Women Lead
February 25, 2021

‘June dan Kopi’, Cerita Hangat tentang Sahabat Setia Manusia

Film Netflix ‘June dan Kopi’ menyelipkan banyak pesan menarik tentang hubungan hangat manusia dengan anjing.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Culture // Screen Raves
June dan Kopi Netflix
Share:

Sebagai seorang ibu satu anak berkaki dua dan lima anak berkaki empat, saya merasa terhubung betul dengan cerita June dan Kopi, film keluarga yang ditayangkan Netflix sejak Januari 2021. Sederhana dan hangat, film berdurasi 1,5 jam ini juga membangkitkan nostalgia tentang film-film lawas yang kerap diputar setiap masa liburan tiba.

Film dengan tokoh sentral binatang peliharaan, terutama anjing, masih langka di Indonesia. June dan Kopi adalah film lokal kedua yang seperti itu, setelah Boni dan Nancy (1974), sebuah film tentang persahabatan anak kecil dengan anjing.

Saya mengapresiasi film ini karena masih banyak sekali orang yang punya stigma buruk terhadap anjing, dikaitkan dengan kepercayaan agamanya atau “mitos-mitos” seputar anjing yang membuat orang-orang ogah mendekati mereka.

Selain itu, saya juga mengapresiasi June dan Kopi karena terbayang betapa sulitnya harus mengambil gambar adegan dengan bocah berkaki empat. Untuk selfie tahunan menjelang Natal saja, saya harus susah payah memegangi kelima anjing dan anak saya supaya berpose “cukup layak” di depan kamera.

Disutradarai Novrianda Santosa, June dan Kopi mengisahkan tentang June, seekor anjing kampung (dikenal juga dengan mongrel, mixbreed) yang kemudian dipelihara oleh seorang perempuan kelas atas bernama Aya (Acha Septriasa).

Suami Aya, Ale (Ryan Delon), awalnya tidak setuju dengan keputusan Aya lantaran June adalah anjing liar yang merepotkan karena belum terlatih. Namun setelah Aya membujuknya, Ale membolehkan June tinggal di rumah mereka bersama seekor anjing lain yang sudah lebih dulu mereka pelihara, Kopi.

Cerita bergulir ke masa-masa di mana Aya dan Ale memiliki anak, Karin (Makayla Rose Hilli), dan bagaimana kehidupan keluarga kecil tersebut diwarnai oleh tingkah polah June yang manis dan setia.

Jalan cerita dan adegan-adegan yang ditampilkan dalam June dan Kopi sebetulnya mudah ditebak, apalagi jika kamu familier dengan film-film Barat soal anjing seperti Air Bud dan Marley and Me. Selain itu, di beberapa adegan saat June ditangkap orang jahat juga mengingatkan kita pada film Home Alone. Formula yang dipakai untuk film tentang anjing memang tipikal, tapi tetap saja mengundang senyum, tawa, bahkan air mata.

Baca juga: ‘Love for Sale 2’ dan Stereotip Menantu Perempuan Idaman

Film June dan Kopi Gambarkan Anjing Sahabat Setia Manusia

Sayangnya, porsi Kopi yang namanya disebut di judul tidak begitu banyak, kalaupun ada tidak digali betul. Kemudian, dialog-dialog yang disampaikan masih terasa kaku, dan ada sebagian adegan yang agak memaksa.

Tetapi, pesan di balik itu semua tetap dapat tersampaikan, misalnya tentang  bagaimana loyalnya June pada Aya dan Karin, yang menebalkan anggapan bahwa dog is a man’s best friend.

Hal menarik lainnya dari film ini adalah selipan pesan soal stigma negatif terhadap mereka. Misalnya, anjing liar itu pasti galak. Film ini menggambarkan bahwa ada latar belakang yang memengaruhi perilaku anjing.

Ketika June terlihat defensif setiap melihat anak kecil, itu karena ia kerap dikerjai dan dibenci anak-anak sebelum ditampung Aya. Seperti kata pelatih anjing terkenal Cesar Milan, anjing bisa punya trauma tersendiri yang berdampak pada perilakunya. Tapi, bukan berarti itu saklek sepanjang hidup mereka. Aya membuktikan bahwa perilaku June bisa berubah 180 derajat terhadap anak kecil, asal ada kemauan untuk memberinya kesempatan dan melatihnya. 

Pesan lain yang bisa ditangkap dari film ini adalah, anjing kampung juga pantas dipelihara. Tampilan fisik mereka mungkin tidak secakep anjing-anjing ras, tapi masalah sifat dan perilaku, sama saja, kok. Ini saya rasakan betul karena kelima anjing saya adalah anjing yang tidak jelas asal-usul rasnya, hasil adopsi atau memungut di selokan di jalan. Mereka bisa dilatih, bisa bersikap manis, bahkan berteman baik dengan anak saya yang masih berusia 1,5 tahun sejak anak saya bayi.

June dan Kopi Dorong Kampanye “Adopt, Don’t Shop”

Ada sebagian orang yang percaya, anjing harus dinomorduakan atau bahkan disingkirkan saat seseorang punya bayi. Ini enggak sepenuhnya benar atau salah.

Awalnya saya punya concern juga pertama kali pulang ke rumah setelah melahirkan. Apa anak-anak [kaki empat] nanti bakal menyerang anak saya? Apa anak saya akan bermasalah nanti dengan bulu mereka? Bagaimana kalau anjing saya kotor dan dekat-dekat anak saya nanti?

Baca juga: 'Keluarga Cemara' dan Hilangnya Peluang Tampilkan Peran Setara Suami Istri

Banyak artikel medis yang membahas tentang bayi dan anjing, plus video jenaka bayi dan anjing yang tidak susah ditemukan di YouTube. Ternyata tidak masalah mendekatkan bayi ke anjing selama diawasi. Soal bulu yang dianggap sering menyebabkan asma, itu tidak berlaku untuk semua anak.

Hal itu juga dibahas dalam June dan Kopi. Dokter anak yang menangani Karin—yang didiagnosis mengidap asma—menepis kecurigaan Ale bahwa anjing yang memicu asma Karin. Karin sudah dekat dengan anjing sejak kecil dan tidak pernah menunjukkan gejala asma sebelumnya. Baru kemudian ketahuan bahwa asma Karin kemungkinan dipengaruhi faktor genetik.

June dan Kopi juga dengan baik memperlihatkan bagaimana June mendorong Karin belajar berempati. Bagaimana Karin sangat terikat dengan Juni sampai ia ingin June ikut dibawa berlibur ke luar kota karena ia ingin June pun merasakan kebahagiaan berlibur.

Anjing-anjing dalam June dan Kopi ternyata berasal dari tempat penampungan. Ini menambah apresiasi saya pada film itu dan para pembuatnya karena membantu mengampanyekan “adopt, don’t shop”. Banyak sekali anjing-anjing yang dibuang hanya karena pemiliknya bosan atau tidak ma(mp)u memeliharanya lagi (please, jangan pelihara kalau tidak bisa konsisten), dan berakhir di jalan, di penampungan, atau bahkan di restoran, hiks.

Yang pasti, setelah menuntaskan June dan Kopi, yang saya lakukan pertama kali adalah memeluk anjing-anjing saya, sambil menyisakan tangis dari film karena membayangkan kalau satu di antara mereka pergi. Mereka bukan hanya peliharaan, apalagi objek. Mereka adalah keluarga.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop