October 15, 2019
‘Bebas’ vs ‘Pretty Boys’: Pilihan untuk Tidak Mempromosikan Kebencian

Pembuat film memiliki hak istimewa untuk memilih menceritakan realitas tanpa memperburuk stigma dan mempromosikan kebencian kepada kelompok tertentu.

by Marsha Habib
Culture // Screen Raves
Persecution_Minority_Perisakan_SarahArifin
Share:

Beberapa hari setelah film Pretty Boys mulai ditayangkan di bioskop, saya langsung menonton tanpa sebelumnya membaca ulasan atau melihat komentar orang-orang. Saya tidak berharap terlalu banyak, hanya ingin tertawa-tawa dan menikmati chemistry Desta dan Vincent, yang memainkan dua karakter utama, seperti saat mereka masih siaran bersama dulu di radio.

Sayangnya, ekspektasi minimal saya saja tidak terpenuhi. Sejak adegan awal, saat Anugrah dan Rahmat masuk ke studio TV untuk menjadi penonton bayaran, saya mulai mual. Bukan, bukan karena kebanyakan makan popcorn. Saat itu, saya belum bisa benar-benar menjelaskan kenapa saya enggak nyaman, selain bahwa film itu terkesan menguatkan stereotip negatif terhadap teman-teman transgender.

Lalu saya membaca beberapa kritik terhadap film itu. Banyak yang marah dan mengatakan bahwa Pretty Boys itu cerminan maskulinitas rapuh, tidak sensitif pada tantangan hidup yang dialami transgender, dan menguatkan stigma terhadap kelompok minoritas seksual.

Saya sepakat dengan beberapa kritik tersebut. Tapi saya masih belum bisa menjelaskan ganjalan dan sumber kemualan saya (lagi-lagi bukan popcorn). Sampai akhirnya saya menonton film Bebas, baru saya menemukan jawabannya.

Menurut saya, Pretty Boys, secara sadar atau tidak sadar, sedang mempromosikan kebencian terhadap kelompok dengan ekspresi seksual yang berbeda, atau di film tersebut, kelompok transgender. Setidaknya, mereka ikut melanggengkan stigma negatif atas mereka.

Ketika Pretty Boys menunjukkan bahwa seorang laki-laki heteroseksual harus berpura-pura menjadi transgender dan betapa sulitnya proses itu, film itu sedang mempromosikan pesan, “Kasihan banget ya, orang sampai harus pura-pura jadi transgender biar dapet kerjaan”, dan mengabaikan fakta bahwa banyak orang transgender yang sulit mendapatkan pekerjaan atau dimatikan penghidupannya karena gendernya.

Ketika ada dialog seperti “Ini (bertanya ke transgender) menular enggak?” atau seorang transgender berkata kepada laki-laki cis-heteroseksual bahwa ia orang yang baik dan bisa hidup lebih baik dari transgender, berarti Anda sedang bilang bahwa transgender itu penyakit atau pilihan hidup yang menyedihkan.

Berbeda dengan film Bebas, yang menampilkan karakter dengan ekspresi seksual yang berbeda dari yang normatif. 

Baca juga: Protes Atas Film ‘Pretty Boys’ Terlalu Sensitif?

Ada Jojo, anak SMA yang senang bergaul dengan teman-teman perempuannya, dan kerap diledek “banci” atau “cowok kok main sama perempuan”. Saat Jojo dewasa, diperlihatkan bagaimana ia masih kesulitan menjadi diri sendiri dan masih merasa wajib memenuhi ekspektasi orang tua tentang peran apa yang harus diambil laki-laki (punya istri, punya anak, tidak bekerja sebagai koreografer).

Berbeda dengan Pretty Boys, Bebas berhasil menunjukkan bahwa selalu ada cara untuk menerima dan menghargai perbedaan. Bahwa teman-teman dengan ekspresi seksual berbeda juga punya hak yang sama untuk dihormati, tanpa harus menutupi tantangan hidup yang dihadapi. 

Selain itu, yang juga saya hargai dari Bebas adalah, film tersebut juga tidak memaksa memberikan “solusi” untuk tantangan hidup yang dihadapi Jojo. Di bagian akhir film, pesan yang disampaikan untuk Jojo adalah, “Semoga menemukan cinta sejati.”

Cinta sejati mungkin terdengar klise, tapi sangat penting untuk Jojo (dan kita semua tanpa terkecuali). Cinta terhadap diri sendiri, terhadap segala keberuntungan dan kerja keras yang telah dilakukan, dan untuk menguatkan diri menghadapi segala tantangan (termasuk kebencian) yang ada.

Saya percaya bahwa ada pilihan-pilihan kecil dalam hidup yang bisa kita ambil. Semakin besar hak istimewa atau privilese kita, semakin besar dan banyak pilihan yang bisa diambil. Termasuk untuk para pembuat film, yang memiliki hak istimewa untuk memilih menceritakan realitas tanpa memperburuk stigma dan mempromosikan kebencian kepada kelompok tertentu. 

Mungkin benar kata Tompi, sang sutradara Pretty Boys, bahwa kita kurang sering main ke stasiun TV, karena itulah realitas di dunia pertelevisian. Lalu pertanyaannya, kalau benar memang itu realitas, apakah Pretty Boys membuat keputusan yang tepat dengan menceritakan realitas secara mentah-mentah? Tanpa berpikir apa dampaknya bagi teman-teman transgender yang selama ini banyak menjadi korban kebencian dan diskriminasi?

Realitas tidak pernah tanpa nuansa. Realitas yang kita pilih untuk ceritakan adalah hasil penafsiran kita sendiri dan, yang terpenting, akan ditafsirkan oleh penonton atau pemirsa kita.

Terima kasih banyak, Bebas. Selain sudah memberikan ruang aman untuk nostalgia dan menghormati pilihan-pilihan hidup kita, film ini juga sudah memberi contoh yang sangat baik bahwa selalu ada pilihan untuk mempromosikan kebaikan tanpa harus menutupi perbedaan. Karena menurut saya, yang terpenting adalah bagaimana di balik segala perbedaan dan nilai moral yang ada, kita terus ingat bahwa kita semua punya hak yang sama untuk hidup dan dihormati.

Selain menjadi budak setia untuk kucingnya, Marsha Habib bekerja sebagai manajer komunikasi dan relasi di PUSKAPA, lembaga yang bekerja untuk menciptakan solusi inklusif agar anak dan kelompok rentan punya kesempatan hidup yang sama. Ia juga senang menulis fiksi, dan salah satu cerita pendeknya telah diterbitkan di dalam proyek menulis Ayu Utami. Marsha bisa dihubungi lewat akun Twitter-nya @marshahabib.