January 30, 2020
Bebas di Media Sosial Meski Dipantau Keluarga, Mungkinkah?

Unggahan-unggahan di media sosial bisa mendatangkan problem ketika kita terhubung dengan anggota keluarga yang berbeda cara pandang.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Digital Courtship Thumbnail, Magdalene
Share:

Farah Al-Kaff tidak segan mengekspresikan seksualitasnya dengan bebas dalam akun Instagram @laviaminora, yang menampilkan banyak gambar erotis, disertai teks berupa cerpen dan satir. Bagi perempuan muda asal Yogyakarta itu, Instagram merupakan wadah ekspresi diri sekaligus gagasan-gagasan terkait gender dan feminisme.

“Selama ini, cewek-cewek sering dapat pandangan miring kalau berbicara soal seks. Dari situ aku berangkat ngangkat wacana ini, caranya dengan mengunggah gambar-gambar erotis,” ujar Farah kepada Magdalene.

Membicarakan seks dari sudut pandang perempuan adalah bagian dari aktivisme dan juga kebutuhan Farah. Dengan menyertakan fiksi singkat atau satir, ia berharap audiensnya di Instagram bisa mencerna sesuatu lebih dari sekadar gambar erotis. Dalam beberapa unggahannya yang bertagar #eroticart, perempuan yang tinggal di Yogyakarta ini membicarakan isu pendidikan seks, consent, dan kepuasan seks perempuan.

Namun konten-konten semacam ini mengundang reaksi negatif dari keluarganya. Beberapa sepupunya melaporkan aktivitas Farah di media sosial tersebut pada orang tuanya.

“Awalnya (para sepupu) masih pakai cara menyindir. Lalu mereka ngomong ke Ibu, ‘Anakmu kalau main sosmed itu harus diawasi’,” kata Farah, 27, yang bekerja sebagai peneliti dan pengajar bahasa.

Dalam sebuah pertemuan keluarga, seorang paman bahkan menegurnya terang-terangan. Tidak hanya mengomentari bahwa gambar-gambarnya “aneh-aneh”, tapi Farah juga diminta menghapus nama keluarga yang tercantum di bio Instagramnya. Sang paman merasa malu memiliki keponakan yang suka mengunggah gambar-gambar erotis di media sosial.

Baca juga: ‘Call-Out Culture’ di Media Sosial: Berfaedah atau Bikin Lelah?

Ciptakan batasan, silaturahmi tetap jalan

Apa yang dihadapi Farah dialami juga oleh banyak dari kita, yang sering menjadi ragu untuk menyetujui ajakan berteman di media sosial dari anggota keluarga. Jika diiyakan, kita jadi kurang bebas mengungkapkan isi hati dan kepala, bahkan bisa sampai dihujat kalau kontennya dianggap bertentangan dengan norma-norma. Tapi kalau ditolak, nanti dibilang sombong atau tidak mau menjalin silaturahmi.

Ada beberapa cara yang dilakukan oleh warganet yang berbeda. “Rendi”, 36, mengatakan ia memutuskan tetap berteman dengan banyak anggota keluarganya di media sosial namun mengerem konten-konten yang diunggah.

“Kalau gue upload konten tertentu, gue paling males nanggepin komen-komennya. Suka ada yang ngorek-ngorek dan nanya ‘Ceweknya siapa?’, ‘Kapan nikah?’, all those personal questions,” kata laki-laki yang berdomisili di Depok ini.

Ia menambahkan bahwa pada beberapa konten, fitur komentarnya ia nonaktifkan. Contohnya pada konten yang menampilkan foto dirinya dengan partner laki-lakinya.  

Selain strategi mengerem konten dan mengatur fitur komentar, ada juga yang memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia seperti menyembunyikan konten dari orang-orang tertentu, mengaktifkan “close friends”, atau menggunakan filter dan tombol “mute”.

Baca juga: 5 Akun Instagram Bermanfaat Soal Kesehatan Mental

Hal ini dilakukan oleh Alvin Steviro. Di Facebook, ia sering membicarakan soal ateisme dan hal ini ia sembunyikan dari keluarga yang terkoneksi dengannya di media sosial tersebut. Di kehidupan nyata, laki-laki yang akrab disapa Steve ini mengatakan sempat dikonfrontasi sehubungan dengan pilihannya untuk tidak meyakini agama dan Tuhan. Inilah yang mendasarinya membatasi akses keluarganya terhadap ekspresi kepercayaannya tersebut. Di samping itu, Steve juga menggunakan media sosial lain seperti Twitter untuk mengekspresikan dirinya.

“Di sana (Twitter) benar-benar enggak ada keluarga gue. Jadi, walaupun gue pasang setting-an publik, gue merasa Twitter tetep aman buat gue ngomongin soal itu (ateisme dan nonreligius),” ujar laki-laki 24 tahun ini.

Jika Steve memilih Twitter sebagai ruang amannya mengekspresikan gagasan ateisme, Rendi dulu memilih Path untuk mengekspresikan orientasi seksualnya. Sebagaimana pengalaman Steve, di Path pun tidak ada anggota keluarga Rendi yang terhubung dengannya. Pemisahan ruang berekspresi yang Rendi lakukan ini bertujuan untuk menghindari konfrontasi keluarganya ataupun mendapati komentar-komentar mengganggu.

Pilihan ekstrem yang dapat seseorang lakukan saat menghadapi tanggapan mengganggu dari keluarga sehubungan konten media sosialnya adalah dengan mengeblok mereka. Farah mengambil pilihan ini, tetapi tetap menyisakan beberapa orang saudara yang mengikuti akun Instagramnya.

“Sampai sekarang, masih ada sih, saudara dari Ibu yang masih follow, tapi aku hide story dari mereka karena malas dikomentarin macem-macem. Jadi mereka enggak tau aktivitasku di Instagram gimana. Entah ya, kalau mereka ngepoin aku pake akun bodong,” ujarnya.

Baca juga: Istri Lempar Kode di Status Media Sosial: Ciri Hubungan Tak Setara

Kalaupun masih ada anggota keluarga yang masih tidak senang melihat isi akunnya, Farah bersikap cuek. Lama kelamaan, mereka berhenti mengomentarinya karena tahu Farah tidak akan mengubah pendiriannya dan menghiraukan omongan mereka.

Di kehidupan nyata, perbedaan nilai yang dipegang Farah dan yang dipercaya keluarganya ternyata tidak membuat relasi mereka serta merta rusak. Dalam pertemuan sehari-hari, ia tetap mengobrol dengan sepupu-sepupunya seperti biasa, seolah tidak ada isu kontroversial apa pun.

“Soal Instagramku, salah satu sepupu yang di Surabaya pernah bilang kalau beberapa temannya follow akunku karena suka dengan konten-konten yang aku unggah. Entah yang dia bilang benar atau enggak, aku cuma membalas, ‘salam ya, buat temen kamu’. Aku nggak mau terlalu jauh membahas soal kontenku sendiri sama sepupuku itu,” ujarnya.

Pilihan untuk tidak membahas konten dengan sepupunya Farah ambil karena ia tahu, anggota keluarga dari pihak ibunya kebanyakan berpemikiran konservatif.

“Membahas soal hal tidak normatif dalam media sosialnya hanya akan memperkeruh suasana dan hal itu yang mau saya hindari,” ujarnya.

“Saya lebih memilih terbuka soal konten media sosialnya kepada kerabat yang open minded saja. Misalnya, kepada salah satu sepupu yang tinggal di Belanda atau pada seorang tante saya.”

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop