Women Lead
September 10, 2021

Bosan dengan Pasangan, Perlukah Kita Lanjutkan Hubungan?

Rasa bosan berlarut-larut yang muncul setelah sekian lama berelasi kerap membuat kita dilema hendak lanjut dengan pasangan atau putus saja.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle // Madge PCR
bosan dalam hubungan
Share:

Sudah tiga tahun “Shanty” menjalin relasi dengan pasangannya. Selama itu, bisa dibilang relasi mereka berjalan baik-baik saja. Pasangannya mendukung Shanty, jarang berkonflik, dan hubungan mereka juga direstui orang tua masing-masing. Tak jarang Shanty diundang dalam acara-acara keluarga besar, bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua pasangannya.

Relasi yang dari permukaan dipandang berjalan mulus oleh banyak orang itu ternyata tidak cukup memuaskan bagi Shanty. Ketika pasangannya mengajak Shanty melangkah ke jenjang pernikahan, Shanty perlahan mundur. Ada saja alasannya untuk mengelak dari ajakan pasangannya itu, hingga akhirnya ia jujur tidak lagi menikmati berelasi dengan pasangannya itu.

“Enggak tahu kenapa, ya, ada perasaan enggak sreg aja sama dia waktu itu meskipun gue udah lama bareng sama dia. Apalagi pas dia ngajak gue buat nikah, gue ngerasa ngeri sendiri ngebayangin ngabisin sisa hidup gue sama orang yang sama,” ucap Shanty.   

Ia lanjut bercerita, selama setengah tahun sebelum akhirnya ia putus dengan pasangannya, ia merasa relasinya berjalan begitu datar. Sabtu-Minggu diisi dengan kencan yang baginya begitu monoton, sementara hari-hari biasa hanya diisi dengan saling menelepon mengabarkan hal yang itu-itu saja. Pernah sesekali pasangannya itu menginisiasi berlibur ke luar kota bersama, tetapi Shanty tidak juga merasa senang dan puas akan hal itu.

Kenapa Kita Merasakan Bosan dalam Hubungan?

Banyak orang di luar sana yang juga merasa seperti Shanty: Merasakan kejenuhan luar biasa setelah sekian lama menjalin hubungan dengan seseorang. Pada awal-awal berelasi, memang setiap orang merasakan percikan kegembiraan luar biasa saat mengingat atau berinteraksi dengan pasangannya. Ini yang dikenal dengan tahapan bulan madu dalam relasi. Para peneliti memperkirakan, perasaan seperti ini bisa berlangsung rata-rata selama enam bulan hingga dua tahun pertama relasi.

Seusai tahapan itu, biasanya pasangan memasuki tahap memiliki kelekatan awal dengan pasangannya. Ini terjadi seiring dengan semakin terbukanya kedua pihak terhadap satu sama lain sehingga mereka lebih mengenal baik-buruk pasangannya. Setelahnya, pasangan akan memasuki tahap krisis. Hal ini dapat terjadi dipicu oleh banyaknya konflik atau rasa bosan seperti yang Shanty rasakan.

Dilansir Verywellmind, jika krisis ini bisa terselesaikan, pasangan akan memasuki tahap kelekatan lebih mendalam yang bisa berlangsung lama sekali, atau bahkan sepanjang hidup. Tetapi jika tidak, ujungnya bisa seperti kisah Shanty.  

Di samping itu, ada faktor-faktor lain yang bisa memicu rasa bosan seseorang dalam berelasi. Berikut beberapa di antaranya.

1. Punya ekspektasi yang tidak terpenuhi

Jika kamu membayangkan pasanganmu akan bisa membuatmu terus kesengsem setelah bertahun-tahun pacaran, kamu akan jatuh kecewa. Kembali lagi, kamu perlu mengingat bahwa relasi itu memiliki fase-fase tertentu dan tentunya akan ada fluktuasinya. Di samping itu, kamu juga bisa kecewa jika berharap pasanganmu melakukan sesuatu atau menjadi sosok tertentu seperti pasangan idaman dalam bayanganmu, sementara realitasnya tidak demikian. Alhasil, kamu akan terus menunggu harapanmu tercapai dan sepanjang waktu tersebut, rasa bosan menanti akan tumbuh dalam hatimu.

2. Punya “bahasa cinta” berbeda dengan pasangan

Psikolog klinis Roxy Zarrabi menjelaskan dalam Psychology Today bahwa kebosanan juga bisa datang ketika kamu punya bahasa cinta berlainan dengan pasanganmu. Saat bahasa cintamu adalah lewat kontak fisik sementara dia lewat kata-kata afirmasi, kalian akan berselisih ekspektasi dan akhirnya merasa tidak terhubung satu sama lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan lewat bahasa-bahasa ini pada akhirnya membuat kamu merasa tidak dicintai dan jalan di tempat dalam berelasi. 

3. Abai terhadap diri sendiri

Dikutip dari situs konseling relasi Pivot, saat kamu melupakan tujuan hidupmu atau abai mengejar hal-hal yang menyenangkan bagi dirimu sendiri, imbasnya bisa terasa dalam relasimu. Meski tidak ada yang salah dengan pasangan maupun relasimu, kamu akan tetap merasa bosan yang tanpa kamu sadari, sumbernya adalah dari dirimu sendiri.

4. Hampir selalu menghabiskan waktu berdua saja

Relasi lama kelamaan akan terasa hambar saat kamu begitu sering melakukan kegiatan bersama pasanganmu. Sekalipun sudah berstatus pacaran atau menikah, bukan berarti seratus persen waktumu perlu dihabiskan dengan pasangan. Berhubungan dengan poin ketiga tadi, waktu untuk berfokus pada diri sendiri bisa meminimalisasi rasa bosan dalam berelasi. 

5. Tidak pernah bertengkar

Hal ini tersirat dari kisah Shanty. Di satu sisi, memang terlalu banyak konflik dan gagal terselesaikan bisa membuat relasi kandas. Namun di lain sisi, ketiadaan konflik sama sekali justru bisa membuat orang merasa tidak ada “gereget” dalam relasinya. Perbedaan pendapat yang diikuti diskusi serta sikap saling memahami dan menghargai justru penting supaya orang tidak merasa relasinya begitu-begitu saja.

6. Tidak ada upaya melakukan kegiatan di luar kebiasaan

Ini adalah hal klasik yang paling sering membuat orang cepat jenuh dalam berelasi. Kegiatan yang gampang terprediksi tanpa adanya variasi akan mematikan excitement dalam diri seseorang, mulai dari kegiatan makan, nonton, dan ngobrol bareng sampai kegiatan intim di tempat tidur.

7. Punya gaya kelekatan insecure

Jika kamu berkali-kali merasa cepat bosan dengan pasanganmu dalam relasi-relasi berbeda, bisa jadi kamu memiliki gaya kelekatan insecure. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil di mana orang tua seseorang tak hadir secara emosional untuk anaknya atau bersikap tidak konsisten dalam memberi perhatian.

Terapis pasangan dan direktur klinis A Better Life Therapy, Elizabeth Earnshaw mengatakan pada Bustle, orang yang punya gaya kelekatan seperti ini cenderung bersikap menghindar atau menarik diri saat relasinya semakin intim.

“Dalam budaya pop, orang-orang suka menyebutnya komitmen-fobik. Dalam realitas, orang yang susah berkomitmen dan merasa bosan dalam relasi-relasinya sebenarnya sedang berjuang untuk merasa aman dalam sebuah hubungan. Begitu mereka intim dengan seseorang, mereka sering kali sangat sensitif terhadap tanda cela dalam hubungan seperti kebosanan,” jelas Earnshaw.

Lanjut atau Akhiri Saja?

Saat kebosanan melanda, rasanya dilematis untuk memutuskan tetap lanjut berelasi atau tidak. Di satu sisi, kita sudah terlanjur mengenal dan terbiasa dengan satu sama lain. Namun, di lain sisi kita sadar bahwa kita tidak merasakan kebahagiaan lagi dalam relasi yang monoton itu. Kebosanan bisa saja lantas menjadi bensin yang membuat emosi kita lebih berkobar ketika suatu konflik memicu. 

Dalam menyikapi hal ini, terapis dan peneliti relasi Terri Orbuch menyarankan kita mempertimbangkan tiga hal. Dilansir Greatist, hal pertama yang Orbuch soroti adalah apakah ada kepercayaan terhadap pasangan. Ini adalah hal utama yang semestinya menjadi fondasi relasi. Kedua, apakah pasangan punya nilai hidup serupa. Perbedaan nilai yang signifikan bisa membuat seseorang berat ke pilihan putus begitu rasa bosan melanda. Ketiga, bagaimana kedua pihak menangani stres dan konflik bersama. Jika cara yang dipakai dalam menghadapi hal ini cenderung destruktif, sulit rasanya untuk mempertahankan hubungan dalam jangka lebih panjang lagi. Namun, jika untuk ketiga hal ini kita merasa jawabannya positif, kamu bisa mempertimbangkan tetap melanjutkan hubungan.

Bagaimana pun, menurut Orbuch, jika berbagai upaya sudah dilakukan, tetapi kamu masih merasa bosan, tidak bahagia, dan lelah, kita bisa mempertimbangkan mengambil jeda atau bahkan mengakhirinya. 

“Relasi idealnya tetap terasa menyenangkan dan kamu semestinya terus berkembang ketika menjalin relasi dengan pasangan. Jika dia bukanlah orang yang tepat, ingatlah bahwa di dunia ini masih banyak orang menyenangkan lainnya,” kata Orbuch. 

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop