras jadi bahan untuk mengontrol perempuan. Terutama yang banyak dibagi di media dakwah.

Hal ini mengingatkan saya pada tante saya. Dia seorang perempuan yang hebat. Dari keempat saudaranya, termasuk ibu saya, dia yang paling tinggi jenjang pendidikannya. Di saat tante yang lain memutuskan untuk tidak kuliah, dia berhasil mendapatkan gelar cum laude. Karena Kakek dan Nenek harus pontang-panting mencari uang untuk membiayai anak-anak mereka, Tante juga gigih bekerja paruh waktu sambil kuliah, berjualan nugget sampai pembalut dan ikut menjadi penyelenggara acara untuk menambah penghasilan. Sampai akhirnya dia mendapatkan surat izin sebagai notari,s kami sekeluarga sangat bangga dengan prestasinya itu.

Saya juga masih ingat bagaimana Kakek bersemangat sekali mencetak papan nama notaris Tante. Dia mulai bisa membahagiakan Kakek dan Nenek dengan sekadar membeli kebutuhan sehari-hari. Di memulai karier notarisnya dari nol, dari satu dua klien sampai akhirnya mulai dikenal dan dipercaya di daerah tempatnya bekerja.



Tante memutuskan menikah di usia 30 tahunan. Seperti biasa, keluarga dan dirinya sendiri menganggap dia harus segera menikah karena usianya yang sudah kepala tiga. Ketika memutuskan menikah, Tante juga memutuskan untuk menyudahi karier notarisnya dan ikut dengan suaminya ke Jakarta, menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengabdi pada suami. Hal itu ditentang oleh keluarga terutama Kakek. Saya bisa menebak apa yang berkecamuk dalam hatinya. Seorang ayah yang membesarkan anaknya hingga sukses harus menerima kenyataan bahwa anak perempuannya akan menjadi istri orang dan meninggalkan semua karier dan prestasinya yang sudah susah payah dicapai bersama. Tapi bagaimanapun Tante sudah mengambil keputusan dan kami menghargainya.

Tante kini tinggal di Jakarta bersama suami dan tiga anak serta satu bayi lagi dalam kandungan. Kini saya lihat dia jauh berbeda dengan Tante 10 tahun yang lalu. Dia tidak lagi energik. Kini dia banyak menghabiskan waktu menonton drama Korea di pagi hari dan mengomel serta berteriak setiap waktu karena anak-anaknya yang susah diatur. Dia tidak lagi gemar merawat diri. Di tengah kebutuhan di Jakarta yang tinggi, susu anak adalah prioritas lebih penting dibandingkan creambath atau spa.

Saya sering menginap di rumahnya dan terkadang saya merasa kasihan. Setiap hari ia melewati rutinitas yang itu-itu saja. Pergaulannya pun terbatas, kalau tidak arisan ibu-ibu di sekolah ya tetangga sekitar rumah. Setiap hari teman curhat-nya adalah ART yang setia mendengar setiap keluhan Tante tentang bagaimana sang suami yang sering dinas di luar kota. Bahkan saya sering mendapati dia menangis. Tante menderita kecemasan akut sehingga dia harus selalu ditemani. Saya tidak tahu sejak kapan dia mengalaminya  namun itu membuatnya lebih gampang stres. Terlebih ketika anak-anaknya mulai berulah atau sang suami sedang tidak berada di rumah.

Saya yakin seluruh masalah yang dialami Tate karena dia menjalani rutinitas yang itu-itu saja di dalam rumah. Dia berhenti mengeksplorasi diri dan berhenti menemukan hal-hal baru di luar sana. Dia kehilangan teman-teman mengobrol dan tidak ada tempat untuk untuk berbagi dan bercerita. Seluruh masalah yang ia hadapi menumpuk dan mengganggu kesehatan mentalnya.

Saya pernah mengusulkan untuk dia kembali menjadi notaris di Jakarta. Namun ia mengeluhkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus semua izin dan menyewa tempat kerja yang pasti tidak murah apalagi di Jakarta. Saya juga pernah menyarankan dia untuk ikut event organizer milik temannya untuk menambah penghasilan. Setidaknya dia tidak harus minta uang suami untuk sekadar perawatan atau membeli tas baru. Dia hanya berkata “ya, nanti dipikirkan” namun tidak pernah jadi kenyataan. Saya rasa, dalam hati kecilnya ia ingin kembali jadi dia yang lama. Dia hanya kehilangan kepercayaan dirinya. Setelah sekian lama terkurung dalam rumah dengan rutinitas yang sama sementara teman-temannya terus berkembang dan menambah usaha baru.

Cerita Tante ini bukan untuk mendiskreditkan ibu rumah tangga, tapi sebagai pengingat untuk seluruh suami, terutama yang tulisannya saya baca tadi. Istri bekerja bukan hanya untuk menambah pemasukan. Istri bekerja bukan hanya untuk mengurangi beban finansialmu. Istri bekerja untuk dirinya sendiri dan karena dia pantas mendapatkan yang terbaik dalam segala hal. Istrimu bekerja untuk mengembangkan dirinya, untuk mengejar cita-cita dan mimpinya. Jadi omong kosong dengan hitung-hitungan matematismu tentang keuntungan yang kau dapatkan jika istrimu tidak lagi bekerja untuk menghemat ongkos dan memotong pengeluaran untuk ART, guru les bahkan asuransi. Jika kau dulu menikahinya untuk menggantikan peran ART, maka kau tak pantas mendapatkannya.

Shanaz Makrufa adalah seorang introvert, mantan mahasiswi ilmu politik yang sekarang lebih disibukkan dengan isu tambang dan energi. Suka main di pantai tapi enggak suka dihakimi saat sedang pakai bikini.