September 20, 2018
Antara Saya dan Bunuh Diri

Depresi tidak akan pergi, tapi ia bisa dijadikan teman.

by Orrik Ormeari
Issues // Politics and Society
Suicide Thumbnail 3, Magdalene
Share:
Tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, dan tema peringatannya tahun ini adalah “Working together to prevent suicide”. Saya adalah penyintas depresi dan bunuh diri. Ketika saya menulis artikel The Depression Trap, saya sudah tahu diagnosis gangguan kejiwaan yang saya miliki. Tidak saya bayangkan beberapa bulan kemudian ide-ide bunuh diri itu mewujud menjadi langkah yang hampir saya jadikan nyata. Saya sudah menyiapkan bahan untuk mengakhiri hidup, beberapa barang sudah mulai saya berikan pada orang-orang agar saat saya benar-benar pergi saya tidak meninggalkan apa-apa lagi. Hanya surat wasiat saja yang belum saya tulis.

Saat itu ada beberapa teman yang mendampingi, namun saya tetap keukeuh dengan pikiran untuk mengakhiri hidup. Tidak ada jalan lain untuk mengakhiri rasa sakit selain pergi selama-lamanya. Tapi, Tuhan tampaknya berkehendak lain. Di saat tergelap saya, ia mengirimkan bantuan berupa teman yang mengintervensi kegelapan yang saya rasakan. Teman saya, yang sekaligus juga atasan di tempat saya bekerja, berkeras agar saya mencari bantuan dari profesional kesehatan, tepatnya psikiater. Entah karena apa saya juga menuruti sarannya dan berkonsultasi dengan psikiater.

Kini sudah hampir empat bulan saya menjalani terapi, pikiran untuk mengakhiri hidup kadang masih muncul sebagai jawaban atas pertanyaan yang tak mampu saya jawab sendiri. Depresi masih membayangi saya setiap hari, sampai kemampuan kognitif saya pun ikut turun sebagai imbas dari gangguan ini. Ini adalah tulisan pertama sejak beberapa bulan yang silam yang saya rasa cukup koheren untuk dibaca.

Dari apa yang saya alami, saya mendapat banyak pelajaran. Pertama, it’s okay not to be okay. Salah seorang teman yang mengajarkan ini berulang kali. Tidak apa-apa merasa sedih, merasa dunia ini hancur. Itu adalah emosi, perasaan, biarkan ia mengalir. Izinkan benak dan tubuhmu merasakan apa pun yang ingin dirasakan, dan izinkan dia beristirahat ketika dirasa perlu.

Kedua, depresi tidak akan pergi, tapi dia bisa kita jadikan teman. Dia adalah teman yang sulit untuk dimengerti tapi perlahan bisa kita dekati dan pahami. Dan saat bisa memahaminya, kita bisa beradaptasi dengan kehadirannya.




Ketiga, selalu bersikap welas asih terhadap sesama. Selalu ada nasihat untuk bertutur kata dan bersikap baik. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam pikiran dan hidup seseorang. Rangkulan dari teman-teman saya saat itu sangat membantu. Tidak adanya penghakiman dari mereka yang mendengarkan kisah saya membuat saya merasa diterima dan tidak ditinggalkan. Saya rasa itu juga yang membuat saya akhirnya tergerak untuk ke psikiater, karena mengetahui ada yang menyayangi dan tidak ingin saya pergi.

Saya masih berjuang berteman dengan depresi yang saya miliki. Saya masih berjuang untuk kembali prima, bisa menulis lagi dengan prima seperti dulu. Saya masih berjuang untuk tetap hidup.

Dalam tulisan ini saya ingin berterima kasih pada mereka penyintas bunuh diri yang tetap hidup sampai sekarang. Perjuangan kalian mungkin tak ada yang mengetahui, tapi sungguh menginspirasi untuk bisa bertahan satu hari lagi. Terima kasih juga pada para pendamping yang menyediakan bahu, telinga, dan kehadirannya bagi kami yang sedang berupaya ini. Penerimaan dari kalianlah yang menjadi sumber nyala bagi kami di tengah kegelapan.

Orrik Ormeari percaya ada banyak persepektif dalam sebuah isu, untuk itu ia mencoba selalu berpikiran terbuka (meski terkadang sulit dipraktikkan).