August 21, 2020
‘Anne with an E’, Serial Berlatar Abad 19 dengan Isu yang Masih Relevan

Serial ‘Anne with an E’ menghadirkan isu kesetaraan gender sampai rasialisme dan orientasi seksual yang masih relevan hingga kini.

by Abidah Ardelia
Culture // Screen Raves
Share:

Awalnya adalah twit yang membahas serial besutan Netflix berjudul Anne with an E. Twit itu berisi kutipan bahwa perempuan bisa melakukan apa pun yang dilakukan laki-laki. Merasa tertarik, saya mulai menonton serial yang berjumlah 3 seasons atau 28 episode ini. Tidak sampai esoknya, saya menyadari serial ini begitu keren dan mengagumkan setelah menamatkannya selama dua hari.

Anne with an E merupakan adaptasi dari novel klasik tahun 1908 yang berjudul Anne of Green Gables  karya Lucy Maud Montgomery. Berlatar akhir abad 19, serial ini bercerita tentang seorang gadis yatim piatu berambut merah bernama Anne Shirley yang akhirnya diadopsi oleh keluarga Cuthbert saat usianya 11 tahun. Keluarga yang hanya terdiri dari kakak-beradik Matthew dan Marilla tersebut awalnya berencana mengadopsi seorang anak laki-laki untuk membantu mereka mengurus Green Gablessebutan untuk ladang milik keluarga Cuthbert. Namun, sebuah kekeliruan terjadi hingga akhirnya mereka tak sampai hati memulangkan Anne kembali ke panti asuhan. Selain menceritakan kehidupan Anne di Green Gables, ‘Anne with An E’ sedikit banyak mengangkat isu-isu sosial tahun 1890-an yang masih relevan hingga saat ini.

Kesetaraan dalam pernikahan

Sumber: Netflix

“Aku tak akan menyerahkan diri pada seseorang dan menjadi properti indah yang tanpa pendapat atau ambisi. Kami akan setara dan bermitra, bukan hanya suami dan istri. Dan tak seorang pun harus meninggalkan hasratnya. Aku punya nama baru untuk kedua pihak karena aku percaya sebutannya harus sama, teman hidup.”

Kutipan Anne dalam episode berjudul “Struggling Against the Perception of Facts” terus terpatri dalam ingatan saya. Pada saat itu, menikah bagi perempuan berarti menyerahkan segala hidupnya kepada sang suami. Belum lagi tidak adanya kebebasan untuk menikah karena cinta. Para perempuan hanyalah mahar yang akan ditukar dengan keluarga yang lebih kaya..

Anne berpendapat bahwa ia, perempuan, juga bebas memilih dan menentukan pilihan. Ia, perempuan, juga memiliki mimpi yang pantas diperjuangkan. Menikah seharusnya setara dan saling bermitra, bukan mengorbankan hasrat dan impian sang perempuan.

Baca juga: 'The Half of It': Bukan Kisah Cinta yang Diidamkan Semua Orang

Diamnya korban pelecehan seksual

Sumber: Netflix

“Perempuan itu penting tidak dalam hubungannya dengan pria. Kita semua berhak atas otonomi tubuh, diperlakukan dengan hormat dan bermartabat. Untuk bilang ‘Berhenti,’ dan didengarkan; bukan didorong, dicemooh, dan diberi tahu bahwa pria lebih tahu tentang hak dasar dan keinginan kita daripada kita sendiri. Perempuan tidak menjadi utuh karena laki-laki, tetapi perempuan menjadi utuh sejak terlahir ke dunia.”

Episode berjudul “The Summit of My Desires” mengisahkan bagaimana salah satu kawan sekolah Anne yang dilecehkan secara seksual oleh tunangannya. Alih-alih menyalahkan sang pelaku, orang-orang di sekitar malah menyalahkan sang korban. Anne marah dan tidak tinggal diam atas kejadian yang menimpa temannya. Ia nekat menulis opininya tentang keadilan antargender di koran sekolah yang biasa disebarkan saat ibadah gereja pagi.

Opini Anne dalam koran tersebut menimbulkan reaksi negatif di kalangan warga dan menimbulkan kegemparan yang besar. Sang korban pun makin dicap buruk dan tetap dipaksa menikah oleh orang tuanya karena ia sudah dianggap seperti “sampah”. Mereka pikir menikah adalah jalan satu-satunya mengembalikan martabat keluarga.

Dibungkamnya kebebasan berpendapat

Sumber: Netflix

“Kami di sini tidak untuk memprovokasi. Kami di sini untuk didengar. Walau kalian berusaha membungkam suara kami, kami mempunyai pesan untuk kalian. Kebebasan berpendapat adalah hak asasi manusia.”

Keberanian Anne dalam menuangkan pendapatnya di koran sekolah tersebut membuatnya dipaksa mundur menjadi anggota penulis koran sekolah oleh Dewan Balai Kota. Mereka pun hanya diperbolehkan menulis topik tertentu. Menanggapi hal tersebut, Anne dan teman-teman sekelasnya mengadakan protes yang terorganisasi saat rapat Dewan Kota berlangsung, memberi tahu mereka bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak asasi manusia yang tidak seharusnya dibungkam. Ironisnya lagi, kejadian tersebut mengakibatkan sekolah mereka dibakar.

Kaum minoritas sering diperlakukan tidak adil

Sumber: wherever-i-look.com

Serial Anne with an E dibalut kisah tambahan yang cukup berbeda dengan versi novel, dengan menambahkan karakter orang kulit hitam, LGBTQ+ dan masyarakat suku asli Amerika Serikat yang sering diperlakukan tidak adil.

Baca juga: Konspirasi Wahyudi: 5 Rekomendasi Film Bertema Yahudi Ortodoks di Netflix

Hadirnya tokoh Bash, orang kulit hitam yang bertemu dengan Gilbert saat bekerja di kapal batu bara memberikan warna baru bagi kehidupan di Kota Kecil Avonlea. Trauma warga kulit hitam terhadap sejarah perbudakan mereka digambarkan secara realistis. Kaum kulit hitam menghadapi rasialisme dan diskriminasi, diberi label inferior, dan tinggal di daerah kumuh dan kotor yang jauh dari kaum kulit putih.

Teman sekelas Anne yang baru, Cole, digambarkan sebagai orang yang pendiam dan suka menyendiri. Kisah cinta Bibi Josephine dan teman perempuannya, Gertrude, dan sikap simpatik Anne membuat Cole memberanikan diri untuk lebih mencintai diri sendiri terlepas dari perbedaan yang ia alami.

Pada perkenalan season ketiga, karakter Ka’kwet muncul sebagai penduduk suku asli yang menetap di pinggiran Avonlea. Kehadiran mereka menimbulkan kekhawatiran penduduk setempat. Pemerintah segera menerbitkan undang-undang yang mengharuskan suku asli untuk dididik di sekolah yang jauh dari tempat yang mereka tinggali. Ka’kwet dan anak-anak suku Indian lainnya dididik secara brutal dan dilarang untuk keluar secara bebas. Sayangnya, meskipun Anne with an E’ membuka mata kita bahwa penganiayaan terhadap suku asli masih berlanjut hingga kini, mereka tidak memberikan akhir yang cerah pada nasib Ka’kwet dan kawan-kawannya.

Secara keseluruhan, Anne with an E merupakan salah satu serial yang paling menakjubkan yang pernah saya tonton. Isu-isu yang dibahas pun terasa sangat dekat dengan kita sekarang. Sayangnya, serial tersebut di-cancel dan tidak dilanjutkan, menyisakan cerita yang agak menggantung akibat rencana awal produser untuk menggelar serial sampai 4-5 season.

Ilustrasi dari IMDB.

Abidah Ardelia adalah calon mahasiswi yang suka mengirimkan tulisan-tulisan karyanya ke beberapa media daring. Tertarik pada isu-isu sosial dan politik. Hobi menonton film dan drama, menulis, serta mendengarkan musik.