April 20, 2020
5 Alasan Kenapa Kamu Harus Simak ‘Girl Band’ Little Mix

Girl power bukan cuma sekadar jargon dari kelompok Little Mix asal Inggris.

by Amahl S. Azwar
Culture
Share:

Belakangan ini, saya jadi punya lebih banyak “waktu” untuk mengeksplorasi artis-artis pop yang belum pernah saya simak sebelumnya. Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah girl band asal Inggris, Little Mix.

Meski cukup telat tahu tentang mereka—padahal mereka adalah grup pertama yang berhasil memenangkan ajang pencarian bakat The X-Factor pada 2011, tetapi saya benar-benar jatuh hati pada Jade Thirlwall, Jesy Nelson, Perrie Edwards, dan Leigh-Anne Pinoock.

Mungkin karena harmoni suara keempatnya yang begitu ciamik dan saling mengisi satu sama lain (coba, deh, tonton mereka bernyanyi dengan gaya akustik). Atau karena lagu-lagu mereka yang relatable. Mungkin juga karena wawancara-wawancara mereka yang selalu kocak dan seru, atau karena koreografi mereka yang prima dan aksi panggung mereka yang selalu keren.

Tapi setelah saya semakin mendalami kisah perjalanan karier mereka, ada lima alasan utama mengapa mereka patut jadi idola dan untuk kamu simak. 

  1. Mereka adalah contoh sukses girl band

Sebelum Little Mix, tidak ada satu pun kelompok musik atau vokal yang mampu memenangkan kompetisi  The X Factor versi Inggris. Thirlwall, Nelson, Edwards, dan Pinoock sebenarnya mencoba untuk audisi sebagai penyanyi solo. Namun, juri-juri sepakat kalau mereka lebih cocok untuk menjadi bagian dari grup band.

Uniknya, keempatnya sebetulnya bergabung di dua grup band berbeda.  Thirlwall dan Pinoock adalah anggota trio Orion, sementara Nelson dan Edwards adalah bagian dari Faux Pas. Sayangnya, kedua band ini sama-sama tereliminasi.

Salah satu juri, penyanyi Kelly Rowland, yang sebelumnya adalah sepertiga dari Destiny’s Child yang melambungkan Beyoncé, melihat ada sesuatu yang spesial dari  keempat vokalis ini dan akhirnya menggabungkan mereka ke satu grup band Rhytmix, sebelum berganti nama menjadi Little Mix.

Baca juga: ‘Miss Americana’ Tampilkan Sisi Gelap Kehidupan Taylor Swift

Dengan penyanyi Tulisa sebagai mentor, Little Mix berkali-kali memperoleh pujian dari juri (Gary Barlow dari boyband Take That menyebut mereka girl band terbaik dalam ajang tersebut).

Walau sempat mendapat kritikan pada tahap semifinal, Little Mix berhasil menjuarai ajang tersebut. Sempat berkali-kali gagal pada tahap awal, keempat penyanyi perempuan ini sukses membuktikan diri mereka.

  1. Keempat anggota Little Mix mendapatkan porsi yang sama

Saya tumbuh besar sebagai penggemar grup vokal perempuan. Beberapa grup yang ikonik cenderung menempatkan satu “superstar”, dari mulai The Supremes dengan Diana Ross, Destiny’s Child dengan Beyoncé, dan Pussycat Dolls dengan Nicole Scherzinger.

Nah, Little Mix sangat berbeda. Keempat penyanyi di girl band ini mendapatkan porsi yang sama dan masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Suara merdu Pinoock stabil dalam melodi, Thirlwall terdengar  halus dan manis, vokal Edwards kuat dan tinggi, sementara Nelson serak-serak basah dan seksi.

Pada salah satu penampilan mereka di X-Factor, Gary Barlow menekankan kepada Little Mix untuk menempatkan Perrie sebagai vokalis utama. Untungnya, sang mentor Tulisa, bersikeras bahwa branding Little Mix adalah empat penyanyi perempuan yang kompak dan saling mendukung satu sama lain.

Mengingat Little Mix kini menjadi salah satu grup perempuan terlaris dengan penjualan album 50 juta kopi, rasa-rasanya tidak salah kalau visi Tulisa berhasil sejauh ini.

  1. Lagu-lagu mereka punya pesan positif

Lagu-lagu hit Little Mix memiliki pesan-pesan yang bertema female empowerment. Mulai dari Salute yang berpesan tentang perempuan mampu sukses tanpa harus memiliki kekasih, Shout Out to My Ex yang bercerita tentang bagaimana kita bisa melanjutkan hidup setelah lepas dari hubungan yang menyakitkan, Black Magic yang memiliki pesan tentang rasa percaya diri, dan Change Your Life tentang pertemanan.

Baca juga: 6 Band Perempuan Indonesia Milenial yang Wajib Masuk Playlist

  1. Mereka akur satu sama lain

Oke, tolong jangan serang saya. Saya enggak bermaksud untuk mendorong stereotip dan stigma tentang girl band atau bahwa perempuan suka enggak akur. Namun, kenyataannya, beberapa girl band favorit saya memang terkenal kurang akur dan beberapa kali terlibat cat fight (meskipun boyband-boyband dan grup musik cowok juga enggak kalah dramanya sih).

Entah hanya sekadar publicity stunt atau memang drama betulan. Tapi grup TLC sempat beberapa kali terlibat perang mulut di media; Destiny’s Child sempat dua berganti personel; dan Sugababes berkali-kali ganti formasi sampai sempat tidak ada anggota orisinal yang tersisa (belakangan mereka bubar dan akhirnya tiga anggota formasi paling awal mereka Keisha Buchanan, Mutya Buena, dan Siobhán Donaghy reuni dan membentuk ulang Sugababes).

Yang barangkali paling terkenal adalah The Supremes, dengan konflik internal yang dimulai saat Diana Ross menggantikan Florence Ballard sebagai penyanyi utama, cerita yang menginspirasi film musikal Dreamgirls.

Tidak demikian halnya dengan Little Mix. Keempatnya saling melindungi satu sama lain, termasuk di media sosial. Waktu Jesy Nelson mendapat perundungan di media sosial karena berat badannya (simak dokumenter Odd One Out dari BBC), ketiga personel lainnya menyatakan dukungan kepada dirinya. Little Mix juga tidak pernah terlibat drama internal sampai masuk tabloid.

Little Mix merupakan contoh paling anyar di mana ketika perempuan saling mendukung satu sama lain dan bersatu, mereka dapat mencapai kesuksesan yang tinggi.

  1. Mereka pendukung queer movement dan LGBTQ+

Terakhir, dan tidak kalah penting, Little Mix merupakan pendukung kelompok minoritas seksual. Mereka mendedikasikan lagu Secret Love Song untuk komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Little Mix juga sempat tampil di Dubai dengan bendera pelangi sebagai bentuk dukungan mereka terhadap LGBT, karena Uni Emirat Arab memiliki sistem hukum yang mendiskriminasi kelompok itu.

Thirlwall berkali-kali menyatakan dukungannya terhadap LGBT. Dia sempat menjadi juri tamu untuk ajang pencarian drag queen RuPaul’s Drag Race versi Inggris, dan dia tidak segan-segan menegur komentar-komentar berbau homofobia di akun Instagram-nya.

Amahl S. Azwar adalah penulis gay yang tinggal di Bandung, Jawa Barat. Ia bisa ditemui di Twitter @mcmahel dan blog www.mcmahel.wordpress.com.