July 19, 2019
Pelecehan Seksual Dianggap Normal, Kecuali Dilakukan oleh Pria Gay

Banyak laki-laki homofobia jijik dengan pelecehan seksual yang dilakukan laki-laki gay, tetapi apakah mereka merasakan hal yang sama tentang pelecehan terhadap perempuan?

by Alice Virgo
Issues // Politics and Society
Harassment Office Thumbnail, Magdalene
Share:

Suatu sore, sepupu saya melontarkan sebuah komentar ketika ia melihat seorang selebriti di TV, “Suamiku benar-benar merasa jijik sama laki-laki seperti itu. Laki-laki banci. Dia takut mereka akan ngegodain.”

Komentar itu muncul tiba-tiba, di saat kita sama sekali tidak sedang membicarakan orang-orang gay. Selain itu, tidak ada bukti bahwa selebriti yang dia maksud adalah seorang gay. Dia tidak terlihat sangat feminin – meskipun saya tidak percaya bahwa semua laki-laki gay beperilaku feminin. Saya juga tidak percaya bahwa semua laki-laki gay akan menggoda laki-laki heteroseksual. Komentarnya mengingatkan saya pada perkataan bos saya soal goda menggoda ini, “Kamu pikir kamu sebegitu menariknya?”)

Saya tidak dapat melupakan apa yang sepupu saya katakan sejak saat itu. Saya mengenal suaminya dengan baik, dan selalu berpikir selama ini bahwa dia adalah seorang pria yang baik, meski terkadang suka tidak bisa mengontrol mulutnya (sama seperti istrinya).

Komentarnya telah menyadarkan saya betapa ironisnya pernyataan tersebut. Laki-laki heteroseksual percaya bahwa laki-laki gay itu “menjijikkan” karena menganggap mereka akan dilecehkan oleh laki-laki gay. Namun tidak pernah terlintas di benak mereka bahwa pelecehan seksual yang terus-menerus dilakukan laki-laki heteroseksual terhadap perempuan adalah sesuatu yang salah.

Sejujurnya, saya tidak pernah mengaitkan kedua masalah tersebut jika bukan karena mendengar seorang kenalan laki-laki mengatakan, “Saya enggak anti gay, tapi saya trauma karena waktu ke gym, pelatih saya pegang-pegang saya dan mau menggoda saya. Jadi saya punya pengalaman buruk dengan laki-laki gay.”

Baca juga: 3 dari 5 perempuan di Indonesia mengalami pelecehan seksual di ruang publik.

Saat itu saya berpikir, “Hanya karena satu kali kejadian sekarang kamu menggeneralisasi semua pria gay?” Tetapi kemudian saya merasa kebingungan. Mengapa saya tidak menganggap pengalaman teman saya dengan serius?

Saya mulai menceritakan pengalaman saya dan kisah-kisah perempuan lain di sekitar saya. Ketika saya masih kelas tiga SD, saat digandeng oleh ibu saya masuk ke restoran, dua laki-laki dewasa yang bekerja di restoran itu menantang satu sama lain untuk dapat mendekati saya. Ketika ibu saya membaca menu, mereka dengan cepat mencium pipi saya.

Sekolah dasar merupakan masa ketika anak laki-laki menarik wajah anak perempuan untuk kemudian mencium bibir mereka secara paksa, bahkan ketika si anak perempuan melawan, meski tanpa hasil. Saat saya duduk di bangku kelas 2 SMP, beberapa anak laki-laki di kelas saya bersaing untuk dapat memegang bokong anak-anak perempuan ketika kami berpapasan dengan satu sama lain di lorong sekolah. Beberapa bahkan mulai memegang payudara anak-anak perempuan secara terang-terangan.

Masih ketika saya SMP, seorang teman perempuan mengatakan kepada saya bahwa ketika ia sedang menunggu pesanannya, seorang penjual makanan membuka ritsleting celananya dan menunjukkan penisnya. Ketika saya kemudian menceritakan hal ini kepada ibu saya, ia sama sekali tidak terkejut, dan bahkan mulai menceritakan bahwa ia pernah mengalami hal serupa ketika dia masih kuliah dulu. Bedanya, pelakunnya adalah sopir bajaj.

Mengapa pelecehan seksual dianggap salah hanya ketika korbannya adalah laki-laki heteroseksual dan pelakunya adalah laki-laki gay, tetapi dianggap normal ketika korbannya adalah perempuan dan laki-laki heteroseksual?

Waktu SMA, anak laki-laki dapat secara terang-terangan meletakkan tangan mereka di atas lutut anak perempuan untuk meraba paha mereka, kadang hingga selangkangan. Suatu hari ketika saya sedang berenang di pantai, seorang pria yang jauh lebih tua mulai mengikuti saya. Pada saat itu saya mengenakan baju renang one-piece dan bukannya kaos. Baru-baru ini, seorang teman perempuan saya memberitahu saya bahwa ketika ia masih kecil, teman ayahnya pernah melakukan kekerasan seksual padanya hingga membuat vaginanya berdarah.

Tanggapan yang sering kali diberikan oleh orang dewasa dan otoritas sekolah adalah bahwa hal itu merupakan perilaku yang biasa datang dari anak laki-laki. Tetapi insiden-insiden semacamnya tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah saja dan itu pasti tidak hanya disebabkan oleh ketidakdewasaan anak laki-laki.

Penyanyi dan aktivis hak gender Kartika Jahja menulis sebuah artikel di Magdalene tentang seorang korban pemerkosaan yang ditanya soal warna beha yang ia pakai, cara ia berpakaian, dan agama yang ia anut oleh sang hakim dan pengacara di pengadilan.

Dalam sebuah artikel, jurnalis Hans David berpendapat bahwa kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh beberapa aktivis laki-laki Indonesia yang terkenal telah lama disembunyikan oleh jurnalis, media, dan bahkan tokoh feminis lain yang banyak dikenal.

Baca juga: 93 persen perempuan korban pemerkosaan di Indonesia tidak melaporkan kasusnya.

Dua artikel tersebut hanyalah sebagian kecil dari sejumlah besar cerita tentang kekerasan seksual dan pemerkosaan; kasus-kasus seperti yang dilakukan oleh seorang guru mengaji kepada murid-murid perempuannya, oleh ayah tiri atau ayah kandung terhadap putri-putrinya, dan oleh seorang kakek terhadap cucunya.

Dengan begitu besarnya normalisasi pelecehan seksual terhadap perempuan membuat beberapa insiden ini tidak lagi dipertanyakan. Sebaliknya, banyak korban perempuan kemudian dipertanyakan mengapa mereka “tidak mampu” melindungi diri mereka sendiri. Teman perempuan saya yang sebelumnya telah saya sebutkan bahkan dituduh telah menggoda teman ayahnya itu oleh ibunya sendiri – padahal kala itu ia berusia 10 tahun!

Akibatnya, sudah biasa bagi perempuan untuk menormalkan pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki. Saya juga meremehkan pengalaman teman lelaki saya dengan seorang lelaki gay itu, karena saya terlalu biasa menerima pelecehan seksual sebagai kejadian yang kita alami sehari-hari. Jika laki-laki heteroseksual dapat mengatakan, “Saya muak dengan laki-laki gay, karena mereka melecehkan laki-laki (heteroseksual),” bisa kan saya juga mengatakan bahwa saya muak dengan laki-laki heteroseksual?

Bukan berarti saya berharap bahwa laki-laki heteroseksual juga mengalami pelecehan seksual. Saya juga tidak berniat untuk meremehkan insiden pelecehan seksual terhadap laki-laki. Tentunya tidak ada orang yang mau menjadi korban pelecehan seksual. Namun, mungkin kita perlu mulai bertanya: mengapa pelecehan seksual dianggap salah hanya ketika korbannya adalah laki-laki heteroseksual dan pelakunya adalah laki-laki gay, tetapi dianggap normal ketika korbannya adalah perempuan dan korbannya adalah laki-laki heteroseksual?

Artikel ini diterjemahkan oleh Sheila Lalita dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.