June 24, 2020
Berhijab Tak Berarti Kebal Pelecehan Seksual

Cici yang berhijab dan mengenakan pakaian tertutup pun menjadi korban pelecehan seksual di jalanan.

by Muhammad Muiz
Issues
Share:

Peringatan pemicu: Gambaran fisik pelecehan seksual

Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Hujan baru saja reda dan jalanan terlihat sepi. Kuliah terakhir selesai, seluruh mahasiswa mulai meninggalkan ruangan.

Terlihat dari kejauhan, “Cici”, seorang mahasiswi sedang di tempat parkir motor, bersiap untuk pulang. Ia memakai baju lengan panjang merah muda, rok panjang hitam, hijab lebar hitam menutup kepala dan dada, ditambah dengan jaket parasut, masker, dan sarung tangan. Dengan jarak rumah dengan kampus sekitar 23 kilometer, Cici terbiasa sendirian menaiki motor. Dari Blitar, ia menuju Gandusari melalui Jalan Raya Pojok Garum, dan akan melewati banyak area persawahan.

Keluar dari tempat parkir, Cici menegur salah satu temannya yang tengah nongkrong di kantin kampus yang bersebelahan dengan tempat Cici berada. Kebetulan, jalan ke rumah temannya tersebut searah dengan rumah Cici.

Enggak barengan pulangnya? jalanan sepi sehabis hujan, perasaanku enggak enak,” kata Cici kepada temannya.

“Halah, biasanya pulang sendiri berani,” jawab temannya.

Cici pun pamit, lantas bergegas meninggalkan temannya.

Ia berhenti di lampu merah pertigaan Herlingga perbatasan dengan kelurahan Pojok. Jalan sedikit basah, hari semakin malam, dan semakin sepi.  Suara kendaraan motor lain terdengar menyusul dan berhenti di belakangnya. Cici melirik kaca spion dan melihat seorang laki-laki menaiki motor bebek warna hitam, mengenakan helm full face, jaket kulit berwarna coklat, dan penutup wajah.

Ketika lampu hijau menyala, ia mempercepat laju motornya dan meneruskan perjalanan pulang. Namun sejak melewati tugu perbatasan kota, ia merasa ada kendaraan yang mengikuti di belakangnya. Cici pun mengubah kecepatan kendaraannya. Tetapi alih-alih mempercepat, ia malah memilih memperlambat laju motornya agar kendaraan di belakang bisa mendahuluinya. Tanpa diduga, kendaraan di belakangnya justru melaju semakin pelan.

Baca juga: Jangan Biarkan Korban Pelecehan Seksual Diam

Merasa curiga dengan pengendara di belakangnya, Cici kembali tancap gas, menambah kecepatan dengan harapan bisa meninggalkan kendaraan tadi. Ternyata, kendaraan itu juga menambah kecepatan, malah lebih dekat dengan Cici kali ini. Ketika Cici melirik ke samping, ia mendapati motor dan pengendara yang sama dengan yang ia lihat ketika  berhenti di pertigaan lampu merah tadi. Perasannya makin ketar ketir.

Tepat di belokan Jalan Raya Pojok di Garum, area sepi dan tidak ada lampu penerangan jalan. Tidak ada kendaraan lain yang lewat kecuali mereka berdua. Pengendara mencurigakan itu langsung memepet Cici, memaksanya berjalan pelan dan menggiringnya turun ke bahu jalan dan berhenti.

Cici langsung berteriak, “Woy, apa maksudmu?).

Si pengendara asing itu hanya diam, lalu turun dari motornya yang masih menyala dan mendekati Cici dengan mengulurkan satu tangan. Ia berbadan dua kali lebih besar dari Cici.

Merasa ketakutan, Cici pun berteriak meminta tolong sekerasnya. Namun malang, keadaan sepi betul dan tidak ada yang merespons Cici. Si pengendara asing kemudian membuka ritsleting celananya dan mengeluarkan penisnya. Kedua tangan Cici pun segera ia genggam dan kemudian, ia memaksa Cici untuk memegang penisnya. Cici semakin histeris meminta bantuan.

Saking takut dan terkejutnya, suara Cici kian menghilang. Ia tak bisa lagi berteriak dan hanya mampu menangis. Tangannya masih digenggam si pelaku pelecehan seksual dan terus dipaksa untuk memegang penisnya.

Tiba-tiba dari arah Blitar, terlihat sorot lampu sebuah kendaraan. Takut aksinya diketahui, si pelaku melepaskan tangan Cici, secepat kilat kembali ke motornya, melaju sekencang mungkin, dan menghilang masuk ke jalan-jalan kecil.

Cici masih terdiam dan menangis. Ia tidak pernah menyangka akan mengalami hal yang sama sekali tidak ingin ia ingat dan hadapi lagi selama hidupnya. Sepuluh menit berlalu, ia masih di sana, tak tahu apa yang harus dilakukannya dan masih takut untuk pulang sendiri. Semua perasaan campur aduk di batinnya, termasuk perasaan jijik pada tubuhnya sendiri.

Baca juga: Tidak Perlu Jadi Korban Agar Paham Pelecehan Seksual

Perlahan, Cici menarik napas dalam-dalam. Setelah lebih tenang, ia meraih ponselnya dan meminta bantuan teman kampusnya untuk mengantarkan dia pulang. Namun, tak ada satu pun jawaban dari temannya. Mungkin karena mereka tadi sedang berkumpul dan tidak ada yang memperhatikan ponselnya. Mau tak mau, Cici pun memberanikan diri untuk pulang.

Sampai di rumah, ia langsung menuju kamarnya dan mengunci diri. Cici langsung menelepon teman dekat perempuannya, menceritakan kronologi pengalamannya tadi diikuti isak tangis. Cici tak berani bercerita pada keluarganya karena ia takut justru akan disalahkan.

Tak ingin kejadian serupa dialami orang lain, teman Cici pun langsung menulis di akun Facebook Grup Info Cegatan Blitar, di mana setiap informasi terkini seputar Blitar bisa langsung tersampaikan. Ternyata, dari situ ia mengetahui bahwa beberapa kali kasus serupa pernah terjadi di  Jalan Raya Pojok Garum dan wilayah jalur provinsi lain di Blitar. Korbannya pun bermacam-macam, tidak peduli pakaian yang dikenakan. Ciri-ciri pelaku dan modusnya juga mirip, sementara kebanyakan korban merasa bingung, malu, dan takut untuk bicara. Tapi, ketika salah satu ada yang sudah mulai angkat bicara, yang lain jadi berani untuk bicara.

Setelah kasus pelecehan seksual semacam itu ramai dibicarakan di Facebook, para pegiat kampung kelurahan Pojok Garum mengadakan Sistem Keamanan Lingkungan (siskamling). Mereka memutuskan untuk menambah lampu penerang jalan, sementara belum ada korban yang melapor ke pihak kepolisian.

Sedangkan Cici, ia masih trauma mengingat kejadian malam sepi di jalanan yang tidak pernah ingin ia ulang kembali. Kekerasan seksual yang menimpa Cici membuktikan bahwa perempuan yang mengenakan baju tertutup pun bisa menjadi korban. Ini menguatkan survei yang dilakukan perEMPUan, Hollaback, Lentera Sintas, dan beberapa lembaga advokasi perempuan di Jakarta yang menyebutkan hal yang sama, bahwa perempuan berpakaian tertutup pun tidak luput dari kekerasan seksual.

Muhammad Muiz sehari-hari bekerja sebagai staf lapangan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), Blitar, Jawa Timur.