June, 04 2019
Dicari: SDM Mumpuni untuk Industri Perfilman Indonesia

Meningkatnya jumlah film setiap tahun belum berbanding lurus dengan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang perfilman.

by Elma Adisya, Jurnalis
Culture // Screen Raves
Mahasiswa_Sekolah_Pelajar_Film
Share:

Bagi sutradara Joko Anwar, proses pencarian aktor untuk membintangi film-filmnya relatif lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan mencari kru untuk pembuatan film. Untuk memproduksi satu film, peraih Piala Citra untuk film Pengabdi Setan (2017) itu memerlukan ratusan kru yang harus di-book setahun sebelum pengambilan gambar karena berebutan dengan rumah produksi lain. Hal ini terjadi karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) di industri perfilman Indonesia,

“Tiap divisi, rata-rata kita kekurangan kru. Ini baru berbicara dalam segi jumlah ya, belum kualitas,” ujar Joko kepada Magdalene pekan lalu.

Sudah sejak lama prihatin dengan situasi ini, ia sempat membuat utas di Twitter setahun lalu yang membahas secara komprehensif profesi-profesi yang ada dan dibutuhkan dalam dunia film.

“Tetapi yang paling dirasakan kurang itu bagian penulis naskah, karena penulis naskah itu kan sebelum proses produksi berjalan sudah mulai bekerja,” ujar Joko, yang akan meluncurkan dua film tahun ini, yakni Gundala dan Perempuan Tanah Jahanam.

Ketersediaan SDM yang minim dalam industri film ini tidak berbanding lurus dengan produksi film yang meningkat. Dalam lima tahun terakhir, industri perfilman Indonesia memproduksi sedikitnya 130 judul film setiap tahun.    

“Indonesia saat ini sebetulnya memasuki masa keemasan perfilman. Ini terlihat sekali dari penjualan tiket yang tiap tahunnya meningkat. Di tahun 2018, angka penjualan tiket untuk film Indonesia mencapai 50 juta tiket, naik 30 persen dari tahun sebelumnya,” ujar Joko.  

Seorang mahasiswa jurusan perfilman tengah mencari buku di rak perpustakaan
Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

Salah satu faktor minimnya SDM perfilman adalah kurangnya lembaga pendidikan perfilman di Indonesia. Selama puluhan tahun, hanya ada Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai lembaga pendidikan tinggi penghasil SDM perfilman. Dalam 10 tahun terakhir, muncul lembaga pendidikan lain, seperti Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Bina Nusantara (BINUS), SAE Institute, dan Internasional Design School (IDS) yang menawarkan jurusan Film. Selain itu, ada lembaga pendidikan yang menawarkan kursus teknis perfilman dalam waktu pendek, yang tersebar di Jakarta, Bandung, dan kota-kota lain di Jawa. Salah satunya adalah Citra Film School di Jakarta yang telah ada sejak 1978.

Fokus pengajaran lembaga-lembaga ini berbeda-beda. Ketua Program Studi Film dan Televisi UMN, Kus Sudarsono mengatakan, kampus UMN mengenalkan semua bagian dalam proses pembuatan film.

“Selain itu, kami lebih banyak berfokus pada wirausaha dan teknologi, yang mungkin di kampus-kampus lain belum diajarkan. Kita punya lab khusus untuk online editing,” ujar Kus.

Sementara itu, lembaga seperti International Design School, membuka kursus penyuntingan video dan produksi video yang lebih dikhususkan untuk konten internet.

Lembaga-lembaga pendidikan film ini, sayangnya belum bisa memenuhi permintaan industri film, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Kus mengatakan bahwa isu lain adalah kurangnya tenaga pengajar.

“Kami kekurangan tenaga pengajar karena pengajar disyaratkan oleh Dikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) harus memiliki gelar S2,” ujar Kus.

Salah satu buku perfilman koleksi perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

 

Aspirasi Menjadi YouTuber

Kekurangan tenaga pengajar ini diisi oleh para praktisi perfilman, sesuai ketentuan Permeristekdikti Nomor 26 Tahun 2016 tentang Rekognisi Pembelajaran Lampau.

“Jadi mereka yang belum S2 itu bisa diusulkan ke Dikti untuk rekognisi. Seorang profesional disetarakan menjadi S2,” kata Kus.

Salah satu praktisi yang menjadi dosen adalah sutradara Lucky Kuswandi, yang karyanya antara lain Selamat Pagi, Malam (2014) dan Galih dan Ratna (2017). Mengajar film di UMN sejak 2009, Lucky mengatakan jika dulu hanya ada sekitar 9-10 mahasiswa satu kelas, sekarang bisa hampir 40 orang dalam satu kelas.

“Mungkin karena sekarang film ini dilihat tidak seekslusif dulu, yang hanya membuat film untuk film bioskop, tapi sekarang ada pembuat konten web, lalu YouTuber,” ujarnya.

Kurikulum jurusan Film di UMN masih berkembang, ujar Lucky, dengan evaluasi setiap semester mengenai apa yang perlu diperbaiki dan ditambahkan setiap semesternya. Ia melihat bahwa para mahasiswa semakin sensitif terhadap isu di sekitar mereka untuk kemudian diangkat ke dalam film-film mereka. Sayangnya, semakin banyak yang masuk ke jurusan Film karena ingin menjadi bintang YouTube, ujar Lucky.

“Ada yang masuk sekolah film karena sudah menjadi YouTuber dan ingin mengasah kemampuan teknis mereka. Akhirnya yang menginspirasi anak-anak ini untuk masuk ke jurusan film ya karena ingin jadi YouTuber. Ini jadi tantangan buat saya sebagai pengajar saat ini untuk menumbuhkan ketertarikan mereka pada dunia film,” tambahnya.

Jasmine Sheila, mahasiswa semester 6 jurusan perfilman Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, memperlihatkan poster film dokumenter karyanya yang berjudul (Ma)cho.

Adiguna Palinrungi, mahasiswa perfilman angkatan 2016 di BINUS, mengakui bahwa memang banyak teman-teman dan juniornya yang masuk sekolah film karena termotivasi ingin menjadi YouTuber.

“Mereka kemudian kaget karena mereka pikir akan diajarkan cara membuat konten, ternyata enggak sesuai ekspektasi. Mereka juga kaget karena pembuatan film ternyata rumit dan prosesnya panjang. Kalau yang begini biasanya memilih berhenti di semester awal,” ujarnya.

Kus mengatakan bahwa fenomena ini juga disebabkan oleh minimnya literasi mengenai dunia film dalam masyarakat.

“Contohnya ketika kampus saya mengadakan open house, hampir semua orang tua menanyakan ‘Ini anak saya, kalau masuk film, bisa kerja apa?’. Jadi bagi masyarakat awam, dunia film ini masih menjadi ‘dunia lain’,“ ujarnya kepada Magdalene.

Meski demikian, banyak juga mahasiswa yang memang betul-betul ingin terjun ke dunia film, seperti Jasmine Sheila, mahasiswa jurusan Film semester enam di UMN. Ia mengatakan tertarik masuk jurusan Film karena ingin menampilkan isu-isu sosial yang menjadi minatnya.

“Film merupakan medium yang menarik untuk menyalurkan ide mengenai isu-isu ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejumlah temannya yang berasal dari luar Jakarta memiliki motivasi untuk memajukan perfilman di daerahnya.

“Salah satunya temanku dari Palu, film dokumenternya kemarin membahas tentang sebuah penyakit yang hanya di daerahnya, dan masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2018,” ujar Jasmine, mengacu pada film Neraka di Telapak Kaki karya Sarah Adilah.

Beberapa film karya mahasiswa UMN lainnya juga menjadi nominasi kategori film dokumenter FFI 2019, antara lain Ojek Lusi (Winner WIjaya), Deathcrow 48 (Saul Manurung), dan O-Sepig (Agnes Michelle).

Buku-buku perfilman koleksi perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

 

Sistem Perekrutan

Untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap dunia film, menurut Kus Sudarsono, kampus harus mengenalkan bagian-bagian dari dunia film itu seluas-luasnya kepada masyarakat. Ia juga menyarankan praktisi di dunia film untuk mengambil sertifikasi tenaga pengajar dan bekerja dengan sekolah film.

Tito Imanda, salah satu pendiri Sekolah film Universitas Bina Nusantara (BINUS), mengatakan bahwa institusi pendidikan film juga harus pintar-pintar berstrategi dalam menggaet mahasiswa baru.

“Di awal-awal ketika merekrut mahasiswa, bisa menggunakan teknik wawancara, seperti di BINUS. Waktu itu lewat proses tersebut, saya meyakinkan para calon mahasiswa, siap tidak dengan beratnya proses dunia perfilman. Biasanya kalau tidak siap, mereka enggak jadi masuk,” ujar Tito, yang juga pembuat film dan kepala bidang penelitian dan pengembangan di Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Selain faktor dosen, fasilitas, dan kurikulum, menurut Tito, perekrutan mahasiswa sangat penting untuk menentukan akan seperti apa kualitas lulusan institusi pendidikan film.  

“Memilih yang betul-betul siap itu penting banget, karena membuat film itu adalah sebuah kerja tim, kalau dari awal tidak disaring dengan baik, kerja tim tersebut ya bakal berantakan,” ujarnya.

Selain wawancara, yang perlu ada adalah mata kuliah literasi film, di mana mahasiwa akan ditugaskan menonton sebuah film dan menganalisis film tersebut, ujar dosen BINUS Ekky Imanjaya.

“Tujuannya agar mahasiswa memiliki banyak referensi film. Selain itu, kami dari tahun 2010 menggelar seminat industri film, dan mengundang orang-orang dari industri perfilman untuk berbagi pengalaman mereka,” kata Ekky.

Joko Anwar mengatakan bahwa selain sekolah dan lembaga kursus film, rumah produksi bisa berperan dalam menghasilkan SDM perfilman yang dibutuhkan oleh industri.

“Selain memperbanyak sekolah dan kursus film, rumah produksi juga bisa melakukan proses inkubasi pekerja film, untuk melatih masyarakat yang punya passion di bidang perfilman. Setelah inkubasi itu, rumah-rumah produksi ini bisa mempekerjakan para peserta inkubasi tersebut,” ujarnya.

Artikel ini merupakan hasil kerja sama Magdalene dengan Kalyana Shira Foundation, organisasi nirlaba yang berfokus pada isu-isu perempuan, gender, anak-anak, dan kaum marginal lainnya.

Baca juga tentang lembaga sensor film yang menghambat kreativitas sineas, dan minimnya representasi perempuan dalam film Indonesia.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo