September 24, 2020
‘All Woman Authors’: Daftar Tandingan Penghargaan Sastra 2020

Daftar Tandingan ini mengutamakan penulis perempuan di semua kategori sebagai bentuk merayakan kekayaan dan keberagaman Indonesia.

by Jafar Suryomenggolo
Culture
Share:

Awal September 2020 ini kita semua dibuat terheran-heran membaca daftar Nomine Penghargaan Sastra 2020 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (“Badan Bahasa”) yang diisi penulis laki-laki.

Di dalam gugatannya, penulis Feby Indirani mempertanyakan kriteria, standar, dan penilaian yang diterapkan oleh Badan Bahasa yang notabene adalah suatu lembaga negara. Ia juga mengajak kita semua, para pencinta sastra Indonesia, untuk bersuara.

Menyusul pula novelis dan esais Anindita S. Thayf yang mengemukakan pengalamannya sebagai penulis penulis. Selain dituntut menunjukkan kemampuannya lebih daripada penulis laki-laki, banyak penulis perempuan tidak mendapat dukungan dari lembaga negara, yang anehnya malah “meminta hasil keringatnya secara gratis.”

Persoalan ketimpangan dan ketidakadilan ini jelas nyata adanya, dan mereka yang menolak mengakuinya adalah bagian dari sistem yang mengerdilkan, menyudutkan, dan menyingkirkan penulis perempuan.

Persoalan ini juga bukan semata-mata persoalan penulis perempuan atau persoalan dunia sastra belaka, melainkan persoalan kita semua sebagai para pencinta sastra dan yang mendukung kesetaraan bagi semua perempuan tak terkecuali.

Pada saat yang bersamaan, di Perancis diumumkan nominasi penghargaan sastra Prix Femina. Sudah sejak 1904, dan setiap tahunnya (kecuali pada masa perang 1940-1943), Prix Femina memberi penghargaan pada karya-karya sastra yang mengedepankan perjuangan perempuan. Semua anggota juri Prix Femina adalah perempuan, sebagai bentuk perlawanan atas misogini. Pemenangnya akan diumumkan Rabu pertama November (tahun ini pada 4 November 2020).

Baca juga: 'All Male Authors' di Nominasi Penghargaan Sastra 2020 Badan Bahasa

Penghargaan khusus bagi penulis perempuan dan karya-karya yang mendepankan perjuangan perempuan juga ada di banyak negara lain. Di Meksiko sejak 1993 ada Sor Juana Inés de la Cruz Prize, sementara di Australia sejak 2013 ada Stella Prize.  

Bercermin dari itu, mungkin sudah saatnya kita di Indonesia menyusun Daftar Tandingan Penghargaan Sastra 2020. Serupa dengan daftar yang disusun Badan Bahasa, Daftar Tandingan ini juga mencakup lima kategori: Puisi, novel, cerpen, esai/ kritik sastra, dan naskah drama.

Guna menunjukkan kekayaan karya-karya perempuan, Daftar Tandingan ini juga menambah dua kategori lagi, yakni kategori penerjemah, seperti yang selama ini diselenggarakan Warwick Prize for Women in Translation di Inggris, dan kategori komik, yang telah diakui sebagai bagian dari media baru dalam dunia sastra.  

Selain itu, Daftar Tandingan ini juga mengusulkan adanya kategori khusus, “Perempuan Legenda,” yakni penghargaan bagi penulis perempuan yang sudah meninggal, yang karya-karyanya tetap penting bagi agenda perjuangan perempuan, tetapi sayangnya justru terabaikan (diabaikan) semasa hidupnya dalam sistem budaya yang masih misoginis (cilakanya, sampai sekarang juga!). Kategori khusus ini juga memperlihatkan bahwa penulis perempuan Indonesia punya akar dan sejarah yang panjang, bukan sekedar tuntutan kemarin sore.  

Baca juga: Lasminingrat Lawan Perjodohan di Tatar Sunda Lewat Sastra

Jika Badan Bahasa merasa kesulitan mencari dan mengakui kemampuan para penulis perempuan Indonesia sepanjang 2015-2020, Daftar Tandingan ini justru mengutamakan penulis perempuan di semua kategori sebagai bentuk merayakan kekayaan dan keberagaman Indonesia. Karya-karya yang mereka hasilkan adalah bacaan bermutu bagi kita semua.

Kiranya para juri dari Badan Bahasa tidak perlu kebakaran jenggot! Daftar Tandingan ini bisa jadi rujukan bagi Badan Bahasa untuk benar-benar memperhatikan dan mendukung karya-karya penulis perempuan kita. 

Sebagai catatan, tidak satu pun penulis yang namanya disebut di dalam Daftar Tandingan ini telah dihubungi terlebih dahulu. Saya tidak mengenal satu pun dari mereka di bawah ini secara pribadi, bukan teman, konco, ataupun punya hubungan timbal-balik. Daftar Tandingan ini disusun murni berdasarkan takzim atas karya-karya mereka. 

Kategori Novel

  1. Intan Paramaditha, Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (Gramedia Pustaka Utama, 2017)
  2. Ratih Kumala, Wesel Pos (Gramedia Pustaka Utama, 2018)
  3. Evi Sri Rezeki, Babad Kopi Parahyangan: Sebuah Novel (Marjin Kiri, 2020)

Kategori Cerpen

  1. Feby Indirani, Bukan Perawan Maria (Pabrikultur, 2017)
  2. Sinta Ridwan, Perempuan Berkepang Kenangan: Kumpulan Cerpen (Ultimus, 2017)
  3. Raisa Kamila dkk, Tank Merah Muda: Cerita-cerita yang tercecer dari Reformasi (2019)

Kategori Puisi

  1. Avianti Armand, Buku tentang Ruang: Kumpulan Puisi (Gramedia Pustaka Utama, 2016)
  2. Deny Tri Aryanti, Perempuan Kretek dan Ruang Tunggu: Kumpulan Puisi (Satu Kata, 2017)
  3. Yuliani Kumudaswari, Perempuan Bertato Kura-kura: Kumpulan Puisi (Tonggak Pustaka, 2017)

Baca juga: 8 Buku Fiksi Indonesia Wajib Baca Sebelum Usia 30

Kategori Esai

  1. Oka Rusmini, Men Coblong (Grasindo, 2019)
  2. Linda Christanty, Hikayat Kebo: Sehimpun Laporan tentang Orang-orang Pinggiran (Circa, 2019)
  3. Najelaa Shihab, Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna (literati, 2020)

Kategori Kritik Sastra

  1. Sugihastuti, Peribahasa: Struktur dan Maknanya (Acom Press, 2016)
  2. Katrin Bandel, Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial (Universitas Sanata Dharma, 2016)
  3. Diah Ariani Arimbi, Memahami Penulis Perempuan Muslim Kontemporer Indonesia, (Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga, 2018)

Kategori Naskah Drama

  1. Faiza Mardzoeki, Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer, (Ultimus, 2016)
  2. Sitoresmi Prabuningrat (Wanito Ngunandiko), Wajah Perempuan Retak (2017)
  3. Alin Ambarwati, Karlak (2018)

Kategori Penerjemah

  1. Santi Hendrawati dan Catharina Indirastuti, penerjemah Keberagaman Gender di Indonesia karya Sharyn Graham Davies (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017)
  2. Ribeka Ota, penerjemah Angsa Liar karya Mori Ogai (Moooi Pustaka, 2019)
  3. Ninus D. Andarnuswari, penerjemah buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith?: Kisah tentang Perempuan dan Ilmu Ekonomi karya Katrine Marçal (Marjin Kiri, 2020).

Kategori Komik

  1. Kathrinna Rahmavika, Mera, Puti, dan Emas (Transmedia, 2016)
  2. Puty Puar, Komik Persatuan Ibu-Ibu (Bentang Pustaka, 2018)
  3. Sheila Rooswitha Putri, Keluarga Lalala (Koloni, 2019).

Kategori khusus “Perempuan Legenda”: Marianne Katoppo (1943-2007)

Selain menulis buku Compassionate and Free yang kini telah menjadi buku rujukan klasik, ia menerjemahkan buku-buku, dan menulis cerpen, novel dan esai. Bahkan, salah satu novelnya, Anggrek Tak Pernah Berdusta, adalah novel pertama yang membahas tentang laki-laki gay yang terjebak dalam sistem patriarki. Ini adalah satu bukti ia sudah punya sudut pandang interseksionalitas yang melampaui zamannya.  

Jafar Suryomenggolo bermukim di Paris, Perancis. Ia adalah penerima LITRI Translation Grant 2018 atas terjemahan beberapa cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019).