Women Lead
December 31, 2020

‘Kusama’: Novel Grafis Wajib Baca tentang Perempuan Seniman

‘Kusama’ oleh Elisa Macellari adalah novel grafis yang wajib dibaca oleh semua orang, tak hanya penggiat seni.

by Teja Janabijana
Culture
Yayoi Kusama Macellari Graphic Novel
Share:

Nama Yayoi Kusama cukup hits di kalangan kelas menengah Indonesia. Ia adalah perempuan seniman asal Jepang yang dipuja banyak penggemarnya dari berbagai pelosok dunia; seorang sosok yang mendobrak tabu, inspiratif, dan juga memancing perdebatan. Pertunjukan seni karyanya sempat hadir di Jakarta sepanjang Mei-September 2018.  

Kusama adalah novel grafis pertama tentang hidup dan karya seni Kusama yang dibuat oleh Elisa Macellari, ilustrator berdarah Thailand dan Italia. Terbit pertama kali dalam bahasa Italia pada Juni 2020, novel grafis ini muncul dengan terjemahan Perancis terbit pada Agustus, serta terjemahan Jerman dan Inggris pada September lalu.

Macellari memulai kisah Kusama dengan menggambarkan perempuan seniman Jepang itu pada tahun 1939, sedang berlari di sebuah lapangan di kampung halamannya yang dikelilingi berbagai bunga seruni. Langit biru (dihiasi iringan awan khas lukisan Jepang), rumah kayu tradisional di kejauhan, dan pohon tunggal yang berdiri tegak, sementara Kusama yang saat itu berusia 10 tahun mengenakan seragam sekolah khas Jepang (yang sampai sekarang tidak banyak berubah bentuk dan warnanya).

Dan ternyata, bunga seruni merah memanggil-manggil namanya: “Yayoi, Yayoi, Yayoi”.  Bunga-bunga tersebut memanggil namanya dengan begitu keras “hingga melukai telinganya.” Dari sini, pembaca diajak mengenali Kusama yang sudah agak “ajaib” sejak kecil. Belakangan dia didiagnosis dengan gangguan mental yang melumpuhkan, dan didorong untuk menggunakan seni sebagai terapi. Kusama juga menggunakan titik-titik atau polkadot secara obsesif di banyak karyanya, termasuk polkadot merah yang mungkin terinspirasi bunga seruni merah waktu dia kecil.

Perempuan di Dunia Seni Modern

Dari kota kecil Matsumoto sebelum Perang Dunia II, Kusama menuju ke New York pada 1958. Sebuah kota metropolitan yang menjadi ciri modernitas dunia dan konsumsi global pada masa itu. Kota yang menawarkan segala macam peluang dan kebebasan individu bagi Kusama, seorang perempuan muda usia 20-an.

Macellari menggambarkan Kusama yang sedang sibuk mengecat tembok flatnya dengan rangkaian polkadot kecil warna kelabu. Langit biru menghiasi kota New York, dan matahari berwarna merah menyala seperti halnya bunga seruni. Dan sepanjang dekade 1960-an hingga awal 1970-an, Kusama menetap di New York.

Periode Kusama di New York memberinya kesempatan melihat kembali masa kecilnya yang dibesarkan dalam keluarga yang tergolong konservatif, dengan seorang ibu yang terus-menerus mengingatkan dirinya akan peran gender seorang perempuan sesuai tuntutan sosial masyarakat Jepang yang dirasakannya terlalu feodal, misogini, dan mengikat dirinya.

Periode New York adalah juga periode baginya untuk berpetualang, menjelajahi batas-batas seni modern yang lentur dan memberinya kebebasan bereksperimen. Ia berteman dengan banyak seniman muda lainnya, bahkan ikut bersama gerakan seniman progresif yang anti perang Vietnam. Bersama mereka, ia terlibat dalam berbagai pertunjukan seni-kejadian di berbagai tempat umum seperti Central Park dan Wall Street, termasuk pertunjukan tanpa busana.

Baca juga: 5 Seniman Novel Grafis Feminis Eropa yang Patut Disimak

Macellari menggambarkan bagaimana ibu Kusama kaget dan marah setelah membaca liputan koran yang menyebut namanya terlibat dalam pertunjukan seni demikian. “Sebuah aib nasional. Mau ditaruh di mana mukaku jika tetangga bertanya!” keluh sang ibunda. 

Kusama memang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan ibunya, yang disebut-sebut sebagai ibu yang dominan dan tidak menyetujui niatnya untuk menggeluti seni sejak usia muda.

Meski demikian, Kusama tetap menghasilkan banyak karya. Dan boleh dibilang, periode New York adalah periode paling aktif dan kreatif dalam perjalanan kariernya. Hanya saja, ketika beberapa seniman (pria) mulai meniru karyanya, mereka menjadi terkenal sementara ia tidak memperoleh pengakuan yang semestinya. Di dalam novel grafis ini digambarkan perjuangan Kusama sebagai seniman perempuan mendaki gunung yang terjal dalam dunia seni modern.

Gangguan Kesehatan Mental

Selain menampilkan gelora seni Kusama, Macellari juga menggambarkan kisah asmara Kusama dengan Joseph Cornell, seniman surealis dan eksperimental, yang berusia 26 tahun lebih tua darinya. Di dalam satu panel, Macellari menggambarkan Kusama dan Cornell duduk saling berhadapan, telanjang, dan melukis apa yang mereka lihat di hadapan masing-masing. Ada kesan hubungan Kusama dan Cornell adalah kisah asrama platonik.

Novel grafis ini juga mengangkat pergulatan Kusama dengan kesehatan mental. Boleh dibilang, gambaran atas kehidupan mental Kusama selama periode New York punya porsi besar dan peran yang tidak kecil dalam arah kreativitas seni Kusama.

Ketika kembali ke Tokyo pada 1975, Kusama menemui psikiater. “Aku terus-terusan melihat spiral warna biru, merah, dan putih, berputar tiada henti di mataku,” Kusama menjelaskan kepada psikiaternya. Ia memperoleh resep obat-obatan untuk menyembuhkan dirinya, namun semua itu dirasanya tidak membantu dirinya sama sekali.

Baca juga: Bangkit dari Kematian, Berantas Ketidakadilan: 7 Komik Isekai yang Wajib Dibaca

Pada 1977, secara sukarela ia dirawat di Rumah Sakit Jiwa Seiwa di kawasan Shinjuku, Tokyo, dan memilih menetap di situ hingga kini. Di dalam satu panel, digambarkan Kusama dengan jubah dan topi khasnya, sedang menutup kedua telinganya, dengan bibir yang seakan mengaduh, akibat panggilan percobaan bunuh diri “yang tiada henti”.

Macellari dengan sangat berhasil menggambarkan perjalanan karier dan kehidupan pribadi Kusama bagi pembaca umum yang ingin mengenal sang seniman di luar karya-karya fenomenalnya. Tak heran, novel grafis ini disambut hangat di Eropa.

Bagi kita di tanah air, mungkin akan agak sulit memperoleh novel grafis ini. Selain sulitnya pengiriman pos, kurs mata uang yang menjadikannya mahal, dan juga isi/ gambar yang terbilang akan disensor negara kita memang menjadi hambatan-hambatan bagi kita mengikuti perkembangan seni terkini. Meski demikian, novel grafis ini layak menjadi buku bacaan tidak hanya bagi para penggiat seni tapi juga kita semua, terutama sebagai cermin perjalanan seorang seniman modern.

Teja Janabijana memiliki tiga ekor kucing, dan mengoleksi manga karya Hasegawa Machiko, dan shojo karya Yoshinaga Fumi, yang semuanya, sayangnya, masih sulit masuk ke Indonesia.