Women Lead
September 20, 2021

Bukan Budak Kucing, Rico Lebih dari Sekadar Keluarga

Saya berutang banyak pada Rico, kucing yang sudah saya anggap sebagai keluarga. Karena itulah saya kesal jika ada pemilik peliharaan yang tak bertanggung jawab.

by Candra Aditya
Lifestyle
Share:

Saya serius ketika bilang, bisa mencintai sesuatu dengan tulus setelah mengadopsi Rico, kucing yang menjadi bintang Twitter saya (entah kenapa followers saya lebih suka nge-like foto Rico daripada foto saya). 

Sejak memelihara Rico dari gang kos lama, banyak hal yang berubah dari saya. Yang paling drastis, saya merasa jadi lebih punya empati. Sebelumnya, saya merasa sangat egois. Saya kini gampang tersentuh dan jadi lebih mudah memposisikan diri terhadap kisah orang lain. Saya enggak bisa lagi nonton film yang ada kekerasan pada binatang dengan mudah. Sebelum punya Rico, saya merasa alasan John Wick untuk membunuh penjahat hanya karena anjingnya dibunuh adalah alasan lebay (ya walaupun itu anjing juga pemberian mendiang istrinya). Setelah punya Rico, saya ikut bersemangat setiap kali John Wick menghabisi para penjahat sampai mati. 

Namun, perkara memelihara Rico tak sesederhana itu. Saya berusaha sekuat tenaga agar Rico tetap hidup, sehat, dan (mungkin) bahagia tinggal bersama saya. Karena itulah, saat melakukan doomscrolling akun base binatang di Twitter, mata saya ikutan melek hingga menulis ini. Dari sana saya sadar, ternyata banyak sekali orang di luar sana yang tidak begitu paham konsekuensi mempunyai binatang peliharaan. Tulisan berikut dimaksudkan sebagai pedoman singkat apa saja yang harus disiapkan agar kamu enggak dicap sebagai orang tak bertanggung jawab.

Hal pertama yang harus kamu siapkan untuk jadi pemilik hewan peliharaan adalah uang. Yang kedua adalah cuan. Yang ketiga adalah duit. Bukan apa-apa, memelihara binatang, seperti halnya merawat makhluk hidup, mestinya enggak bisa seenak udel kita. Walaupun mungkin enggak banyak uang harus disiapkan, tapi setidaknya hewan peliharaanmu harus dipastikan bisa hidup aman dan nyaman. Saya sendiri memasukkan anggaran khusus untuk membeli “kenyamanan” si kucing. Makanan, litter box, dan pasir adalah pos pengeluaran rutin bulanan. 

Baca juga: Apakah Kucing Anjing Bisa Terinfeksi COVID-19 dan Menulari Manusia?

Itu baru urusan papan dan sandang. Pemilik hewan peliharaan juga perlu menyiapkan ongkos ke vet untuk regular check-up, vaksin, steril, dan biaya-biaya lain jika terjadi apa-apa (percayalah, akan selalu ada apa-apa meski kamu sudah berhati-hati menjaga peliharaanmu, entah itu serangan kutu atau flu).

Saya selalu muak saat membaca akun Twitter yang seenaknya sendiri mengobati binatang peliharaan mereka dengan obat-obatan manusia, hanya karena kekurangan uang atau memang tak peduli. Kalau kamu punya binatang peliharaan, perlakukan dia seperti kamu ingin diperlakukan orang lain. Kamu enggak mau, kan kalau tertabrak sepeda dan kakimu sakit, tapi cuma diobati dengan ngasal? Kamu pasti berharap bisa segera diobati oleh orang yang sudah ahli dengan obat-obatan yang tepat? Nah, binatang peliharaan pun juga begitu. Mereka juga mau diperlakukan dengan baik.

Tapi, Can, di kota gue tuh enggak ada vet. Gimana dong?”

Ada berbagai aplikasi di mana kalian sekarang bisa konsultasi dengan dokter hewan. Kalau sudah menyangkut dengan kesehatan binatang peliharaan, jangan macam-macam. Jangan tanya sama netizen yang enggak kuliah soal kesehatan hewan. Jangan tanya sama dukun. Jangan tanya sama TikTok. Tanya mantan, apalagi, jangan. 

Rico

Komitmen Juga Penting

Hal berikutnya enggak kalah penting dalam memelihara binatang adalah komitmen.

Kedengarannya sederhana tapi realitasnya enggak demikian. Saya sendiri sering membaca tentang binatang peliharaan yang seenaknya saja ditinggal atau dibuang hanya karena sakit-sakitan, pemiliknya pembosan, atau pindah rumah. Hati saya makin remuk saat melihat hewan peliharaan itu masih berdiam di rumah bekas pemilik yang ditinggalkan, berharap tuannya kembali.

Baca juga: ‘June dan Kopi’, Cerita Hangat tentang Sahabat Setia Manusia

Kalian mungkin bisa bilang saya hiperbolis tapi sejak punya Rico, saya merasa Rico paham perasaan saya seperti apa. Binatang peliharaan walaupun enggak bisa ngomong, mereka punya perasaan. Saya sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka kalau sengaja dibuang atau ditinggal pemiliknya. 

Buat saya, punya binatang peliharaan enggak melulu soal gemes-gemesan, elus-elus terus, atau swafoto di media sosial. Ketika kamu punya binatang peliharaan, itu artinya kamu punya tanggung jawab atas mereka. Ya, sebenarnya seperti punya anggota keluarga baru saja. Kalau dia sakit, kamu mesti berkomitmen untuk menjaganya sampai sembuh. Kalau dia ternyata hobi ngompol atau buang kotoran dimana-mana, ya kamu harus melatih dia supaya lebih tertib. Saya enggak bilang ini pekerjaan remeh. Makanya, jika kamu enggak siap, lebih baik tak usah memaksakan untuk memelihara mereka.

Terakhir, kepada siapapun yang mungkin di tengah perjalanan merasa enggak siap dengan tanggung jawab memelihara binatang peliharaan, tolong jangan dibuang seenaknya. Kamu bisa mencarikan adopter baru atau menitipkan dia ke shelter ketimbang dibuang begitu saja. Selemah-lemahnya iman, kagumi saja dari jauh jika belum siap lahir batin jadi bapak/ ibu asuh hewan peliharaan.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.