January 23, 2026
Lifestyle

Bismillah Avoidant: Tren TikTok yang Lucu, tapi Salah Kaprah Soal Avoidant Attachment

Bismillah Avoidant lagi viral di TikTok dan bikin banyak orang merasa relate. Tapi benarkah itu avoidant attachment? Artikel ini membedah salah kaprah, risiko self-diagnosis, dan makna relasi sehat.

  • January 23, 2026
  • 6 min read
  • 121 Views
Bismillah Avoidant: Tren TikTok yang Lucu, tapi Salah Kaprah Soal Avoidant Attachment

Belakangan, istilah “Bismillah Avoidant” ramai muncul di linimasa TikTok. Banyak pengguna membagikan pengalaman hubungan mereka lewat tangkapan layar percakapan yang terasa “dingin” dan minim respons. Chat yang cuma dibalas satu kata, lama dibalas, atau bahkan diabaikan, jadi bahan konten yang mengundang tawa sekaligus rasa relate dari penonton.

Sekilas, tren ini memang terdengar seperti candaan khas Gen Z. Tapi di balik humor itu, terselip kegelisahan yang lebih dalam: keinginan untuk membangun kedekatan emosional, tapi dibarengi kecenderungan untuk menjaga jarak ketika hubungan mulai terasa terlalu dekat atau intens. Istilah ini seolah menggambarkan tarik-ulur antara niat membuka diri dan rasa takut terhadap kedekatan.

Pola Konten yang Berulang dan Sarat Makna Satir

Dikutip dari Kaltimpost, tren Bismillah Avoidant biasanya hadir dalam format slideshow tiga bagian.

Slide pertama menampilkan teks “Bismillah Avoidant”. Lalu, slide kedua berisi screenshot percakapan WhatsApp yang menunjukkan gaya komunikasi dingin, dry text seperti “Y”, “Ok”, atau “gapapaa bebb”, slow response, sampai ghosting. Sebagai penutup, slide ketiga memuat kalimat “Wabillahi Taufiq Wal Hidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” yang berfungsi sebagai tanda tamat alias “sekian dan terima kasih”.

Rangkaian ini menjadi humor ironis yang merepresentasikan pengalaman komunikasi yang hambar, penuh jarak, dan cenderung menghindar. Baik si pembuat konten maupun pasangan chat-nya sering kali langsung dilabeli sebagai “avoidant”, seolah semua perilaku cuek otomatis masuk dalam kategori tersebut.

Baca Juga: Dilarang Umbar Mimpi di Media Sosial, Ada Penjelasan Psikologisnya

Salah Kaprah Memahami Avoidant Attachment Style

Meski menghibur, tren ini menuai kritik tajam dari sejumlah kreator dan pengguna TikTok yang memahami isu psikologi. Banyak yang menilai penggunaan istilah avoidant attachment style dalam tren ini terlalu menyederhanakan makna aslinya.

Seperti terlihat dalam berbagai video kritik, perilaku yang ditampilkan di screenshot — seperti balasan singkat, terkesan dingin, atau lama membalas pesan — belum tentu mencerminkan avoidant attachment yang sesungguhnya. Dalam psikologi, avoidant attachment adalah pola keterikatan emosional yang terbentuk dari pengalaman relasi jangka panjang, bukan sekadar kebiasaan komunikasi atau mood sesaat.

Ketika istilah ini dipakai secara asal, ada risiko menormalisasi pola komunikasi yang tidak sehat, sekaligus mengaburkan pemahaman publik tentang kesehatan mental dan dinamika relasi yang lebih kompleks. Banyak pihak mengingatkan agar publik lebih hati-hati menggunakan label psikologis, terutama ketika tren media sosial dengan cepat menyederhanakan isu yang sebenarnya serius.

Baca Juga: ‘Anxious Attachment’: Saat Kamu Insekyur Takut Ditinggal Pacar

Apa Itu Avoidant Attachment Style?

Avoidant attachment style adalah salah satu pola keterikatan emosional di mana seseorang cenderung menjaga jarak dalam hubungan yang menuntut kedekatan emosional. Dalam psikologi, istilah ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk menghindari keintiman dan kedekatan yang dalam karena ketidaknyamanan emosional yang kuat dan preferensi terhadap kemandirian serta self-reliance. Individu dengan gaya ini sering kali tampak mandiri, tenang, bahkan tidak terlalu bergantung pada orang lain—membuat mereka terlihat kuat dan “enggak ribet” di permukaan. Namun, di balik itu, ada pola bertahan yang terbentuk dari pengalaman hubungan awal mereka.

Menurut artikel Avoidant Attachment Style di Simply Psychology, orang dengan pola ini cenderung menghindari kedekatan emosional yang dalam dan hubungan interpersonal yang terlalu intim sebagai cara mereka melindungi diri sendiri secara emosional. Individu seperti ini sering memandang diri mereka sebagai independen dan cukup kuat untuk mengurus kebutuhan sendiri, serta agak skeptis terhadap keberlanjutan dukungan emosional dari orang lain.

Penjelasan serupa juga ditemukan pada artikel What is an avoidant attachment style? di Cleveland Clinic Health Essentials, yang menjelaskan bahwa avoidant attachment merupakan gaya keterikatan yang ditandai dengan ketidaknyamanan terhadap keintiman emosional, keinginan yang kuat untuk mandiri, dan kesulitan merasakan kedekatan dengan orang lain.

Secara sederhana, pola ini sering muncul sebagai mekanisme perlindungan diri seseorang yang dulunya mengalami pengalaman di mana mereka belajar bahwa mengandalkan diri sendiri terasa lebih aman dibanding membuka diri terhadap orang lain. Hal ini membuat mereka menganggap kedekatan emosional lebih sebagai risiko potensial daripada sumber kenyamanan atau keamanan.

Bagaimana Avoidant Attachment Tercermin dalam Hubungan?

Orang dengan avoidant attachment cenderung memproses emosi secara internal dan mandiri, bahkan ketika berada dalam hubungan dekat. Mereka sering kali jarang membicarakan perasaan terdalam kepada pasangan atau teman dekat—bukan karena tidak peduli, tetapi karena sejak awal mereka terbiasa menekan kebutuhan emosional untuk menghindari rasa kecewa atau takut akan penolakan. Ini berarti mereka cenderung tampak amat menjaga jarak, sulit berkomitmen secara emosional, atau merasa tidak nyaman saat pasangan menginginkan kedekatan yang lebih intens.

Dalam praktiknya, ketika hubungan mulai berkembang ke fase yang lebih intim, “alarm internal” mereka seringkali berbunyi. Reaksinya bisa bermacam-macam: menarik diri secara perlahan, sibuk dengan aktivitas lain seperti pekerjaan, mengalihkan fokus ke hal lain, atau bahkan mengakhiri hubungan secara tiba-tiba. Perilaku ini bukan berarti mereka anti-cinta atau tak mampu menjalin hubungan yang sehat—justru sebaliknya, mereka tetap butuh koneksi, kehangatan, dan rasa dimengerti, hanya saja cara mereka mendekati hubungan lebih hati-hati dan penuh jarak.

Baca Juga: Cerita Orang Aseksual Menjalin Hubungan Romantis

Mengapa Memahami Avoidant AttachmentItu Penting?

Memahami apa itu avoidant attachment membantu kita melihat perilaku menjauh dalam hubungan bukan sekadar sebagai “dingin” atau “tidak peduli”, tetapi sebagai ekspresi dari kebutuhan akan rasa aman yang belum terpenuhi. Alih-alih memberi label negatif pada diri sendiri atau orang lain, kita bisa mengembangkan empati dan membuka ruang untuk komunikasi yang lebih sehat.

Kabar baiknya, pola ini bukan sesuatu yang permanen. Dengan kesadaran diri, pengalaman relasi yang aman, dan proses belajar emosional—termasuk eksplorasi perasaan yang lebih jujur dan terbuka—seseorang dengan avoidant attachment dapat mengelola pola ini dan perlahan berubah menuju keterikatan yang lebih sehat dan penuh koneksi.

Penting untuk digarisbawahi bahwa apa yang ditampilkan dalam tren “Bismillah Avoidant” sering kali sangat berbeda dengan makna avoidant attachment style yang sebenarnya. Banyak konten viral hanya menunjukkan perilaku seperti balasan chat seadanya, lambat merespons, ghosting, atau sikap kurang sopan. Padahal, perilaku tersebut belum tentu berkaitan dengan pola keterikatan emosional, dan bisa saja mencerminkan minimnya minat, rendahnya empati, atau kebiasaan komunikasi yang kurang sehat.

Fenomena ini menjadi semacam peringatan bagi Gen Z—generasi yang akrab dengan istilah psikologi, tetapi juga rentan menyederhanakan maknanya lewat konten viral. Ketika label psikologis dipakai secara serampangan, ada risiko salah paham sekaligus menormalisasi perilaku yang sebetulnya problematis dalam relasi.

Karena itu, tren Bismillah Avoidant seharusnya mendorong kita untuk lebih kritis dalam menggunakan istilah psikologi, sekaligus berhenti melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan potongan konten di media sosial. Memahami relasi dan kesehatan emosional butuh proses yang lebih dalam, refleksi yang jujur, serta kemauan belajar dari sumber yang kredibel—bukan sekadar ikut arus tren.

About Author

Kevin Seftian

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.