March 05, 2019
Hijab di Indonesia: Sejarah dan Kontroversinya

Tren peningkatan pemakaian hijab menjadi peluang bisnis pakaian yang sangat menggiurkan.

by Alimatul Qibtiyah
Issues // Politics and Society
Share:

Hijab di Indonesia sudah menjadi lebih populer sejak dua dekade belakangan ini. Sejarah mencatat bahwa budaya pemakaian hijab sebenarnya ada sejak abad ke-17. Namun demikian perdebatan terkait dengan hijab ini masih terjadi walaupun pemakai hijab di Indonesia semakin banyak dari tahun ke tahun.

Seorang kepala sekolah di Riau mendapatkan kecaman  setelah menyuruh siswi di sekolahnya menggunakan hijab walaupun siswi tersebut bukan muslim. Sementara itu publik juga dikejutkan dengan kasus seorang atlet judo perempuan dari Aceh yang didiskualifikasi dari pertandingan di Asian Para Games 2018 karena memakai hijab.

Artikel ini menganalisis budaya penggunaan hijab di Indonesia dan mengapa sampai saat ini masih menjadi kontroversi.

Tidak ada data yang pasti terkait dengan jumlah pemakai hijab di Indonesia secara menyeluruh. Namun sebuah survei pada 2014 melaporkan ada sekitar 63,58 persen dari 626 responden perempuan muslim yang mengatakan bahwa mereka telah memakai dan akan memakai hijab dan hanya sekitar 4,31 persen dari mereka yang tidak akan memakai hijab.

Tren peningkatan pemakaian hijab ini menjadi peluang bisnis pakaian yang sangat menggiurkan. Salah satu pasar hijab di Bandung, Jawa Barat melaporkan bahwa peluang bisnis meningkat lima kali lipat dari Rp3 miliar pada 2012 menjadi Rp15 miliar pada 2018. Hal ini juga berdampak positif terhadap perkembangan industri mode yang diekspor dari Indonesia. Pada 2014, nilai ekspor Indonesia untuk pakaian muslim mencapai AS$7,18 miliar, menurut data Kementerian Perdagangan. Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah Bangladesh dan Turki.

Pada 2020, Indonesia diperkirakan akan menjadi pusat pakaian muslim di dunia, menurut Global Business Guide Indonesia.

Ragam model hijab

Berdasarkan pengamatan saya, paling tidak ada tiga macam model hijab di Indonesia

  1. Hijab sederhana. Hijab model ini berukuran pendek sebahu dan ada banyak warna dan model. Model jenis ini paling populer dan pemakainya sampai sekitar 70 persen muslimah.
  2. Hijab konservatif. Hijab ini lebar, menutup seluruh tubuh bagian atas dan biasanya warnanya putih, hitam dan coklat. Beberapa orang menamakannya sebagai hijab syar'i atau hijab yang berdasarkan ajaran Islam. Hijab model ini digunakan oleh sekitar 10 persen oleh muslimah Indonesia.
  3. Hijab modis. Hijab model ini mempunyai beragam model dan warna. Kalangan menengah ke atas biasanya menggunakan hijab model ini. Harganya beragam dari berkisar Rp50 ribu sampai jutaan rupiah.

Hijab telah menjadi bagian gaya hidup bagi banyak perempuan muslim di Indonesia. Banyak selebriti yang mulai memakainya. Para selebriti ini kemudian menjadi acuan mode hijab buat masyarakat.

Salah satunya adalah desainer Dian Pelangi. Dian dan 30 temannya mendirikan Hijaber Community (HC) pada 2010 di Jakarta. HC telah membuka banyak cabang di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta; Bandung, Jawa Barat; Yogyakarta; Padang, Sumatra Barat; Medan, Sumatra Utara; Lampung; Pontianak, Kalimantan Barat; dan Makassar, Sulawesi Selatan. Anggotanya sudah mencapai lebih dari 6.000 orang.

Sejarah hijab di Indonesia

Berdasarkan catatan sejarah, hijab pertama kali dipakai di Indonesia oleh seorang muslimah bangsawan dari Makassar, Sulawesi Selatan pada abad 17. Cara berhijabnya lalu ditiru oleh perempuan Jawa pada awal 1900-an setelah berdirinya organisasi perempuan muslim Aisyiyah, yaitu salah satu organisasi Islam terbesar yang sampai saat ini cukup berpengaruh di masyarakat melalui kegiatan pendidikan, ekonomi, sosial dan juga kesehatannya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jean Gelman Taylor, seorang profesor Sejarah dari Universitas New South Wales, Australia, menemukan bahwa tidak ada gambar hijab di foto-foto perempuan Aceh pada tahun 1880-an and 1890-an. Sayangnya, Taylor tidak menjelaskan mengapa demikian.

Hanya beberapa pahlawan perempuan Indonesia yang memakai hijab di masa lalu. Banyak di antara pahlawan perempuan muslim justru tidak memakainya. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian hijab adalah sebuah pilihan personal.

Selama Orde Baru, pemerintah sempat melarang  pemakaian hijab di sekolah-sekolah. Pemerintahan di era Soeharto secara ketat mengendalikan isu agama di arena publik. Pemerintah beranggapan bahwa hijab adalah simbol politis yang berasal dari Mesir dan Iran yang situasi politiknya tidak sama dengan situasi budaya Indonesia. Pemerintah saat itu khawatir bahwa hijab akan dijadikan sebagai identitas politik yang akan mengganggu stabilitas pemerintahan.

Setelah itu, pemakaian hijab semakin diterima di masyarakat. Tidak lama kemudian, hijab telah menjadi tren terbaru di kalangan para muslimah. Hal ini juga didukung oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, telah menyatakan bahwa hijab adalah pakaian ideal untuk muslimah. Pengakuan dari kedua organisasi inilah yang menjadikan semakin banyak orang yang menerima hijab sebagai pakaian ideal bagi muslimah di Indonesia.

Segala jenis tekanan yang ada, baik yang menyangkut dorongan untuk memakai atau tidak memakai hijab ataupun bagaimana cara memakainya serta model seperti apa yang digunakan, dimaksudkan untuk mengendalikan tubuh perempuan.

Alasan pemakaian hijab

Seorang antropolog Saba Mahmood dari Mesir menyatakan bahwa banyak muslimah yang memakai hijab karena alasan identitas agama dan ekspresi kesalehan seseorang. Artinya, dengan menggunakan hijab, seorang muslimah mempercayai bahwa dirinya lebih saleh daripada mereka yang memutuskan untuk tidak menggunakannya.

Banyak muslimah Indonesia juga mempunyai alasan ini saat memutuskan untuk menggunakan hijab. Survei pada 2014 menyebutkan bahwa 95 persen responden dari para hijaber mengatakan bahwa alasan menggunakan hijab adalah karena alasan agama. Sebagian yang lain menggunakan hijab karena alasan keamanan, kenyamanan dan alasan politis.

Feminis dan akademisi Indonesia Dewi Candraningrum menuliskan di bukunya yang berjudul Negotiating Women’s Veiling, Politic & Sexuality in Contemporary Indonesia, bahwa sebagian politikus perempuan terkadang menggunakan hijab untuk keperluan politis. Para politikus perempuan ini berharap mereka akan mendapatkan suara pemilih dengan penampilannya yang religius.

Otonomi perempuan

Walaupun perempuan muslim Indonesia dapat memakai jilbab dengan lebih bebas di tempat umum saat ini, usaha-usaha yang mengatur cara pemakaiannya masih saja terjadi.

Salah satu contohnya, akhir tahun lalu Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan pegawai perempuan muslim yang memakai hijab untuk memasukkan kerudungnya ke dalam baju seragamnya. Namun baru beberapa hari diberlakukan, kebijakan ini menuai protes, karena sebagian pegawai merasa nyaman kalau mereka mengenakan hijab sampai menjulur ke dadanya. Dan akhirnya kementerian mencabut kebijakan tersebut.

Berbagai macam tekanan terkait dengan model berhijab datang dari masyarakat sendiri. Kalangan konservatif mengklaim bahwa hijab yang longgar dan lebar adalah yang paling baik dan benar, sesuai dengan ajaran Alquran. Namun kalangan ilmuwan progresif dan feminis berusaha melawan klaim ini karena khawatir klaim tersebut akan menghalangi kebebasan perempuan untuk menentukan apa yang ingin dikenakannya.

Bagi saya, segala jenis tekanan yang ada, baik yang menyangkut dorongan untuk memakai atau tidak memakai hijab ataupun bagaimana cara memakainya serta model seperti apa yang digunakan, dimaksudkan untuk mengendalikan tubuh perempuan.

Jika kita berkaca pada para pahlawan perempuan muslim Indonesia pada masa lalu terkait dengan keputusan mereka untuk memakai hijab atau tidak, maka kita seharusnya mendorong para perempuan sekarang untuk memilih memakai atau tidak memakai hijab. Perempuan harus bebas memilih berdasarkan preferensi pribadi.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Alimatul Qibtiyah adalah dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga