January 15, 2026
Issues Politics & Society

19 Tahun Aksi Kamisan: Lawan Impunitas dan Pemutihan Kejahatan Negara 

Rakyat teguh melawan meski pelanggaran HAM berat masa lalu berusaha dihapuskan negara.

  • January 15, 2026
  • 2 min read
  • 96 Views
19 Tahun Aksi Kamisan: Lawan Impunitas dan Pemutihan Kejahatan Negara 

Seruan “Siapa yang kita lawan? Soeharto! Prabowo!” menggema di depan Istana Presiden pada (15/1) dalam peringatan 19 tahun Aksi Kamisan. Aksi mingguan ini kembali digelar sebagai pengingat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat masa lalu belum pernah benar-benar diselesaikan. 

Bagi para peserta, Aksi Kamisan bukan sekadar ritual peringatan, melainkan bentuk perlawanan terhadap impunitas yang terus dirawat negara. Aktivis perempuan Kalis Mardiasih menyebut pemerintah saat ini memperlihatkan kecenderungan memutihkan sejarah pelanggaran HAM berat. 

“Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto adalah bentuk kegagalan negara melindungi korban, terutama perempuan dan anak. Ini bukan soal simbol, tapi soal cara negara menghapus ingatan atas kejahatan,” ucap Kalis. 

Baca juga: #MenolakLupa: September Hitam dan Pola Kekerasan Negara yang Terus Berulang

Negara dan Penghapusan Ingatan 

Ia menyinggung pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang sempat mempertanyakan kebenaran pemerkosaan massal 1998. Menurut Kalis, pernyataan semacam itu mencerminkan sikap pemerintah yang ingin menafikan kekerasan seksual sebagai bagian dari sejarah politik. 

“Korban pemerkosaan masih hidup dengan trauma sampai hari ini. Ketika negara justru meragukan atau mengecilkan kejahatan itu, artinya negara sedang melanggengkan kekerasan,” tuturnya. 

Aktivis Greenpeace Iqbal Damanik bilang, impunitas bukan hanya warisan masa lalu, tetapi masih berlangsung hingga kini. Ia menyebut dari Sabang sampai Merauke, korban kekerasan negara terus bermunculan tanpa keadilan. 

“Pelaku tidak dihukum dan tetap bebas. Negara terus merawat ketidakadilan, sementara para aktivis, pembela lingkungan, dan warga yang melawan justru dikriminalisasi,” ungkap Iqbal. 

Menurutnya, Aksi Kamisan menjadi simbol masyarakat sipil tidak akan berhenti menuntut pertanggungjawaban negara. Ia mengingatkan Soeharto pun pernah tumbang oleh tekanan rakyat. 

Baca juga: 27 Tahun Reformasi, Sumarsih Masih Tegak Berdiri

“Kekuasaan bisa jatuh ketika rakyat muak terhadap ketidakadilan. Karena itu, perlawanan adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan ingatan dan menuntut keadilan,” ujarnya. 

Aksi Kamisan telah berlangsung selama 19 tahun tanpa pernah absen. Bagi para pesertanya, keberlanjutan aksi ini menjadi bukti negara belum pernah sungguh-sungguh menuntaskan pelanggaran HAM berat dan belum berhenti memproduksi ketidakadilan baru. 

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.