February 26, 2024
Election 2024 Issues

Fenomena K-Popisasi Capres: Saya Ngobrol dengan Admin Anies Bubble untuk Cari Tahu

Menjadikan sosok tertentu sebagai ‘idol’ ala K-Pop (K-Popisasi) ternyata juga berlaku buat politisi, termasuk Anies Baswedan. Benarkah fenomena itu terjadi secara organik atau strategi kampanye belaka?

Avatar
  • January 6, 2024
  • 12 min read
  • 1433 Views
Fenomena K-Popisasi Capres: Saya Ngobrol dengan Admin Anies Bubble untuk Cari Tahu

Lupakan dulu kampanye serba gemoy Prabowo Subianto, kini perhatian pemilih muda sedang tertuju pada Kpopisasi atau Kpopfication Anies Baswedan. Sejak akhir Desember 2023, calon presiden (capres) nomor urut 1 itu resmi jadi idol dengan julukan baru ‘Park Ahn Nice’, plesetan bahasa Korea Selatan dari Pak Anies.

Julukan ini muncul setelah akun @aniesbubble yang memiliki 109 ribu pengikut di X mencuit dalam Bahasa Korea Selatan tentang Anies. Sang admin sengaja me-repost potongan video Anies yang sedang melakukan siaran langsung di TikTok saat berkampanye di Jawa Timur. Pemandangan Anies berada di mobil dengan penerangan lampu mobil seadanya dan guncangan akibat permukaan jalanan, terasa familier bagi para K-Popers. Mereka bak melihat idol sendiri sedang siaran langsung di tengah kesibukan promosi musik atau reality show.

 

 

Faktor kedekatan itulah yang membuat akun @aniesbubble panen engagement tinggi. Berbagai komentar dengan inside jokes dan slang khas para penggemar K-Pop dilontarkan. Ini sukses menghasilkan gelak tawa bagi K-Popers dan pengguna X yang melihatnya. Tak lama, berbagai akun penggemar ikutan meramaikan kpopisasi Anies dengan membuat konsep photocard, season greetings, photobooth event, bahkan lightstick ala-ala idol buat eks Jakarta-1 tersebut. 

Fenomena kpopisasi ini menguntungkan Anies, sebab bisa mengerek elektabilitasnya di kalangan gen Z dan milenial. Mereka adalah kelompok pemilih terbanyak di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, yakni mencapai 56 persen dari total pemilih atau sekitar 114 juta orang. Karena jumlahnya yang banyak, capres dan cawapres perlu membuat dirinya relate dengan anak muda di kampanye-kampanye politik. Tujuannya agar anak muda semakin yakin untuk memilih mereka, tutur pengamat politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aisah Putri Budiatri kepada BBC Indonesia.

K-Popisasi sebagai fenomena yang relate dengan anak muda pada akhirnya diklaim banyak buzzer sebagai gerakan organik. Namun, haruskah kita curiga bahwa ini tak lebih dari strategi kampanye capres untuk merebut perhatian kita saja?

Baca Juga:  Seruan untuk Penggemar K-Pop: Stop Bela Pelaku Pelecehan Seksual

Anies Bubble, Apakah Betulan Organik?

Fachri Muchtar, Juru Bicara Tim Nasional Anies-Muhaimin (Timnas AMIN) mengungkapkan, pemilih muda, apalagi pemilih pemula memang jadi demografi penting dan strategis buat TIM AMIN dalam mendulang suara. Mereka adalah generasi yang lahir serta tumbuh bersamaan dengan media sosial. Sehingga, pendekatannya mau tak mau harus gencar lewat media sosial. 

TikTok jadi salah satu platform yang mereka gunakan untuk kampanye. Disampaikan dengan gaya lebih santai dan ringan, harapannya Anies tak cuma menjangkau pemilih dari sisi ide dan gagasan, tapi juga persona yang bisa dinilai lewat “rasa”.

“Pemilu ini kan juga soal rasa bukan soal gagasan saja. Kebetulan juga Pak Anies pingin mencoba hal baru. Beliau suka mempelajari hal baru, coba live selama perjalanan, berinteraksi dengan warga TikTok. Jadilah di TikTok dicoba hal-hal ringannya tetapi tetep ada interaksi dengan anak-anak mudanya di situ,” kata Fachri pada Magdalene, (2/1).

Walau live TikTok jadi salah satu strategi kampanye, Fachri dan segenap Tim AMIN tidak menyangka percobaan live perdana Anies bisa langsung viral setelah dicuit oleh Anies Bubble. Kata dia, semua di luar ekspektasi tim, mengingat belum pernah terjadi pada Pemilu sebelumnya.

Fachri sendiri mengeklaim, tak ada satu pun anggota TIM Amin kenal dengan sosok di balik Anies Bubble. Ini yang membuatnya tegas mengatakan kpopisasi  adalah gerakan organik, bukan strategi kampanye Anies.

“Siapa yang punya (akun Anies Bubble) enggak ada yang tahu, enggak ada yang kenal. Makanya biarkan ini jadi gerakan yang organik. Kami tidak mau ikut campur apalagi menjadikannya bahan kampanye. Kami akan mematuhi do and don’ts-nya dari komunitas ini. Biarkan mereka berkreasi sendiri,” jelas dia lagi.

Saya mengonfirmasi kepada Anies Bubble, akun yang memulai tren viral kpopisasi Anies di X. Dalam wawancara dengan Magdalene, mahasiswa yang tidak ingin diketahui identitas aslinya ini mengaku cuma iseng saja saat mencuit soal Anies pada 29 Desember lalu. Sebagai fans K-Pop yang aktif di X sejak 2017, ia sudah terbiasa mengelola akun penggemar K-pop untuk mempromosikan idolnya ke sesama K-Popers atau muggles (sebutan orang biasa yang bukan penggemar K-Pop). 

Ia tahu bagaimana cara mempromosikan idola, membuat viewers video naik, dan memilih keyword apa saja agar topik dapat dilihat banyak orang. Sama seperti K-Popers lainnya, Anies Bubble juga punya banyak akun, yang sering disebut warganet sebagai ternak akun. Akun-akun ini umumnya ia beli untuk fangirlingan dan berjualan.

“Bisa dicari akun dari tahun berapa. Nah, ini kebetulan aku beli sebenarnya buat jualan. Beli kosongan followers 200-an tahun 2016. Jadi ya ini cuma pure keisengan saya. Akunnya aja akun ngasal, makanya enggak expect bakal booming. Kalau bakal booming ya saya pakai akun baru biar tidak ada kecurigaan,” ucapnya. 

Ia lalu bilang sangat suka melihat respons orang atas cuitannya. Ini yang jadi salah satu alasan kenapa akhirnya ia iseng mencuit soal Anies.

“Kalau aku nge-tweet gini gimana ya respons orang-orang. Menurut saya ini menyenangkan, jadi saya iseng buat aja,” tambahnya.

Saat ditanya kenapa secara khusus memilih Anies, ia mengatakan ada beberapa visi misi yang ia nilai bagus dan bersinggungan dengan nilai-nilai dan perspektif pribadi yang ia punya. Salah satunya adalah soal kesetaraan. Kesetaraan ini ia bilang tak cuma soal pembangunan merata yang bukan hanya di Pulau Jawa saja, tetapi juga soal pemberdayaan disabilitas. 

Ia juga mengapresiasi pendekatan Anies terhadap masyarakat akar rumput dengan Desak Anies. Walau secara pribadi mengaku cocok dengan Anies, ia dengan tegas menolak disebut sebagai pendukung Anies atau bahkan bagian dari tim suksesnya.

“Nyatanya saya enggak mendapat sepeser pun dari mereka. Pilihan saja juga belum final. Masih mikir-mikir nanti memilih siapa. Makanya saya enggak ngompor-ngomporin orang milih Anies. Saya juga selipkan di linktree di bio, link website Bijak Memilih biar teman-teman lain bisa menentukan pilihannya sendiri,” tuturnya.

Magdalene mewawancarai K-Popers lain yang juga melakukan kpopisasi  tokoh politik. Sebulan sebelum viralnya Anies Bubble, K-Popers dengan akun @_hellothere95 sudah lebih dulu meng-Kpopisasi paslon capres cawapres Pemilu 2024. Akun @_hellothere95 yang ingin identitasnya dirahasiakan ini menguggah hasil jepretan profesional yang diedit dengan watermark dan gradasi warna ala-ala masternim atau pemilik fansite idol K-Pop.

Dalam setiap unggahan foto masing-masing paslon, ia lalu membubuhkan caption nama paslon dengan hangeul dan format tanggal yang sama persis kita temui di akun masternim. Unggahannya kala itu mencapai 479 likes dan 71.100 views. 

Saat ditanya kenapa meng-Kpopisasi paslon capres cawapres ini, ia bilang kebetulan akunnya memang diperuntukan untuk fangirling dan concert photography. Kebetulan karena alasan pekerjaan, ia harus datang ke event Mata Najwa dengan membawa kamera. Melihat langsung ketiga paslon duduk bersama, ia refleks memotret. “Pas pulang kepikiran jadi kayak lagi foto kalau konser. Nah, aku kpopfication aja karena lucu. Selain itu, karena ada familiarity dengan idol sama kayak pas liat Anies di live Tiktok, jadi kebawa deh style fangirling K-Popnya,” tuturnya.

Terlepas dari pernyataan Timnas AMIN, Anies Bubble, dan @_hellothere95 masih banyak warganet, media, dan pengamat yang meragukan kpopfication Anies sebagai gerakan organik. Dalam hal ini, Karlina Octaviany, antropolog digital turut buka suara. Ia bilang sangat kecil kemungkinannya kpopisasi Anies bukan merupakan gerakan organik. Pola dan dinamika penggunaan bahasa eksklusif, termasuk penggunaan inside jokes yang sangat spesifik jadi alasannya.

“Bahkan anak K-Pop baru enggak tahu lucunya di mana. Istilah evil editing, snakes merujuk pada Mnet, sajaegi dipakai dalam percakapan-percakapan K-Popers saja,” jelas Karlina.

Klaim Karlina kemudian dapat didukung dengan tesis Teahlyn F. Crow dari Northern Arizona University soal penggunaan bahasa di dalam komunitas digital K-Pop. Tesis yang terbit pada 2019 itu menyatakan, kefasihan berbahasa dalam komunitas fandom digital secara signifikan melibatkan pemahaman istilah-istilah tertentu. Dalam kasus fandom K-Pop, jenis literasi yang dibutuhkan cukup unik. 

Baca Juga:  Bertabur Kekerasan, Mungkinkah ‘Fandom’ Jadi Ruang Aman Perempuan?

Fandom K-Pop Crow definisikan sebagai komunitas tutur karena ideologi bahasa, interaksi, dan pola linguistik yang sama. Karena itu, seseorang tidak hanya membutuhkan literasi umum dalam dunia fandom secara keseluruhan. Mereka juga butuh pemahaman atas menggabungkan berbagai istilah khusus penggemar Korea, internasional, bahkan lokal untuk bisa memahami dan masuk dalam interaksi fandom K-Pop. Tanpa pengetahuan yang luas tentang ini, sering kali sulit bagi penggemar baru untuk menavigasi ruang fandom.

Tak cuma itu, peraturan tidak tertulis dalam meng-Kposisasi tokoh politik juga terlihat dalam fenomena Anies. Dalam komunitas K-Pop, menjadikan fandom dan idol sebagai bahan kampanye politik hukumnya haram. Foto, lagu-lagu, dan ucapan idol tidak boleh diproduksi untuk kepentingan tertentu. 

Karena itu, ketika ada salah satu akun yang berusaha mempolitisasi fenomena ini dengan secara spesifik menyematkan nama dan foto idol beserta jargon-jargon politik, para K-Popers langsung tahu ada penyusup dan melaporkan akun ini ramai-ramai, kata Karlina.

Bukan Gerakan Politik atau Aktivisme Sosial K-Popers Biasanya

Kpopisasi  di X mengundang banyak respons dari warganet selain K-Popers. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah bagaimana fenomena ini mengingatkan mereka pada Kpopfication presiden Chili, Gabriel Boric. Dikutip dari The Korean Herald, mantan pemimpin protes mahasiswa Gabriel Boric mencetak sejarah perpolitikan Chili dengan memenangkan Pilpres setempat. Banyak media dan pengamat bilang kemenangan ini ia peroleh karena di antara koalisi pendukung loyalnya adalah penggemar K-pop lokal.

Dalam mendukung Boris, para K-Popers melakukan kampanye di berbagai media sosial dengan mengandalkan keahlian dan taktik digital yang selalu digunakan dalam komunitas. Mereka membuat akun di Instagram, Twitter, dan TikTok, mendesain grafis, dan bertukar pikiran tentang konten apa yang harus mereka terbitkan. 

Mereka lalu membagikan konten dengan menggunakan tagar tertentu, mengedit foto dan video, untuk “membersihkan atau menghapus” tagar yang mempromosikan ujaran kebencian dan berita palsu dari pendukung kandidat lain. Tak lupa, untuk membuat kampanye ini menyenangkan dan tetap relevan berbagai meme dan Fan Cheering Kit yang bisa diunduh dibuat untuk kemudian disirkulasikan ke sesama K-Popers.

Kampanye ala-ala idol K-Pop ini berhasil. Saat penghitungan, Boric menang telak dari lawan politik sayap kanannya, Jose Antonio dengan perolehan suara 56 persen. Kendati kasus Boris dipakai untuk menjelaskan fenomena kpopisasi Anies, Karlina mengatakan kpopisasi Anies berbeda dengan gerakan politik dan aktivisme K-Popers pada umumnya. Ia masih sebatas bercandaan di komunitas K-Pop belaka.

Sama halnya seperti kpopfication yang dialami oleh penyanyi dangdut King Nassar, Anies hanya digunakan sebagai face card baru idol dari komunitas digital K-Popers. Tidak ada gagasan spesifik yang menyatakan dukungan ke salah satu capres.

“Tokoh politik, musisi itu banyak kok yang dikpopisasi, tapi ya lebih ke jokes karena enggak bermaksud menokohkan. Ini masuk spektrum halu-haluan, bercandaan saja. Makanya dibikin desain lightstick, winter package, photocard tapi bukan untuk dijual, cuma desain-desain aja,” katanya.

Karlina lalu menegaskan gerakan politik dan aktivisme K-Pop tidak mungkin “selembek” ini. Mobilisasinya pasti akan lebih besar-besaran dengan taktik digital yang lebih canggih pula. Karlina menambahkan, jika ini benar gerakan gerakan politik dan aktivisme K-Pop, K-Popers tidak akan melakukannya secara terselubung. 

Ia memberikan contoh gerakan politik dan aktivisme K-Pop Filipina, ARMY for Leni. ARMY sebagai bagian dari komunitas K-Pop membuat pernyataan dukungan yang jelas terhadap Leni Robredo. Mereka memberikan alasan kenapa mereka mendukung Leni, yang di antaranya karena mereka ingin melawan kediktatoran dan korupsi sistemik.

“Ketika K-Popers memberikan dukungan politik, mereka membuat pertanyaan secara terbuka dan memberikan edukasi ke fandomnya sendiri. Jadi bukan pernyataan dukungan pura-pura. Sama halnya ketika mereka melakukan aktivisme sosial seperti BLM (Blacks Live Matter). ARMY fundraising dan mereka juga edukasi ARMY seharusnya mendukung BLM. Jadi kalau K-popers beneran mau memobilisasi, maka enggak akan selembek ini,” ucapnya.

Karlina yang juga aktif meneliti dan ikut dalam diseminasi penelitian soal kajian budaya penggemar, melihat fandom K-Popers sebagai komunitas digital yang kritis. Ia yakin mayoritas penggemarnya menganggap ini bukan hal serius. Cuma bercandaan atau lelucon saja. Ketakutan-ketakutan bahwa K-Popers disetir dan ditunggangi aktor politik atau bahkan keraguan atas K-Popers yang bisa menciptakan tren baru di internet, sebenarnya datang dari pandangan bias gender.

Dalam masyarakat patriarkal, komunitas K-Popers yang didominasi oleh penggemar perempuan ini dianggap sebagai komunitas yang lemah secara nilai kritis dan tidak punya agensi untuk menentukan pilihan. Padahal jika dilihat lebih dalam sebelum ada kpopisasi  Anies, K-Popers sudah punya benteng dan batasan-batasan sendiri yang mereka tetapkan dan terapkan bersama.

“Mereka ini aktif mengkritisi kalau ada eksploitasi di fandomnya. Jadi pasti akan ada pertentangan, nah tapi ini kan dinamikanya guyub dan ketawa-tawa aja,” imbuhnya.

Pernyataan Karlina ini relate dengan pernyataan tiga K-Popers dalam wawancara singkat mereka dengan Magdalene. Mereka adalah Hon, 25, Sekar, 22, dan “Kala”, 29. Ketiganya bilang kpopfication cuma untuk lucu-lucuan saja. Mereka tertarik pada tren ini dan mengikuti Anies Bubble karena politik yang panas dan risky berubah menjadi percakapan yang mengasyikan karena kesamaan pola dan dinamika penuturannya. 

Baca Juga:   Industri K-Pop Memang Toksik, Tapi Kritik Terhadapnya Suka Salah Sasaran

Namun, itu tak berati jadi penentu mereka untuk mendukung dan akan memilih Anies di Pemilu mendatang. Ketiganya serentak bilang masih masih belum menentukan pilihannya. 

“Sejauh ini, K-popifisasi Anies aku anggap sebagai suatu cara memetakan Pilpres aja sih. Jadi belum berpengaruh sampe buatku mau ubah pandangan politik or milih dia. Stance-ku masih golput,” kata Sekar.

Sekar dan Hon menjelaskan, banyak teman sesama K-Popers juga punya prinsip dan pandangan yang sama soal kpopisasi Anies. Hon bilang ada beberapa temannya yang mem-follow Anies Bubble bukan karena mereka pendukung atau sudah mantap memilih Anies. Sebaliknya, teman-temannya mengikuti karena alasan paling simpel. Lucu.

“Karena lucu aja, jadi pengen ngikutin. Tapi ada juga yang mau ngikutin biar tau ohhh si paslon ini tuh lagi gini-gini simply karena kalau dibahas pakai “bahasa formal”, dia udah capek bacanya, lebih mending baca pakai “bahasa sehari-hari”-nya dia,” kata Hon.

Teman-teman Sekar mengikuti Anies Bubble dan segala tren kpopisasi karena sifatnya yang menghibur. Ini juga jadi wadah untuk lebih awas dengan kondisi politik Indonesia saat ini, tetapi lagi-lagi kpopfication bukan penentu akhir suara mereka.

“Aku lihat temen-temen K-Popers yang care about politics in the first place juga mulai bersuara tentang pentingnya casting our vote for the right person buat menjaga demokrasi di indonesia. In the end, fenomena ini kurasa bisa berkontribusi terhadap peningkatan minat generasiku terhadap politik walaupun mungkin enggak se-signifikan itu,” ucapnya.

Terakhir, kelucuan soal kpopfication Anies ini juga tetap harus disikapi dengan kritis. Karlina mengatakan jangan sampai karena orang-orang partai, timses, dan paslon sudah tahu kemampuan K-Popers dalam membangun tren baru, lalu justru dieksploitasi sebagai kampanye gratisan.

Karlina pun mengimbau untuk akun seperti Anies Bubble untuk tidak mencantumkan informasi spesifik salah satu paslon saja. Walau memang ingin menjadikan Anies sebagai idol dalam tren ini, Karlina mengingatkan Anies tetap tokoh politik. Baiknya kata dia akun-akun K-Popers yang meng-kpopisasi paslon tetap harus netral.

Kasih link yang tidak mengarah ke salah satu paslon. Coba lebih ke mengedukasi first voters, visi misi ketiga paslon, gimana orang bisa daftar jadi voters, bisa ngecek dia udah terdapat jadi pemilih atau belum. Kaya gitu. Terus mekanisme mengkritisi ini juga perlu diperkuat kalau trennya mulai bergeser. Kasih teguran agar tidak jadi kereta mobilisasi ke paslon tertentu,” tutup Karlina.


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.