July 30, 2019
Apakah Kelompok LGBT Memang ‘Ngelunjak’?

Penolakan dari masyarakat terhadap LGBT membuat banyak orang dari kelompok ini yang kebingungan dan “tersesat”.

by Budi Winawan
Issues // Politics and Society
Share:

Akhir Juni lalu, jagat Twitter dihebohkan oleh twit seorang warganet tentang sekelompok LGBT (terutama gay) di lingkaran pertemanannya yang, menurut dia, bebas melakukan catcalling, memegang tubuh orang lain, dan sering menceritakan pengalaman seksual mereka dengan vulgar.

Warganet tersebut, melalui utas panjangnya, bercerita betapa dia merasa sangat terusik, namun enggan mengungkapkan secara langsung karena takut akan (atau malah pernah) dibilang homofobik, padahal dia menyatakan dirinya seorang heteroseksual yang pro-LGBT. Istilah homofobik, masih menurut dia, seolah jadi "kartu sakti" yang bisa membuat LGBT kebal dari tudingan pelaku pelecehan seksual. Dia kemudian beranggapan LGBT itu "ngelunjak". Hari itu, selama beberapa jam, LGBT sempat menduduki peringkat trending topic ke-6 untuk wilayah Indonesia di Twitter.

Banyak warganet yang membenarkan twit tersebut, namun tidak sedikit juga, terutama para ally atau sekutu LGBT, yang berang dan melawan, sampai membuat twit parodi (favorit saya adalah yang mengganti LGBT dan hetero dengan muggle dan penyihir ala Harry Potter).

Baca juga: Hak Istimewa Heteroseksual yang Mungkin Kita Anggap Sepele

Argumen perlawanan yang paling masuk akal adalah ketika konteksnya dibalik, di mana kelompok hetero yang diposisikan sebagai kelompok yang "ngelunjak". Karena memang benar adanya, bahwa kelompok hetero (terutama laki-laki) sering melakukan catcalling, menyentuh bagian tubuh orang lain tanpa persetujuan, menceritakan secara vulgar dan detail pengalaman seksual mereka, dll. Namun ini bukan tentang siapa yang melakukan dan seberapa sering, iniadalah soal bagaimana pelecehan seksual bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kelompok homoseksual maupun heteroseksual. Bahwa perilaku seksual itu berdiri terpisah dari orientasi seksual, bukannya satu paket.

Tentu saja benar bahwa beberapa orang yang memiliki identitas LGBT juga ada yang pernah menjadi pelaku pelecehan seksual, bicara vulgar, bahkan sengaja mengincar heteroseksual sebagai "target", dll. Menurut saya pribadi, kita bahkan tidak harus selalu membawa narasi "orang-orang heteroseksual juga melakukannya" ketika membicarakan hal tersebut. LGBT jelaslah tidak bisa lepas dari kesalahan dan kritik. Namun jelas pula bahwa menganggap istilah homofobik sebagai "kartu spesial" adalah sangat salah. Apalagi ketika melabeli diri sebagai pro-LGBT namun masih menggunakan narasi, "Gue pro-LGBT, kok, tapi…" Hampir semua kalimat yang tertulis atau terucap setelahnya justru menyatakan yang sebaliknya. Bahwa si pro-LGBT ini adalah ternyata seorang homofobik. Yang makin jelas lagi terlihat ketika orang ini berkicau bahwa dirinya risi melihat sepasang gay berpegangan tangan di depannya.

Privilese heteroseksual

Membahas perilaku seksual dengan menyebutkan orientasi seksual dan identitas gendernya memang agak rumit. Sering kali kita justru akan mengamini stereotip tertentu dan pembahasan menjadi salah arah. Alih-alih berfokus pada perilaku, orang jadi berfokus pada orientasi seksual. Apalagi ketika orientasi seksual dan identitas gender yang dibahas adalah LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, queer), yang secara baku sudah dipandang salah oleh masyarakat umum. Apalagi ketika yang dibahas hanya sebatas apa yang dilakukan, bukan dengan membahas secara mendalam mengapa mereka melakukan hal tersebut, apa solusinya supaya mereka bisa berhenti, dan apa peran yang bisa kita mainkan. Semakin bisa terasa salah lagi jika yang membahasnya adalah seorang cis-hetero, yang memiliki privilese jauh lebih banyak dan besar dari teman-teman LGBTQ.

Pelecehan seksual bisa dilakukan oleh siapa saja, baik kelompok homoseksual maupun heteroseksual. Namun perilaku seksual itu berdiri terpisah dari orientasi seksual, bukannya satu paket.

Privilese besar yang dimiliki oleh orang-orang cis-hetero (heteroseksual yang identitas gendernya sesuai dengan jenis kelamin yang dia miliki sejak lahir) adalah bahwa mereka bebas berekspresi, tidak perlu melela (coming out), dan mendapat penerimaan dari masyarakat tanpa perlu berusaha. Hal-hal ini tidak dimiliki oleh kelompok LGBTQ. Ini membuat banyak di antara kami yang bingung bagaimana mengekspresikan atau menyalurkan seksualitas kami atau bahkan hanya sekadar hidup sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang besar.

Saya mungkin tidak mengalami kebingungan itu karena saya memiliki privilese hidup di Jakarta, terbuka sebagai seorang gay (dan tetap aman), serta memiliki akses yang mudah untuk mendapatkan pengetahuan soal gender dan seksualitas. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung saya? Mereka mungkin hanya bisa bersembunyi di balik "akun alter" mereka di dunia maya, atau melakukan eksplorasi di dunia pornografi yang gelap dan jauh dari kenyataan, bahkan melanggar hukum. Beberapa mungkin akan memiliki lingkaran pertemanan sesama LGBT, yang lainnya mungkin akan memiliki teman heteroseksual yang menerima mereka, tapi kita tetap tidak bisa berharap bahwa lingkaran tersebut sehat. Lingkaran-lingkaran tersebut bisa jadi terdiri dari orang-orang yang juga memiliki pengetahuan seks dan gender yang minim.

Banyak orang-orang LGBT yang tidak tahu bagaimana "aturan dan batasan" dalam berkencan, berhubungan seksual, bahkan sekadar menggoda orang lain. Saya pernah berpikir, bagaimana kalau dengan meniru orang-orang heteroseksual? Oh, sayangnya sama sekali tidak bisa sesederhana itu. Orang-orang heteroseksual seolah punya panduan tentang bagaimana laki-laki dan perempuan sebaiknya bersikap, dari sejak tahap menjadi diri sendiri, berkenalan, berteman, menggoda, berpacaran, berhubungan seksual, bahkan berumah tangga.

Meski kerap merugikan dan banyak sisi negatif dalam peran gender tersebut, nyatanya tetap banyak orang heteroseksual yang baik-baik saja menjalani aturan-aturan tidak tertulis namun beredar di masyarakat tersebut. Tapi bagaimana dengan pasangan laki-laki gay, perempuan lesbian, transgender, biseksual dan orang-orang dengan identitas seksual dan gender lainnya? Jangankan membuat "aturan main" sendiri dalam berkencan, menjadi diri sendiri yang ngondek atau tomboi sedikit saja sudah menjadi bahan gosip, bahan perundungan, bahkan bahan untuk dijadikan alasan pemecatan dari tempat bekerja.

Baca juga: Pelecehan Seksual Dianggap Normal, Kecuali Dilakukan Pria Gay

Mencari pengetahuan di mana?

LGBT adalah kelompok minoritas yang dikelilingi oleh mayoritas yang menolak bahkan membenci kami, atau mengaku menerima tapi ternyata homofobik juga. Jangankan mengusahakan penerimaan, mencari tahu soal diri sendiri saja sulit. Jangankan mencari buku tentang gender dan seksualitas, penulis LGBT di Indonesia saja masih minim karena takut mengungkap identitasnya. Ingin lewat film, tapi bahkan film karya anak bangsa sendiri saja bisa dicekal kalau mengandung unsur LGBT. Apalagi film produksi luar negeri, tidak bakal dapat tempat di bioskop besar. Ingin lewat diskusi, tapi banyak diskusi yang dibubarkan.

Ingin, mungkin, mencontoh teman-teman sesama LGBT yang lebih memiliki pengetahuan atau memiliki pasangan, tapi mau tahu dari mana? Siapa orang yang begitu? Pegang tangan pacar sendiri saja masih membuat orang lain (terutama hetero) risi. Pacaran di kamar yang privat dan kedap suara saja bahkan membuat tetangga (terutama hetero) tidak nyaman (saya pernah menemukan twit seperti ini di Twitter). Beberapa orang malah digerebek di kamar kost. Mencari pacar bahkan teman saja sulit karena kami seolah diharuskan berasumsi bahwa semua orang itu heteroseksual.

Banyak di antara orang-orang LGBTQ yang bingung bagaimana mengekspresikan atau menyalurkan seksualitas kami atau bahkan hanya sekadar hidup sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang besar.

Beberapa di antara kami kemudian melihat sumber yang jauh: internet. Mungkin bukan lewat pornografi, tapi lewat kehidupan LGBT di negara lain dengan kondisi berbeda yang, mungkin masih belum ideal, tapi jauh lebih kondusif untuk LGBT ketimbang Indonesia. Lewat hidup mereka-lah, yang kalaupun belum mendapatkan hak yang layak, setidaknya bisa menyuarakannya secara terbuka. Beberapa orang LGBT di Indonesia kemudian memiliki semangat yang salah tempat. Ide tentang homofobia dan kesetaraan juga kemudian jadi ditempatkan dalam konteks yang salah.

Maka twit warganet di awal tulisan ini, tentang sekelompok LGBT yang menyalahgunakan ide tentang homofobia, meskipun problematik, mengandung sedikit kebenaran di dalamnya. Sayangnya narasi yang dia buat membuat hal ini adalah salah individu-individu LGBT dalam lingkaran pertemanannya. Banyak orang yang jadi semakin membenci LGBT secara umum. Padahal apa yang dilakukan oleh sebagian dari kami adalah akibat dari masyarakat yang tidak menerima kami, meski klaim dari mereka adalah mereka menerima.

Kalau saja masyarakat mau menerima LGBT; membiarkan kami nongkrong bersama, membiarkan kami pacaran di ruang privat; menggandeng pacar kami sendiri (setidaknya bukan pacar apalagi suami/istri orang lain); memeluk sahabat terkasih; cium pipi kanan-kiri teman-teman kami; memperbolehkan kami sok akrab menyapa "hai" tanpa mengharuskan kami berasumsi bahwa semua orang itu hetero (kalau iya, kan tinggal tolak halus saja); kalau saja dunia yang kami tinggali sekondusif itu, mungkin banyak di antara kami yang tidak akan kebingungan dan "tersesat". Saya yakin kami jadi bisa dengan mudah mengakses pengetahuan tentang seksualitas dan gender kami lewat buku dan film, setidaknya semudah orang-orang heteroseksual.

Utas twit tentang LGBT "ngelunjak" itu kini sudah dihapus. Meski sempat sangat terganggu, di sisi lain saya juga sejujurnya bersyukur twit tersebut pernah ada, karena setidaknya banyak orang membicarakan ini. Banyak orang yang memang betul-betul pro-LGBT bermunculan, banyak teman LGBT yang bersuara, banyak sekutu LGBT yang berinteraksi, dari mulai sekadar saling retweet, memberi likes, saling follow, sampai bertegur sapa dan berkenalan.

Saya sadar betul bahwa, sebagai minoritas, LGBT bukanlah kelompok yang tidak mungkin berbuat salah. Kultur LGBT di level tertentu bahkan masih toksik. Namun untuk membahasnya, kita harus hati-hati. Periksa lagi privilese kita, sadari siapa kita, apakah kita siap untuk berdiskusi, siapkah kita untuk mengakui kesalahan logika berpikir kita, atau apakah kita akan selalu defensif? Sejauh mana kita akan membahas permasalahan ini? Siapkah kita untuk tidak hanya menyentuh permukaan masalah, tapi juga menyelaminya lebih dalam?

Budi Winawan adalah seorang pembaca puisi di podcast Secangkir Puisi Sebait Kopi di Spotify. Versi tertulisnya biasa ia bagikan di akun Instagram dan Twitternya (@budskiy).