April, 18 2018
Apa yang Kita Bicarakan Saat Kita Bicara Soal Kondom?

Meskipun kondom tersedia bebas namun pandangan mengenai kondom masih penuh dengan prasangka yang terlampau negatif.

by Aksara Danar Mukti
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Ketika sedang melihat-lihat foto teman-teman lama di Facebook, saya melihat sosok teman satu SMP, sebut saja Mala, yang berhenti datang ke sekolah sejak kelas dua. Tidak ada satu pun dari kami yang tahu ke mana dan mengapa ia pergi. Kami pun tidak pernah bisa mengontak dirinya lagi. Namun, saya teringat dengan salah satu gosip mengenai Mala bahwa ia sudah melakukan hubungan seksual, dengan pelajar SMA pula.

Saya bergidik waktu itu, mengingat masih piyik-piyik begini sudah pernah “begituan.” Wali kelas dan guru tidak ada yang berbicara mengapa Mala tidak bersekolah lagi. Di antara teman, ada yang beranggapan bahwa Mala memang malas sekolah, ada pula yang bilang mungkin Mala kabur dengan pacarnya, sementara yang lain bercerita bahwa Mala sudah hamil sehingga harus dikawinkan.

Beranjak SMA, bagi saya masa pacaran adalah nonton bareng sambil gandengan tangan atau paling maksimal mendapat ciuman sepulang sekolah. Namun demikian, belakangan baru saya tahu bahwa beberapa teman saya sudah melakukan penetrasi seksual saat SMA. Ketika lulus, saya mendapat kabar bahwa teman saya di kelas sebelah, Jamila, sudah menyebarkan undangan pernikahan. Satu angkatan heboh kala itu, dan semakin ramai karena belum ada sembilan bulan menikah, Jamila sudah memiliki bayi. Ia mengunggah foto dirinya menggendong bayi di saat kami sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan perkuliahan. Beberapa mengucapkan selamat sambil bergunjing di belakang Jamila. Kawan-kawan laki-laki saya berkata sambil cengengesan, “Cowoknya kurang jago sih, makanya keluarin di luar” – pernyataan yang baru saya mengerti beberapa tahun kemudian.

Kondom ada di mana-mana, tapi kok susah diakses?

Kisah mengenai Mala dan Jamila kemudian menyadarkan saya bahwa masih banyak aktivitas seksual remaja dilakukan dengan tidak aman (unprotected sex). Cerita mereka membuat saya bertanya-tanya, mengapa Mala dan Jamila harus mengemban tanggung jawab memiliki anak di usia yang masih muda. Apakah melakukan kegiatan penetrasi dan mengeluarkan sperma di luar vagina mampu mencegah terjadinya kehamilan? Mengapa mereka tidak memakai kondom saja, yang terakhir saya lihat harganya masih cukup terjangkau, yakni sekitar Rp15.000 hingga Rp20 ribu satu kotak? Selain itu, dengan bungkus yang menonjol, kita dapat dengan mudah menemukan kondom terpajang di etalase toko swalayan. Mengapa sulit untuk menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi yang lebih aman ketimbang “keluar di luar”?

Setelah mengobrol dengan beberapa kawan, dan pengalaman saya membeli kondom sendiri, barulah saya tahu betapa malu dan takut untuk mengambil dan membayar kotak kecil itu ke kasir. Sering kali saya harus celingak-celinguk dulu untuk memastikan toko sepi, dan saya merasa ciut jika harus bertatapan dengan orang lain yang melihat saya membeli kondom. Hal itu membuat saya merasa dituduh sebagai perempuan yang nakal dan doyan ngeseks.

Ternyata kawan laki-laki dan pasangan saya juga merasakan hal yang sama setiap kali ingin membeli kondom. Beberapa kawan saya kemudian memilih membeli kondom secara daring dan minta diantarkan oleh kurir. Sepertinya ada perasaan segan ketika tangan ini meraih kotak biru lucu itu, seakan-akan di etalase toko terpampang tulisan “Ayo, lakukan seks aman tapi harus berani dihujat dan masuk koran atau artikel dengan judul ‘Kondom Dorong Orang Lakukan Seks Bebas”. Siap, enggak?”. Meskipun kondom tersedia bebas namun pandangan mengenai kondom masih penuh dengan prasangka yang terlampau negatif. Ibarat dengan membeli kondom, orang mampu menyimpulkan sifat atau tabiat pembelinya.

Kondom di seluruh dunia, musnahlah!

Beberapa artikel yang saya temukan masih melihat kondom sebagai alat yang mampu mendorong aktivitas seksual pra-nikah. Dengan membeli kondom, orang-orang mampu melakukan hubungan seks tanpa takut akan terjadi kehamilan. Hal ini akan meningkatkan aktivitas seks, terutama dengan darah muda yang menggelegak. Lalu haruskah kita membakar pabrik-pabrik kondom dan melarang penggunaannya? Apakah hal tersebut dijamin mampu menekan angka terjadinya seks bebas?

Saya sempat berpikir, mungkin bisa karena orang yang biasa menggunakan kondom akan berpikir lagi untuk melakukan aktivitas seksual. Akan tetapi, benarkan aktivitas seks “bebas” dapat menurun angkanya? Saya pikir hal tersebut justru membuat kegiatan seksual yang terjadi semakin berisiko, tidak cuma kehamilan tapi juga penyakit. Meskipun penggunaan kondom tidak mampu menjamin fungsi perlindungan dan keamanan secara 100 persen, penggunaan kondom mampu meminimalkan risiko-risiko tersebut.

Cerita Mala dan Jamila membuka mata saya bahwa seks tanpa pelindung tidak hanya menyebabkan kehamilan, tetapi juga menghalangi mereka untuk melanjutkan studi. Baik laki-laki atau perempuan, mereka akan terpaksa menikah dan meninggalkan sekolahnya, kemudian harus mencari pekerjaan dengan latar pendidikan yang rendah dan bayaran yang minim pula, jika bukan dari keluarga kaya. Selain itu ada risiko bagi perempuan yang hamil sebelum menikah harus mendapatkan pandangan dan cibiran. Lebih parah lagi jika pasangannya tidak mau bertanggung jawab sehingga perempuan tersebut harus membesarkan anaknya sendirian.

Inilah pentingnya pendidikan seks, tidak hanya untuk remaja, tetapi juga untuk semua orang. Informasi mengenai penggunaan kontrasepsi, tidak hanya untuk mereka yang “sedang panas-panasnya menyelami dunia percintaan” tetapi juga untuk para pembeli lain yang hanya sekadar jajan di toko swalayan.

Aksara Danar Mukti adalah seorang pembelajar di Antropologi UI. Senang dengan obrolan lantur dan binal serta gemar membuat puisi.