‘Broken Strings’: Kesaksian Aurelie Moeremans tentang ‘Grooming’, Pemerkosaan, dan Kekerasan Seksual
*Peringatan pemicu: Gambaran eksplisit kasus kekerasan seksual.
Buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya aktor Aurelie Moeremans jadi buah bibir di media sosial sejak awal tahun. Dalam buku ini, Aurelie membuka pengalaman pahit yang ia alami sejak usia 15 tahun, termasuk manipulasi emosional, grooming, pelecehan, hingga pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang laki-laki bernama Bobby.
Kesaksian tersebut tidak hanya merekam perjalanan kariernya di usia muda, tetapi juga menunjukkan bagaimana relasi berbasis kuasa dan manipulasi dapat berubah menjadi kekerasan. Aurelie menyebut Broken Strings sebagai “lonceng sunyi” bagi para penyintas yang selama ini takut berbicara. Dukungan publik pun mengalir sejak kesaksiannya dipublikasikan.
Baca Juga: Syahdan Husein, Aktivis Gejayan Memanggil yang Ditahan Polisi Mogok Makan
Buku ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris pada 2025 dan terdiri dari 24 bagian cerita. Ia juga membagikan versi PDF secara gratis melalui akun pribadinya. Meski begitu, minat terhadap versi cetak tetap tinggi dan diperkirakan meningkat hingga akhir Januari.
Magdalene merangkum bagian-bagian penting dari buku ini untuk memperlihatkan pola kekerasan yang dialaminya sejak remaja.
Aurelie pertama kali bertemu Bobby, yang saat itu berusia 29 tahun, dalam sebuah proyek iklan. Mereka berperan sebagai pasangan kekasih. Dalam bagian Kita Lihat, ia menggambarkan Bobby sebagai sosok yang magnetis dan dominan.
“Seluruh penampilannya tampak kasar dan abai, seperti ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak butuh polesan untuk menonjol,” tulisnya.
Bobby mulai membangun kedekatan lewat pesan, menunggunya pulang syuting, dan bersikap ramah kepada keluarganya. “Ia sering muncul di rumah kami dengan alasan kebetulan lewat, padahal rumahnya lebih dari satu jam dari sana,” tulis Aurelie. Perlahan, kedekatan itu mengikis kewaspadaannya.
Baca Juga: #KamiBersamaMeila: Negara Harus Berhenti Kriminalisasi Perempuan Pembela Korban
Setelah mereka berpacaran, Bobby mulai membatasi pergaulan Aurelie dan mengontrol komunikasinya. Kedekatan berubah menjadi pengawasan. Dalam hubungan tersebut, Bobby mendorong batas fisik dan seksual. Setiap penolakan dianggap berlebihan. “Aku cuma minta hal kecil, kenapa harus dibesar-besarkan,” tulis Aurelie mengutip Bobby.
Ketika mengatakan ingin menunggu hingga menikah, Bobby menertawakannya. Ia mengungkit semua hal yang pernah ia lakukan, seolah menjadi utang yang harus dibayar. “Ia membuatku percaya bahwa mencintainya adalah kewajiban,” tulis Aurelie.
Pada akhirnya, Aurelie menyerah bukan karena menginginkannya, tetapi karena tekanan dan rasa bersalah. Dalam satu bagian, ia menggambarkan bagaimana Bobby menarik gaunnya, menutup mulutnya, dan memaksanya. Ia membeku dan menangis. Bobby lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“‘Kamu nggak berdarah? Aneh,’ katanya,” tulisnya. Bobby kemudian mengatakan Aurelia akan menjadi istrinya, seolah itu membenarkan tindakannya. Ia menulis dadanya dipenuhi marah dan jijik, sementara Bobby mencoba menutupinya dengan kata cinta.
Baca Juga: Terobos Kerumunan Massa Aksi, Kendaraan Taktis Brimob Lindas Ojol
Setelah itu, kontrol makin ketat. Bobby mengancam akan pergi setiap kali Aurelie menolak. Ia menyimpan foto-foto telanjang yang kemudian digunakan sebagai alat ancaman. Aurelie mengalami gangguan makan dan menarik diri dari lingkungan sosial.
“Aku meninggalkan semuanya. Setiap rupiah yang kuhasilkan jatuh ke tangannya. Aku mulai dari nol,” tulisnya.
Ketika akhirnya ia menjauh, Bobby mengancam akan menghancurkan reputasinya jika ia berbicara. Ayah Aurelie justru mendorongnya untuk berkata jujur lebih dulu agar publik memahami konteks jika foto-foto itu disebarkan.
Dalam unggahan pribadinya, Aurelie Moeremans menulis, “Selama ini aku memilih diam. Tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas,” (9/1).
















