April, 10 2019
Kisah Berakhirnya Hubungan Saya dengan Sahabat yang Bercadar

Saya dan sahabat yang kini bercadar sesungguhnya sedang berusaha saling menyelamatkan menurut keyakinan Islam versi masing-masing.

by Poppy Trisnayanti Puspitasari
Issues // Politics and Society
Share:

Di tahun kedua kuliah, enam tahun lalu, lini masa Facebook saya dihebohkan oleh catatan dari seorang sahabat bernama Sandy. Isinya menyoal pilihannya memakai cadar, dan bagaimana sikap guru SMK kami dulu, orang tua hingga tetangga yang menurutnya tidak begitu mendukung pilihannya itu. Para tetangga mengejeknya sebagai “ninja”.

Membaca catatan itu, saya menangis. Namun alih-alih berusaha mengobrol apalagi menyentuh hatinya, saya malah berkubang dalam rasa sakit hati dan jengah akibat upaya Sandy yang rutin mengirimkan artikel dari akun dakwah di dinding Facebook saya. Salah satunya menyebut Facebook serupa dinding ratapan yang tidak layak dipergunakan umat Islam.

Sandy dan saya mulai dekat sejak awal masuk SMK di Malang, ketika kami masuk kelas yang sama. Seperti kebanyakan siswi yang berjilbab, Sandy saat itu memakai jilbab berbahan menerawang dan adem, sering disebut kerudung paris, yang mesti dilapisi kain lagi di dalamnya.

Sifatnya tertutup, bahkan misterius, dan sensitif, tapi justru membuat kami cocok. Hingga tahun terakhir di SMK, kami bersahabat dekat. Salah satu cerita yang saya ingat adalah soal mahasiswa kampus dekat sekolah yang ditaksirnya, cerita cinta yang tidak pernah tersampaikan karena ketidakpercayaan diri Sandy soal fisiknya yang bagi saya tidak masuk akal.

Di sekolah, Sandy dikenal sebagai penulis berbakat, jago merajut, menjahit, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Ia juga dipercaya menjadi wakil ketua ekstrakurikuler jurnalistik. Beberapa teman alumni yang masih berkomunikasi dengan saya terang-terangan menyatakan rasa rindunya pada Sandy. “Anak itu baik banget dulu, enak diajak berteman.” Tidak pilih-pilih teman dan merangkul semua orang. Bukankah sikap Sandy sudah sangat Islam pada praktiknya?

Selepas SMK, Sandy mengikuti kelas Bahasa Arab di sebuah universitas. Namun kelasnya berlangsung di masjid, bukan di ruang kuliah. Di Facebook, Sandy bercerita bahwa kelas tersebut membuatnya tercerahkan. Ia pun kemudian memutuskan untuk menjalani Islam dalam versi terbaik dan menggunakan cadar. Masih dalam catatannya di Facebook, Sandy menulis bahwa ia memaklumi segala sikap mantan guru, teman, orang tua hingga para tetangga yang terkesan kontra soal pilihan yang diyakininya. Namun, ia mengatakan tidak bakal bisa digoyahkan.

Saya tidak hendak menuduh kelas di masjid itu telah mengubah Sandy, si kesayangan semua orang. Bisa jadi penafsiran Sandy sendiri yang mendorongnya menjadi lebih eksklusif. Seiring bertambahnya usia, saya kemudian memahami apa yang dilakukan Sandy sesungguhnya adalah upayanya menjadi manusia yang lebih baik. Kita semua pun, sedang memperjuangkan yang terbaik bagi diri masing-masing, bukan?

Ajaran yang dipahaminya itu seperti menyelamatkannya juga dari perasaan minder terhadap fisiknya dan lawan jenis. Ia mulai mendeklarasikan diri sebagai anti-pacaran dan pro-menikah muda. Kedua hal ini tentu tidak salah, jika saja Sandy betul memilihnya bukan karena ia merasa dirinya patah. Hingga sebentar kemudian, saya mendengar dari salah seorang geng lawas kami semasa SMK, bahwa Sandy sedang dalam proses berkenalan (taaruf) dengan pemuda dari lingkaran kelasnya di masjid.

Lelaki pertama tidak jadi menikahinya dan tidak berapa lama, ada lelaki lain lagi yang menikahinya dengan proses serupa. Saya menjadi satu-satunya teman geng yang tidak diundang dalam pernikahan tersebut.

Kepada dua teman geng kami yang lain, orang tua Sandy yang begitu dekatnya dengan saya mempertanyakan kenapa saya tidak hadir. Agaknya, Sandy betul-betul terluka ketika saya yang waktu itu masih 19 tahun dan berapi-api, menegurnya keras soal artikel yang dibagikannya di dinding Facebook saya secara rutin. Kebersamaan kami yang pernah juga jadi teman sebangku dan satu ekstrakurikuler, seperti lenyap begitu saja dilalap “perjuangan agama”. Sesungguhnya, luka serupa pun saya dapat dari caranya berdakwah. Saya ingat, waktu itu saya tegur, “Temanku enggak semuanya Muslim, dakwahmu itu membuat orang sakit.”

Hingga bertahun kemudian, saya masih memantau kabar Sandy melalui lingkaran pertemanan yang tersisa. Dari salah seorang teman, saya mendapati cerita lain bagaimana proses hijrahnya Sandy. Si teman yang juga berjilbab itu mengatakan bahwa Sandy lama-kelamaan anti memakai kerudung paris yang menurutnya menerawang. Setiap pertemuan, kerudung yang ia pakai makin panjang saja dan bahkan ia menghadiahi kerudung sepanjang mata kaki kepada si teman tadi.

“Aku enggak nolak kerudungnya. Aku pakai tapi cuma waktu tidur, kan lumayan hangat, hehe,” ujarnya. 

Ternyata usaha menularkan hijrah ini dilakukan kepada semua teman satu geng, bukan hanya saya. Hanya saja teman yang dihadiahi kerudung sepanjang mata kaki itu jauh lebih adem dan bijak menghadapi Sandy daripada saya.

Tidak lama berselang, muncul lagi berita bahwa Sandy bercerai.Kalau dari versi dia, suaminya enggak gitu mau kenal sama ortu-nya. Dia mau dibawa ke Kalimantan tapi dilarang ibunya, terus suaminya mau poligami dia,” cerita teman kami yang lain lagi.

Taaruf memiliki tujuan yang baik, agar saling mengenal. Namun bukan dengan tatap muka sekali dua kali lalu menikah. Hijrah, jika betul dimaknai, tentu bukan hanya berarti berganti kostum sehari-hari. Menikah muda atau pun menikah kapan saja, semua tentu juga memiliki tujuan baik. Meski saya tidak mengetahui, apa benar teman-teman yang bercadar semua diajarkan sebegitu keras dalam beragama serupa Sandy. Atau mungkin Sandy yang menafsirkannya sendiri hingga jadi sedemikian keras?

Sejak proses hijrahnya yang tampak cepat dan setelah kabar perceraiannya, akses komunikasi dengan Sandy semakin sulit, bagi saya dan teman-teman yang lain. Pernah saya coba mengiriminya pesan di Facebook namun sepertinya tidak terbaca. Saya dan teman-teman kemudian bersepakat, agaknya Sandy membutuhkan ruang bagi dirinya sendiri. Hingga pada saatnya nanti, kami tidak perlu memaksanya mau berkomunikasi.

Yang pasti kini saya menyadari, Sandy sesungguhnya sedang berusaha menyelamatkan teman-temannya termasuk saya, dengan keyakinan Islam terbaik dalam versinya. Pun saya, yang begitu mencemaskan keyakinan Islam dalam versinya itu, hingga membalas sikap kerasnya dengan sikap keras pula. Sandy berusaha menyelamatkan saya dengan apa yang ia yakini, sebaliknya saya juga mengusahakan hal serupa. Pada titik ini yang saya rasakan adalah, jika benar saya mengaku inklusif, mengapa sikap saya tidak ada bedanya dengan Sandy yang saya tuduh eksklusif?

Dulu dan hingga kini, kami berdua saling peduli dan sesungguhnya saling menyayangi dengan cara masing-masing. Begitu bukan?

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Poppy Trisnayanti Puspitasari adalah arek Malang asli yang merupakan alumnus Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang. Sedang belajar di Pelangi Sastra Malang juga Gusdurian Malang dan Batu. Dapat disapa melalui blognya http://semangkaaaaa.blogspot.com